24 October 2021, 05:05 WIB

Andrew Ananda Brule Youtube untuk Perjuangkan Satwa


NIKE AMELIA SARI | Weekend

PEPATAH buah jatuh tak jauh dari pohonnya berlaku pula buat Andrew Ananda Brule. Sejurus dengan sang ayah, Aurelien Francis Brule atau akrab disapa Chanee Kalaweit, Andrew menaruh perhatian besar pada kelestarian satwa liar, khususnya primata.

Kalaweit ialah pria asal Prancis yang hijrah ke Indonesia sejak 1998 demi menyelamatkan owa (gibbon). Setahun kemudian Chanee mendirikan Yayasan Kalaweit yang kemudian menjadi organisasi rehabilitasi owa terbesar di dunia. Kalaweit diambil dari bahasa salah satu suku Dayak, yang berarti owa.

Chanee yang meraih Kick Andy Heroes 2012 menjadi WNI dan menikah dengan perempuan asli Kalimantan, Nurpradawati. Mereka telah dikaruniai dua anak lelaki, Andrew dan Enzo.

Karena memiliki ayah yang konservatoris, Andrew terbiasa bertualang di hutan dan berinteraksi dengan satwa liar sejak kecil. Bersama sang ayah, Andrew kerap kali melakukan patroli, baik dengan berjalan kaki, berperahu, maupun berkuda, di sekitar hutan Kalimantan untuk mencegah pembabatan hutan secara liar.

Sebagai gen Z yang melek dunia digital dan medsos, Andrew pun membawa perjuangan pelestarian itu ke ranah Youtube. Sejak tiga tahun lalu, Andrew membuat kanal Youtube atas namanya yang merekam berbagai kegiatannya di hutan dan seputar penyelamatan satwa dan hutan.

Salah satu kontennya, mengenai kegiatannya 24 jam di hutan sendirian, viral. Konten yang dibuat delapan bulan lalu itu telah ditonton lebih dari 7 juta kali. Di video itu, selain menunjukkan kemampuan penjelajahan hutan, Andrew mengingatkan para petualang untuk selalu menjaga lingkungan, termasuk dengan tidak meninggalkan sampah apa pun.

Saat hadir sebagai bintang tamu Kick Andy episode Bumi Rumah Kita yang tayang malam ini, Andrew mengatakan tujuannya membuat akun Youtube ialah edukasi soal satwa.

Ia miris ketika melihat sejumlah influencer yang memiliki banyak pengikut memberikan pemahaman yang salah soal satwa liar. Mereka tidak saja membuat satwa sebagai komoditas konten, tetapi juga memelihara satwa liar dan secara tidak langsung mengampanyekan perdagangan satwa.

"Fokus aku adalah lebih banyak sebagai sosialisasi ke masyarakat karena saat ini banyak sekali orang yang memelihara satwa liar di rumah. Jadi, konten-konten yang aku bikin di Youtube untuk menjelaskan bahwa satwa liar itu bukan satwa peliharaan," kata pria yang berusia 17 tahun tersebut.

Salah satu konten yang sangat membuatnya geram ialah video unboxing monyet. "Pelihara saja sudah sangat salah, apalagi mengedukasikan dengan cara seperti itu. Seharusnya sebagai pecinta satwa, kita mau mereka bahagia hidup di alam," paparnya.

Andrew bahagia ketika kontennya memberikan penyadaran soal satwa dan lingkungan. Ia mengaku ada salah satu pengikutnya di Instagram yang menuturkan soal adanya burung enggan yang jatuh ketika pengikutnya itu menebang pohon. Karena telah memiliki kesadaran soal satwa, sang pengikut itu menghubungi pusat rehabilitasi di Kalimantan sehingga burung itu dapat dirawat kemudian dilepasliarkan kembali.

 

Bahagia di tengah hutan

Meskipun tinggal di tengah hutan di Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Barito Utara, di Kalimantan Tengah, Andrew tetap merasa bahagia. Pelajar kelas tiga SMA yang menjalani homeschooling itu malah mengaku tidak ingin tinggal di kota.

Meski masih belia, Andrew telah memahami bahwa hidup dekat dengan alam membuatnya belajar makna bersahabat dengan alam guna memenuhi kebutuhan hidup. "Apalagi seperti kita di hutan, kita banyak belajar bersyukur karena kita tinggal di hutan kita, misalnya, kita cari buah di hutan, kita akan sangat senang karena hasil kita mencari di hutan dan tentu saja bersyukur karena itu ada di sekitar. Rasa kepuasannya sangat besar," ujarnya.

Kini total area konservasi yang digerakkan Yayasan Kalaweit mencapai 1.300 hektare. Konsep area konservasi itu diupayakan bersama dengan masyakat lokal pemilik lahan.

Guna mencegah masyarakat menjual lahan mereka ke perusahaan untuk dijadikan area konsesi, Yayasan Kalaweit memberikan dana kompensasi. Meski begitu, pemilik lahan tetap diperbolehkan tetap mengambil hasil alam dari lahannya selama tidak melakukan kegiatan perburuan satwa dan penebangan pohon.

Dengan begitu, masyarakat tidak kehilangan lahan seperti jika menjualnya ke perusahaan. Di sisi lain, misi konservasi menjaga hutan-hutan tersisa untuk rumah satwa pun tercapai.

Andrew mengimbau generasinya agar tidak egois memanfaatkan keberadaan satwa hanya untuk kesenangan diri sendiri. "Anak cucu kita di masa depan kelak yang akan merasakan dampaknya lebih parah daripada kita. Andai kita tidak melakukan sesuatu dari sekarang, tentu saja hidup generasi selanjutnya akan kesulitan," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT