19 October 2021, 12:12 WIB

Trisha Amanda Ardi Chas Dirikan Zeta Bags Hingga Jadi Branded Fashion Curator


Retno Hemawati | Weekend

Trisha Amanda Ardi Chas rupanya telah akrab dengan tas branded sejak ia masih kecil. Ayahnya yang notabene pengusaha Spa for Leather khusus menangani bahan kulit berkualitas dan branded fashion, menjadi awal mula ia mencintai barang-barang bermerek.

"Sejak saat itu saya jatuh cinta dan bertekad akan mengoleksi dan mengumpulkan barang tersebut dengan uang saya sendiri," ujar perempuan yang akrab disapa Trisha Chas itu.

Trisha Amanda Ardi Chas menjadikan ayahnya sebagai role model. Di matanya, sang ayah adalah sosok panutan yang bekerja keras dari zero hingga menjadi hero. Lantas ia memulai dari membantu ayahnya menjualkan branded item dari salah satu kliennya.

Dari situ lahirlah bisnis jual-beli dan titip-jual branded items yang kini telah dikenal oleh banyak orang, Zeta Bags. Kegiatan bisnis Trisha Chas lakukan dari rumah melalui media sosial, hingga ia bisa mendirikan kantor dan butik Zeta Bags di daerah elit kawasan Kemang, Jakarta.

Sejak mula berdiri tahun 2014 silam, bisnis Zeta Bags fokus pada bisnis jual-beli dan titip-jual branded items luxury seperti Hermes, Chanel, Gucci, Louis Vuitton dan Europe brands lainnya. Trisha Chas merasa bisnis yang ia lakoni ini sesuai dengan passionnya.

Dari bisnis ini pula, perempuan asal Medan itu belajar bagaimana membentuk tim kerja yang solid, satu visi dan memiliki standar prosedur serta pelayanan yang tinggi. Di samping itu, ia harus mempertahankan Zeta Bags dari kompetitor-kompetitor 'nakal' yang selalu berusaha menjatuhkan bisnisnya. Menyikapi hal itu, Trisha Chas terus melakukan evaluasi diri, beradaptasi dan bekerja secara kreatif terhadap setiap situasi. "Dengan terus memperbaiki diri, bekerja keras dengan maksud yang baik, saya yakin usaha saya akan terus berkembang," tuturnya.

Dari bisnisnya ini pula, Trisha Chas mulai mengoleksi barang-barang branded dan mulai belajar menjadi seorang Branded Fashion Curator yang mampu menganalisa dari sisi keaslian, ekonomi dan kultural dari barang-barang branded tersebut.

"Berbekal pengalaman dan pelajaran masa kecil tentang dunia bahan kulit, saya bisa menganalisa keotentikan, keaslian barang tersebut secara langsung. Juga menganalisa bagaimana barang-barang itu bisa berdampak pada kehidupan sosial ekonomi Indonesia," tuturnya.

Keahliannya itu tak ia simpan sendiri, melalui Instagram-nya @trishachas selain mempromosikan bisnisnya ia juga mengenalkan sekaligus mengedukasi barang branded mulai dari tren, model, keaslian tips hingga fashion. Hal ini ia lakukan agar followers maupun masyarakat tak mudah tertipu barang branded palsu. Dengan begitu, Trisha Chas bisa menjadi sosok entrepreneur yang bermanfaat bagi masyarakat, keluarga dan orang yang membutuhkan, sehingga membuatnya tetap bisa bertahan dari semua tantangan bisnis.

Tak hanya berbagi informasi mengenai branded item, tetapi juga berbagi kebahagiaan khususnya kepada anak-anak. Pada Desember lalu, melalui Zeta Act, Trisha Chas bersama Annisa Pohan melakukan #ZetaLiveShopping untuk kemudian 50% komisi disumbangkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di Rumah Pintar Cikeas yang dikelola oleh Yayasan Tunggadewi.

"Saya mencoba untuk berbagi kebaikan. Saya membantu anak asuh saya untuk lulus sekolah dan mendirikan masjid untuk anak asuh saya agar mereka bisa belajar dan meningkatkan taraf hidup mereka," katanya.

Di luar kesibukannya menjalankan bisnis, perempuan berusia 32 tahun itu terus mengasah pengetahuan dan belajar mengenai hal baru. Ia tetap menyempatkan diri untuk bercengkrama bersama keluarga dan teman-temannya, karena bagi Trisha mereka sangatlah penting. Ia pun kerap travelling untuk menghabiskan waktu senggang dan membebaskan diri dari rutinitas bisnis.

Seorang entrepreneur harus memiliki mimpi dan tujuan, tak terkecuali dengan Trisha Chas. Ia akan terus mengembangkan bisnisnya, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan semakin bermanfaat bagi masyarakat, agama dan negara. "Goals utama saya hanya satu, ingin jadi pengusaha sukses dunia akhirat seperti sahabat Rasulullah,Abdurrahman bin Auf. Membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan bermanfaat untuk masyarakat, agama, dan negara," jelasnya.

Trisha Chas sendiri memiliki anak-anak asuh dari Yayasan Millah Khalilullah. Sejak awal mula Zeta Bags berdiri, ia rutin mengirim donasi kepada yayasan tersebut dan sudah mendirikan masjid Al Ardi.

Setelah sukses dengan bisnis Zeta Bags, Trisha Chas mulai mengembangkan bisnisnya di bidang lain, yakni Zeta Scarves dan Santapan Indonesia. Zeta Scarves adalah bisnis retail khusus menjual dan mendesain scarf yang mengutamakan kualitas dan kenyamanan. Sementara Santapan Indonesia menjual makanan siap santap yang dimasak menggunakan bahan dan resep asli Indonesia.

"Selama menjalankan bisnis-bisnis ini, saya menyadari jika menjadi seorang entrepreneur harus bekerja secara tekun, teguh dan pantang menyerah. Itu adalah resep keberhasilan setiap entrepreneur," tutup Trisha Amanda Ardi Chas alias Trisha Chas. (OL-12)

 

BERITA TERKAIT