13 October 2021, 08:49 WIB

Science Film Festival 2021 Usung Tema Kesehatan dan Kesejahteraan


Galih Agus Saputra | Weekend

Goethe-Institut tahun ini kembali menggelar acara tahunannya yakni Science Film Festival (SFF). Acara yang ditujukan bagi siswa SD hingga SMA di 52 kabupaten/kota di Tanah Air tersebut kali ini dikemas dengan tema 'Kesehatan dan Kesejahteraan'.

Direktur Goethe-Institut Regional Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Selasa, (12/10) menjelaskan isu kesehatan dan kesejahteraan kian penting di masa kini. Menurutnya, masalah kesehatan dan kesejahteraan juga akan tetap relevan setelah pandemi berakhir.

"Sebab itulah, pembahasan isu-isu ini secara terbuka menjadi penting pada masa sekarang, dan mengapa Science Film Festival 2021 mengarahkan fokusnya kepada sains kesehatan dan kesejahteraan melalui sejumlah film internasional terpilih mengenai topik-topik tersebut dan topik-topik sains lainnya. Kemajuan dan pembangunan takkan mungkin tanpa sains,” terangnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Hilmar Farid menambahkan kesehatan dan kesejahteraan merupakan tema yang sangat relevan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Tema yang terambil dari 17 butir Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada Tujuan 3 itu, menurut Hilmar, sejatinya adalah cita-cita bersama mengenai masa depan yang lebih baik dan lestari.

"Untuk mewujudkannya, kita harus melihat kondisi dunia pada saat ini, memahami peluang perubahan, dan bertindak," imbuhnya.

Seperti tahun lalu, SFF 2021 juga akan digelar secara daring mulai 12 Oktober hingga 30 November mendatang. Sebanyak 17 film dari Afrika Selatan, Belanda, Brasil, Jerman, Portugal, dan Thailand yang telah dialihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia akan ditampilkan secara bergantian. Adapun kategori film terpilih meliputi edutainment, keluarga, ilmu pengetahuan alam, ilmu hayati dan teknologi, film pendek non-verbal dan sains.

Meski berjalan secara virtual untuk kedua kalinya, Manajer Science Film Festival Indonesia, Elizabeth Soegiharto menjelaskan antusiasme sekolah untuk berpartisipasi dalam festival tahun ini justru meningkat. Dari tahun sebelumnya yang hanya diikuti sekolah dari 24 kota kini menjadi 52 kota.

"Science Film Festival berkomitmen untuk tetap memfasilitasi akses kepada komunikasi, edukasi, dan pertukaran budaya sains secara berkualitas di masa sulit ini,” terangnya.

Sebagaimana diketahui, SFF sendiri pertama kali diluncurkan di Thailand pada 2005. Festival ini kemudian diperkenalkan dan diadakan di Indonesia pertama kali pada 2010. Seiring berjalannya waktu SFF telah diikuti ribuan orang dari berbagai negara. Khusus edisi 2020, lebih dari 800.000 penonton di 28 negara turut berpartisipasi menjadi peserta, termasuk 14.415 di antaranya dari Indonesia. (M-4)

BERITA TERKAIT