03 October 2021, 05:05 WIB

Shinta Ratri Perjuangkan Hak Beribadah bagi Transpuan


Nike Amelia Sari | Weekend

MESKI berada di gang sempit, Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fatah di Banguntapan, Bantul, DIY, menarik perhatian bahkan hingga luar negeri. Berdiri sejak 2008, ponpes tersebut menaungi santri waria atau transpuan.

Pendirinya juga seorang transpuan bernama Shinta Ratri.

Hadir sebagai bintang tamu Kick Andy bertajuk Jingga di Antara Hitam dan Putih yang tayang hari ini, Shinta menjelaskan awal mula pendirian ponpes itu berkat dukungan Kiai Hamroli dan rekan transpuan bernama Mariani. Kiai Hamroli yang pada 2006 diundang Shinta untuk memimpin doa bagi para transpuan yang meninggal akibat gempa Jogja, melihat adanya ketertarikan para waria dengan kegiatan religius.

“Pak Kiai Hamroli melihat kawan-kawan waria beraktivitas di bidang agama lalu mengajak kami pengajian, belajar agama, belajar membaca Alquran hingga salat berjemaah,” lanjut Shinta yang bernama lahir Tri Santoso Nugroho ini.

Shinta yang pada 2000 mendirikan sanggar seni dan budaya waria menyambut ajakan itu. Sebab, sarjana biologi Universitas Gadjah Mada ini memang telah lama merasakan jika para transpuan sulit mendapatkan hak beribadah di ruang publik.

Hingga kini, Ponpes Al Fatah memiliki sekitar 62 santri. Mereka diberikan kebebasan untuk mengenakan pakaian ibadah yang nyaman, mukena atau pun sarung. Dalam salat berjemaah, imam salat kerap merupakan ustaz atau para relawan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Dalam keseharian, para santri juga di­ajarkan keterampilan memasak, kerajin­an tangan, juga terapi kesehatan mental. Ponpes ini juga membuka diri bagi orang-orang dari latar belakang agama berbeda untuk ikut serta dalam kegiatan di luar keagamaan.

Meski menjalankan kegiatan positif, ponpes itu tetap mendapat stigma buruk, terbukti dengan adanya penggerudukan pada 2016. Selama empat bulan ponpes ditutup, Shinta dan rekan-rekannya menggalang dukungan dari berbagai lembaga mulai dari Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) hingga Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Berkat dukungan itu, Shinta memberanikan diri untuk membuka ponpes kembali hingga saat ini.

“Harapan saya, kami manusia yang punya hak untuk beribadah, banyak yang bilang ibadahnya waria itu tidak diterima, itu seperti kemudian menyepelekan apa yang ada di diri kami. Kami ini juga manusia yang punya hak seperti warga negara lain, hak berkumpul, belajar sampai beribadah,” imbuh transpuan berusia 59 tahun itu.

Dengan keteguhannya dalam memperjuangkan hak transpuan, pada 2019, Shinta dianugerahi penghargaan sebagai pembela HAM dari Front Line Defenders yang berbasis di Irlandia. Di masa pandemi ini Shinta menjabat ketua Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO) berupaya menolong para transpuan yang terdampak dengan memberikan tempat tinggal di ponpes.

Mereka menggalangan dana baik dari individu maupun lembaga yang datang dari dalam dan luar negeri. “Kegiatan di pandemi, membagi sembako untuk kami dan juga masyarakat sekitar, program bantuan bayar kost, dapur umum yang membuat makanan siap hidang untuk kawan-kawan yang isoman dan membutuhkan,” papar delegasi perwakilan transpuan Indonesia dalam undangan forum internasional ini.

Penerimaan keluarga

Berkaca dari pengalamannya, Shinta yang berasal dari keluarga peng­rajin di Kotagede mengatakan penerimaan keluarga amat penting kualitas hidup transpuan selanjutnya.

Shinta telah berperilaku feminin sejak sebelum sekolah TK dan, atas penerimaan keluarga, mulai memakai pakaian perempuan setelah tamat SMA. “Ketika saya lulus SMA, secara resmi saya ditanya kedua orangtua, apakah saya akan seperti ini, saya bilang bahwa saya tidak pernah berdoa untuk jadi waria kemudian mereka sadar karena di dalam keluarga kami tumbuh bersama,” kenang Shinta.

Saat ini demi membantu transpuan yang menjadi korban perundungan dan tidak diterima oleh keluarga, Shinta menjalankan program Waria Crisis Centre. Selain untuk menolong kondisi sosial dan kesehatan para transpuan, program itu juga bertujuan untuk menghubungkan kembali waria dengan keluarganya. (M-1)

BERITA TERKAIT