18 September 2021, 06:30 WIB

Meraih Bahagia tanpa Melakukan Apa-Apa


Putri Rosmalia | Weekend

DI era teknologi dan mobilisasi masyarakat yang serbacepat saat ini, bersantai kerap dianggap sebagai kegiatan yang tak elok. Khususnya di kota-kota besar yang pergerakan masyarakatnya sangat cepat bersantai dengan tidak melakukan apa-apa tak jarang digolongkan sebagai perilaku tak produktif yang cenderung merugikan.

Padahal, di tengah rutinitas kehidupan yang sangat padat, memberi jeda bagi diri sendiri untuk berdiam diri tanpa melakukan dan memikirkan apa-apa bisa sangat bermanfaat. Setidaknya itu yang dirasakan Olga Mecking, penulis dan ibu rumah tangga yang tinggal di Belanda.

Dalam buku karangannya yang berjudul Niksen, Rahasia Hidup Bahagia tanpa Melakukan Apa-Apa, Mecking mencoba menggali lebih jauh tentang Niksen. Niksen dalam bahasa Belanda berarti tidak melakukan apa-apa. Niksen disebutkan penulis sebagai rahasia hidup bahagia ala warga tradisional Belanda.

Pada bagian awal buku, penulis membagikan pengalamannya yang berhasil mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya yang sibuk. Meluangkan waktu sejenak untuk melakukan niksen dengan tujuan memberi jeda bagi tubuh dan pikiran telah ia lakukan setidaknya selama 10 tahun terakhir sejak ia tinggal di Belanda.

Sebagai warga asli Polandia yang menghabiskan sebagian besar hidup di Jerman, pindah ke Belanda menimbulkan kesan tersendiri bagi penulis. Sejak ia pindah Belanda, ia menemukan hal menarik yang selalu dilakukan sebagian besar warga Belanda setiap hari, yakni niksen.

Hadir sebagai warga pendatang membuat penulis lebih memperhatikan kebiasaan warga Belanda. Niksen merupakan salah satu hal yang tak jarang tidak disadari warga Belanda sebagai hal penting yang selalu mereka lakukan dan berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaannya.

‘Disadari ataupun tidak, masyarakat Belanda sudah pasti telah menciptakan kondisi ideal sehingga orang-orang di sini bisa merengkuh niksen secara lebih mudah jika dibandingkan dengan orang-orang di banyak kultur dan negara lain. Menurut pendapat saya, Belanda adalah tempat yang pas untuk niksen’, halaman xv.

Setiap bab dalam buku ini berisikan berbagai aspek yang terkait dengan niksen. Filosofi di baliknya, pro-kontra masyarakat Belanda dan dunia tentang konsep niksen, manfaat melakukan niksen, hingga cara efektif melakukan niksen yang bagi banyak orang bukan hal yang mudah dilakukan.

Pada bab pertama, penulis akan mengajak pembaca berkenalan lebih dalam tentang apa itu niksen dan seni di baliknya. Dengan menyertakan beberapa contoh, penulis mencoba menjelaskan dengan lebih gamblang kegiatan apa saja yang dapat tergolong sebagai niksen dan yang bukan.

Untuk melengkapi referensi dan pemahaman pembaca tentang niksen, dalam buku ini penulis juga memberi ilustrasi beberapa kegiatan yang serupa dengan niksen di berbagai negara selain Belanda, dari kebiasaan serupa di Italia, Mediterania, hingga ritual Sabat yang dilakukan penganut Yahudi.

‘Lakukan saja bilamana Anda bisa. Dan, jangan khawatir kalaupun menurut Anda sangat sulit atau tidak mungkin, atau hanya mungkin sebentar sekali. Coba saja dulu dan cari tahu apakah cocok untuk Anda. Dan, ingatlah, niksen barang beberapa menit saja sudah cukup’, halaman 21.

Pada bab-bab selanjutnya, penulis mencoba mengulas tentang kebiasaan dan gaya hidup warga Belanda, dari pola asuh anak, kebiasaan anak muda, orang tua, hingga perempuan Belanda yang dalam beberapa studi disebutkan sebagai warga perempuan paling bahagia di dunia.

‘Di Belanda tiada ekspektasi untuk tampil sempurna. Perempuan berbusana demi kenyamanan dan kepraktisan alih-alih untuk memukau orang yang melihat. Dan dalam balutan celana jeans serta sepatu olahraga, mereka blak-blakan dan lugas dalam berbicara, pribadi mereka kuat karena terberdayakan’, halaman 49.

Penulis juga menyertakan beberapa contoh dan alasan mengapa warga Belanda selalu masuk jajaran warga negara paling bahagia di dunia, termasuk mengapa Belanda sangat cocok untuk mempraktikkan niksen.

