24 October 2021, 05:10 WIB

Mahariah Sadarkan Imbas Sampah Daratan


(*/M-1) | Weekend

KETEGUHAN tekad memperjuangkan lingkungan juga ada pada diri Mahariah. Guru agama itu mengedukasi masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup tempat tinggal mereka di Kepulauan Seribu.

Kepeduliannya berasal dari keinginannya untuk mewujudkan lingkungan hijau yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Mahariah mengaku ia membutuhkan waktu sekitar setahun untuk belajar mengenai model desa konservasi. “Baru setelah itu 2007 ada penanaman mangrove. Dari situ, tumbuh kecintaan. Oh, menanam mangrove ini menarik," katanya saat menjadi bintang tamu Kick Andy.

Menurut wanita yang lahir di Pulau Panggang dan kini tinggal di Pulau Pramuka itu, krisis lingkungan di Kepulauan Seribu disebabkan sampah. "Tahun 2007, 2008 itu Jakarta banjir bandang kemudian yang terjadi di kami banjirnya banjir sampah. Mangrove yang kami tanam di 2007 itu habis (hancur) akibat sampah dari daratan Jakarta," kenang perempuan kelahiran 30 Desember 1969 ini.

Dalam aksinya menumbuhkan kesadaran masyarakat, dia sempat mendapatkan penolakan dari warga. Mahariah kerap ditolak saat mendatangi dari rumah ke rumah menawarkan edukasi memilah sampah. Ia juga kerap diprotes para orangtua murid ketika siswa-siswa pengajiannya diajari pemilahan sampah.

Setelah melihat penolakan dari orang-orang tersebut, Mahariah mulai berpikir untuk mengedukasi para orangtua dengan masuk ke majelis taklim dan membahas pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, dia menjalankan program ekowisata. Kini kegiatan itu telah berjalan 15 tahun.

Dalam ekowisata, Mahariah menggerakkan penghijauan wilayah hutan mangrove hingga pengelolaan daur ulang sampah. Hingga kini, telah ada komunitas Rumah Literasi Hijau dengan 36 relawan aktif, pendauran ulang sampah, pemanfaatan plastik yang diubah menjadi bahan bakar, wisata mangrove, dan homestay.

Dalam penanaman mangrove, dia menggunakan metode rumpun berjarak. Satu rumpun akan ditanam sekitar 550 batang. Hal itu dilakukan lantaran apabila ditanam secara terpisah,mangrove akan diseret ombak, terlebih jika adanya sampah kiriman dari daratan yang terbawa oleh ombak.

Berkat aksinya peduli terhadap lingkungan, dia mendapatkan apresiasi Kalpataru tingkat provinsi 2016 dan Kalpataru tingkat nasional 2017. Pada 2018, Pulau Pramuka mendapat anugerah Kampung Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mahariah berpesan kepada orang-orang yang tinggal di daratan, contohnya Jakarta, untuk menyadari dampak kegiatan mereka kepada warga kepulauan. "Efek terbesarnya yang dirasakan oleh orang-orang di kepulauan. Pemanasan global, ya, yang akan tenggelam kita (orang di kepulauan) dulu. Penting untuk teman-teman di darat untuk bareng-bareng kita lakukan hal-hal yang bisa lakukan karena kita berada di bumi yang sama," pungkasnya. (*/M-1)

BERITA TERKAIT