10 October 2021, 05:05 WIB

Yasonna Laoly Menjawab Desakan Mundur


NIKE AMELIA SARI | Weekend

TRAGEDI terbakarnya Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas 1 Tangerang, Banten, pada 8 September 2021 membuat Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly kembali jadi sorotan. Bukan saja karena tragedi di LP yang terus terjadi, melainkan juga peristiwa kali ini merupakan yang terburuk di Indonesia.

Hingga kini telah 49 nyawa napi melayang akibat kebakaran di LP yang kelebihan beban hingga 245% itu. Ancaman maut serupa juga mengintai di berbagai LP lain di Indonesia karena permasalahan sama yang tidak kunjung diselesaikan. Yasonna pun dituntut berbagai pihak untuk mundur dari jabatannya sebagai pertanggungjawaban.

Di sisi lain, bukan sekali ini saja Yasonna dituntut mundur. Pria yang menjadi menkum dam HAM terlama dalam sejarah RI itu (sejak 2014) tahun lalu juga didesak mundur akibat mengusulkan kebijakan untuk membebaskan napi koruptor dengan alasan mencegah penularan covid-19.

Meski begitu, berbagai desakan dan kritik tidak tampak membuat gusar pria yang selama 2004-2014 duduk di Komisi II DPR itu. Namun, benarkah Yasonna sama sekali tidak terusik oleh hal tersebut?

Jawaban akan pertanyaan tersebut ialah salah satu yang dapat Anda simak dalam Kick Andy Double Check episode Apa Dosa Yasonna? yang tayang malam ini di Metro TV. Seperti episode-episode sebelumnya, Andy F Noya tidak ragu untuk mendesak bintang tamunya menjawab pertanyaan-pertanyaan sensitif yang mencuat di publik.

Membuka episode kali ini pun Andy pun langsung melontarkan pertanyaan panas, "Setelah peristiwa LP Tangerang, desakan berbagai pihak kepada Presiden agar Anda diberhentikan, apa tanggapan Anda?" tanya Andy kepada sang menteri.

Lagi-lagi Yasonna memberikan tanggapan dengan santai dan mengatakan persoalan itu hanya suatu hal yang biasa dalam menjalankan tugas. Pria yang meraih gelar guru besar ilmu kriminologi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian pada 2019 itu memandang jabatannya memang sangat rentan mengalami berbagai kontroversi.

"Jadi, Anda menganggap permasalahan ini permasalahan yang biasa saja?" lanjut Andy. Yasonna menilai peristiwa kebkaran tersebut merupakan sebuah musibah. Meski begitu, ia menegaskan persoalan itu betul-betul diperhatikan.

Karena masih mengejar tanggapan Yasonna, Andy pun becermin pada polemik-polemik hampir mirip yang dihadapi pejabat negara di negara-negara lain. Dalam kondisi seperti itu tidak jarang sang pejabat, termasuk menteri, akan mundur dengan sendirinya sebagai bentuk pertanggungjawaban diri, terlebih dalam peristiwa yang mengakibatkan banyak korban.

Dengan percaya diri Yasonna memandang polemik yang dialaminya terjadi karena hanya satu sudut pandang yang digunakan banyak pihak. Ia menilai pihak-pihak itu hanya melihat kekurangan yang masih ada dalam kinerjanya. Sementara itu, prestasi yang sudah dicapai kurang diperhitungkan.

"Hanya melihat dari snapshot-snapshot tertentu dari apa yang kita lakukan. Kalau dari apa pencapaian-pencapaian, yang telah kita lakukan juga ada," papar pria yang juga politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.

Terkait dengan persoalan kelebihan beban LP, Yasonna menjelaskan persoalan itu memang tidak mudah diselesaikan. Pasalnya, solusi bergantung pada kemampuan negara dalam menambah kapasitas LP. Jawaban selengkapnya dari Yasonna dapat Anda simak dalam tayangan pukul 19.05 WIB.

 

Perjalanan

Karier Yasonna di bidang hukum dimulai pada 1978 dengan bekerja sebagai pengacara selepas lulus dari Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara (USU). Sejak itu kariernya terus moncer.

Meski begitu, Yasonna mengungkapkan pada awalnya sang ayah menginginkan profesi yang sama sekali berbeda dari yang ia jalani sekarang. Sang ayah yang berlatar belakang mayor polisi dan sempat menjadi anggota DPRD Tapanuli Tengah dari Fraksi ABRI itu menginginkan Yasonna menjadi pendeta.

Yasonna yang merupakan sulung dari enam bersaudara mengaku sempat tertarik karena mengetahui banyak pendeta yang bisa bersekolah ke luar negeri. Yasonna yang kala itu masih duduk di kelas satu SMA pun mempersiapkan diri dengan mengikuti kursus bahasa Inggris sistem jarak jauh dari sebuah lembaga kursus di Bandung.

Namun, takdir kemudian berkata lain. Menjelang tamat SMA, pria kelahiran Sorkam, Tapanuli Tengah, itu berkunjung ke rumah keluarganya yang ada di Medan. Seorang kakak sepupunya kurang setuju dengan rencana Yasonna menjadi pendeta.

Demi mengubah pandangannya, Yasonna pun diajak berjalan-jalan ke Kampus USU hingga rencana masa depannya langsung berubah. Sepulangnya ke Sibolga, Yasonna segera memberi tahu sang ayah tentang keinginannya belajar hukum.

"Saya pulang, saya beri tahu ayah saya. Pak, saya tidak mau jadi pendeta lagi. Waduh, marah besar dia. Tapi ibu saya akhirnya menenangkan," ujarnya.

Pilihan Yasonna terbukti membuahkan kesuksesan. Setelah menjadi pengacara, ia menjadi Pembantu Dekan Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen (UHN) pada 1980-1983 kemudian menjadi dekan fakultas hukum di universitas yang sama. Ia kemudian menjadi peneliti di North Carolina State University (NCSU) pada 1992-1994. Karier elite politiknya dimulai pada 2000 dengan menjadi pengurus PDIP Sumatra Utara.

Dalam perjalanan hidupnya, Yasonna mengungkapkan sosok istrinya sangat berperan. Sang istri, Elisye Widya Ketaren, yang mendampingi Yasonna sejak 1978 dan memberinya empat anak, meninggal Juni lalu. "We fight together. Saya merawatnya di rumah sakit. Saya baru sadari bahwa dia ingin saya di sampingnya," kenang Yasonna. (M-1)

BERITA TERKAIT