25 September 2021, 01:05 WIB

Perkenalan yang Menginspirasi Komika Sakdiyah Ma'ruf


Fathurrozak | Weekend

Tumbuh di lingkungan keluarga Arab Hadhrami di Pekalongan, membuat komika Sakdiyah Ma’ruf sudah mengakrabi sastra arab sejak kecil. 

Semasa Madrasah Ibtidaiyah (MI), setara SD, salah satu guru Sakdiyah adalah Zainah Audah, yang kala itu mengajar bahasa arab. Zainah adalah kerabat dari Ali Audah, yang merupakan penerjemah berbagai karya berbahasa arab. Secara tidak langsung, hal itu juga memengaruhi kehidupan lain Sakdiyah di luar panggung komika. Ia juga merupakan penerjemah.

“Berkenalan dengan bahasa arab sejak kecil, meski ya sekarang sudah lupa ya. Tapi melalui guru saya itu, yang merupakan kerabat dari tokoh penerjemahan Indonesia, itu berpengaruh buat saya. Di rumah, mama saya juga penulis puisi dan sempat ikut tonil. Kemudian banyak perkenalan saya pada karya-karya Hamka yang banyak terpengaruh sastra arab-melayu,” terang Sakdiyah, Jumat, (24/9).

Selain berkenalan dengan sastra dari beberapa karya Hamka, Sakdiyah juga dikenalkan pada seni teater dan film oleh ibunya. Di situlah ia kemudian mengenal sosok Amak Baldjun, aktor yang besar di teater lalu layar perak.

“Saya kira ini yang disebut oleh banyak orang, representation matters. Saya bisa melihat, oh iya ada keturunan arab yang sedemikian berbakat di bidang seni seperti Amak Baldjun. Di lingkungan saya dibesarkan, orang keturunan arab pilihannya ya apakah ulama atau pedagang. Dan berkenalan dengan tokoh Amak Baldjun buat saya melihat ada tokoh bangsa di dunia keaktoran yang luar biasa. Dan itu jadi inspirasi luar biasa bagi saya,” tambahnya.

Terbaru, Sakdiyah bakal tampil di Bintang-Bintang di Bawah Langit Jakarta pada Sabtu, (25/9), yang merupakan salah satu program dalam Literature and Ideas Festival (LIFEs) 2021, festival sastra rutinan Komunitas Salihara, yang pada tahun ini mengambil tajuk Arab Asyiq. Dalam sesi itu, Sakdiyah akan menampilkan komedinya berjudul Lahir Perempuan dan Lain-lain. 

“Pemikiran di balik karya tersebut adalah dari refleksi lahir dan besar tidak hanya sebagai perempuan, tetapi juga perempuan yang membawa identitas tertentu. Bagaimana merefleksikan sebagai yang tumbuh di komunitas Arab Hadrami di Pekalongan, dan apa yang saya rasakan dan dialogkan ketika sudah berpindah secara fisik dan geografis,” kata Sakdiyah. (M-2) 

BERITA TERKAIT