03 October 2021, 05:15 WIB

Khanza Vinaa Rumah bagi Transgender Muda


(*/M-1) | Weekend

MENGAMBIL langkah menjadi transpuan di usia muda bukanlah soal mudah. Terlebih ketika tidak ada dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Meski begitu, Khanza Vinaa dapat menjadi transpuan muda yang percaya diri. Pada 2018 atau di usia 25 tahun, Vinaa –panggilan akrabnya--juga didapuk menjadi Ketua Sanggar Waria Remaja (Swara).

Menjadi bintang tamu Kick Andy yang tayang malam ini di Metro TV, transpuan itu meng­ungkapkan perjalanan hidup yang jauh dari mulus. Lahir dan besar di Bengkulu, Sumatra Selatan, Vinaa sudah akrab dengan perundungan sejak kecil akibat perilakunya yang feminin.

Vinaa yang pernah menjadi korban pelecehan kakak kelasnya sama sekali tidak mendapat dukungan dari keluarga. Bahkan sang ayah kerap menyalahkannya meski Vinaa sesungguhnya merupakan korban.

Tidak tahan dengan perlakuan murid-murid di sekolah Vinaa memutuskan berhenti dan be­kerja di salon. Pada usia 17 tahun, ia akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta menyusul seorang teman transpuannya.

Di Ibu Kota, anak keempat dari lima bersaudara harus bertahan hidup sebagai pekerja seks komersial di Taman Lawang. “Dulu, aku gak tau apa itu Taman Lawang. Aku kira itu cuma kayak taman aja. Ternyata Taman Lawang itu taman di kompleks, tempat prostitusi untuk teman-teman trans,” ujarnya di Kick Andy.

Saat bekerja di Taman Lawang, Vinaa bertemu dengan para anggota Sanggar Swara, organisasi yang berfokus pada pemberdayaan dan hak-hak transgender perempuan. “Orga­nisasi datang untuk sosialisasi tentang kesehatan lalu aku mikir kok menarik ya mereka, kok enak ya mereka ada aktivitas lain,” ucap Vinaa yang pada 2016 mewakili Forum LGBTIQ (LGBT Intersexual Queer) Indonesia menerima penghargaan Tasrif Award atau penghargaan kebebasan berekspresi dari Aliansi Jurnalis Independen.

Sanggar tersebut juga mengadakan program Trans-School yang dikemas untuk para transgender muda dalam memahami hak, SOGIE (sexual orientation and gender identity) atau identitas gender, HIV/AIDS, dan juga penerimaan diri. Tertarik dengan organisasi tersebut, Vinaa pun bergabung. Ia merasa bahwa organisasi layaknya rumah yang mempertemukannya dengan banyak orang senasib.

Berkat keaktifannya, Vinaa dipercaya berbagai peran, mulai petugas lapangan, prog­ram manager, hingga terpilih sebagai ketua. Pengetahuan Vinaa soal perjuangan hak makin luas. Hingga kini sekitar 250 transpuan di Jabodetabek yang tergabung dalam Sanggar Swara.

Aktif berorganisasi, Vinaa pun kembali meneruskan minatnya pada pendidikan. Kini dia telah menjadi mahasiswa baru ju­rusan hukum.

Saat pandemi, Sanggar Swara melakukan penggalangan dana untuk membantu sesama transgender, khususnya transpuan yang terdampak covid-19. Pada penggalangan dana pertama, mereka mengumpulkan Rp300 juta rupiah dan dibagikan kepada transgender diberbagai provinsi di Indonesia. Vinaa percaya bahwa para transgender mempunyai kemampuan dan mampu berkompetisi jika diberikan akses untuk berkembang dan diberikan kesempatan yang sama dan setara untuk mereka. (*/M-1)

BERITA TERKAIT