17 September 2021, 22:22 WIB

Sonata Mozart ini Diklaim Bermanfaat bagi Penyandang Epilepsi


Nike Amelia Sari | Weekend

Salah satu sonata karya komposer Mozart diklaim dapat menenangkan aktivitas otak penyandang epilepsi berkat melodi yang menciptakan rasa terkejut. Klaim itu menurut sebuah penelitian baru yang telah diterbitkan Kamis lalu. Sonata ialah istilah musik yang diperuntukkan untuk karya musik instrumental.

Musik Mozart merupakan musik klasik yang diciptakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart. Sebelumnya, musik Mozart juga disebut mampu meningkatkan kemampuan otak jika didengarkan secara berkala. 

Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada  2010 menemukan bahwa Mozart Effect disinyalir mampu merangsang kreativitas di otak dengan mendengarkan musik atau alunan nada relaksasi jenis lainnya. Seperti contohnya, Anda dapat merasakan Mozart Effect dengan mendengarkan karya Schubert, komposer klasik ternama lainnya. Efek positif didapatkan saat Anda senang mendengarkannya.

Penelitian terbaru juga menemukan manfaat dari musik Mozart dengan temuan jika otak para penyandang epilepsi akan tenang saat mendengarkan musik jenis ini.

Epilepsi merupakan kelainan pada sistem saraf pusat yang ditandai dengan kejang. Seseorang dikatakan epilepsi jika mengalami kejang selama dua atau lebih kejang dalam sehari tanpa penyebab jelas.

Penelitian terhadap 16 pasien epilepsi yang dirawat di rumah sakit yang tidak merespons pengobatan telah meningkatkan harapan bahwa musik klasik dapat digunakan untuk perawatan non-invasif baru.

"Mimpi utama kami adalah untuk mendefinisikan genre musik 'anti-epilepsi' dan menggunakan musik untuk meningkatkan kehidupan mereka yang menderita epilepsi," kata Robert Quon dari Dartmouth College yang ikut menulis penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports, seperti dikutip dari sciencealert.com.

Sonata Mozart for Two Pianos di D Major K448 dikenal karena efeknya pada kognisi dan aktivitas otak lainnya, tetapi para peneliti masih berusaha memahami alasannya. 

Dalam studi ini, para ilmuwan memainkan karya tersebut untuk pasien yang dilengkapi dengan sensor implan otak untuk memantau terjadinya IED--peristiwa otak singkat namun berbahaya yang diderita oleh penderita epilepsi di antara kejang.

Tim menemukan IED menurun setelah 30 detik mendengarkan, dengan efek signifikan di bagian otak yang terkait dengan emosi. Ketika tim membandingkan respons tersebut, mereka menemukan efeknya meningkat selama transisi antara frasa musik yang lebih panjang yang berlangsung 10 detik atau lebih.

Quon mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa frasa yang lebih panjang dapat menciptakan rasa antisipasi dan kemudian menjawabnya dengan cara yang tidak terduga yang menciptakan respons emosional yang positif.

Apa yang disebut 'efek Mozart' telah menjadi subjek penelitian sejak para ilmuwan pada 1993 mengklaim bahwa orang yang mendengarkan K448 selama 10 menit menunjukkan peningkatan keterampilan penalaran spasial.

Penelitian selanjutnya telah menguji efek K448 pada berbagai fungsi dan gangguan otak, termasuk epilepsi. Tetapi penulis mengatakan ini adalah yang pertama untuk memecah pengamatan berdasarkan struktur lagu, yang mereka gambarkan sebagai yang diatur oleh tema melodi yang kontras, masing-masing dengan harmoni yang mendasarinya sendiri.

Seperti penelitian sebelumnya, pasien tidak menunjukkan perubahan aktivitas otak saat terkena rangsangan pendengaran lain atau musik yang bukan K448 bahkan yang berasal dari genre musik pilihan mereka.

Para pasien dalam penelitian ini mendengarkan 90 detik karya Wagner yang ditandai dengan perubahan harmoni tetapi tidak ada melodi yang dapat dikenali.

Mendengarkan Wagner tidak menghasilkan efek menenangkan, membuat para peneliti menganggap melodi sama pentingnya di K448. Studi ini mencatat pengujian lebih lanjut dapat menggunakan potongan musik lain yang dipilih dengan cermat untuk perbandingan dalam menentukan komponen terapeutik sonata. (M-2) 

BERITA TERKAIT