Meski sudah menjadi kultur yang tanpa disadari sudah sangat melekat, dalam buku ini penulis juga menyertakan fakta bahwa tak semua warga Belanda setuju dengan niksen. Ada pula yang ternyata merasa kesulitan mempraktikkan niksen di tengah rutinitasnya.

‘Sejumlah orang Belanda menyampaikan pada saya bahwa mereka lazimnya tak mempraktikkan niksen. Saya berargumen bahwa itu pilihan mereka. Mereka tinggal di negara yang membolehkan mereka untuk mempraktikkan niksen tanpa sungkan-sungkan jika mereka mau. Belanda merupakan tempat yang sempurna untuk tidak melakukan apa-apa. Kultur Belanda lazimnya mengandung karakteristik yang memfasilitasi niksen, antara lain keterbukaan dan kebebasan bergerak serta berekspresi’, halaman 60.

Pada bab enam, penulis menyebutkan meski bisa sangat bermanfaat, tidak semua orang akan bisa melakukan dan berhasil meresapi niksen. Penulis membagikan kiat bagi orang-orang yang hingga saat ini merasa tidak pernah cocok atau berhasil mempraktikkan niksen di kesehariannya.

Penulis juga membagikan pengalamannya berusaha lebih dalam mengenali diri sendiri. Dengan begitu, setiap orang akan tahu kapan mereka harus rehat dengan melakukan niksen atau melakukan hal lain yang akan bermanfaat untuk kembali mengisi tenaga dan energi positif di tubuhnya.

‘Anda akan melihat dalam situasi apa saja niksen tidak cocok dan apa saja kira-kira penggantinya. Misalkan, jika Anda menderita depresi, mungkin lebih baik Anda berkonsentrasi untuk bangkit pelan-pelan dan minta bantuan dari tenaga ahli, bukan mempraktikkan niksen’, halaman 171.

Pada bagian akhir buku, penulis menyertakan beberapa kiat dan contoh niksen yang bisa dilakukan dalam berbagai waktu dan tempat. Kiat-kiat niksen tersebut dijabarkan secara detail untuk memudahkan pembaca mempraktikkan niksen dengan maksimal.

‘Pada saat tidak bekerja atau mebereskan tugas rumah tangga, cobalah bersantai dengan duduk diam, kalaupun cuma beberapa menit, sebelum Anda beranjak untuk mengerjakan yang lain-lain lagi’, halaman 195.

Disertakan pula beberapa kiat melakukan niksen dari warga Belanda yang dihimpun penulis selama proses menulis buku ini berjalan, baik yang biasa mereka lakukan di tengah kesibukan di rumah maupun di tempat bekerja.

‘Mempraktikkan niksen berarti tidak bekerja, tidak mencurahkan waktu dan tenaga untuk kerja emosional, juga tidak melakukan praktik-praktik berkesadaran penuh. Walau demikian, mempraktikkan niksen bukan berarti kita egois, bermalas-malasan, atau bosan. Sebaliknya, dengan mempraktikkan niksen, kita mungkin saja justru memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Niksen bukan berselancar di Facebook, menonton Netflix, atau memeriksa surel. Anda mungkin saja menyebutnya ‘tidak sedang apa-apa’, padahal bukan demikian’, halaman 191.

Bagi pembaca yang tertarik untuk bisa mempraktikkan jeda bagi diri, buku ini dapat menjadi referensi. Berbagai kiat dan contoh cara melakukan niksen yang maksimal disebutkan dengan menyertakan pengalaman pribadi penulis dalam melakukannya.

Selayaknya buku nonfiksi tentang referensi gaya hidup dan perilaku, buku ini lebih banyak diisi dengan opini penulis ketika mempraktikkannya. Namun, selain cerita pengalaman pribadi penulis, pembaca juga akan disuguhkan fakta-fakta dan opini para ahli perihal aspek-aspek terkait dengan niksen. Banyak pendapat terhimpun, baik dari warga asli Belanda, pendatang yang tinggal di Belanda, maupun para peneliti.

Studi dari berbagai disiplin ilmu disertakan penulis sebagai pendukung argumennya tentang niksen. Meski begitu, studi-studi tersebut lebih banyak mengungkap aspek-aspek pendukung niksen, bukan yang membahas tentang niksen secara spesifik.

Menggunakan gaya bahasa santai nan lugas, buku ini tidak akan sulit untuk bisa dipahami dan diresapi para pembacanya. Namun, meski berguna dalam memperkaya referensi, banyaknya pendapat ahli dan studi yang disertakan sebagai pendukung kegunaan niksen dalam buku ini mungkin akan akan membuat pembaca butuh lebih banyak energi ketika membacanya.

 

BERITA TERKAIT