17 September 2021, 21:34 WIB

Solidaritas dalam Puisi Siti Rejeki


Fathurrozak | Weekend

MALAM, lembur, hujan, dingin, covid, mager, lapar.

berilah kami rejeki pada hari ini. saya pesan makanan lewat ojol.

bang ojol bilang siap.
bang, kok lama?

Di atas adalah nukilan sajak yang ditulis penyair Joko Pinurbo (Jokpin) di tengah masa pandemi. Puisi itu dibacakan sastrawan asal Yogya saat ia mengisi salah satu program Festival Bantu Teman, (15/9). Festival yang diinisiasi para penulis dan penerbit untuk menggalang dana dan akan disalurkan ke sejawat yang bekerja di dunia perbukuan yang tengah mengalami situasi sulit.

Di tengah situasi krisis pandemi, Jokpin masih tetap menulis sajak-sajaknya, dalam gayanya yang khas; humor, nyeleneh, getir, dan bermain-main dengan kata keseharian.

Sajak Siti Rejeki, berkisah tentang seorang bernama Siti yang kelaparan dan memesan makanan via ojek daring. Tapi, karena makanan tersebut tak kunjung sampai, Siti pun bertanya ke abang Ojol (ojek online). Dan ternyata, makanan tersebut dimakan oleh si abang ojol karena ia belum mendapat orderan seharian dan sama-sama tengah kelaparan seperti Siti.

Tapi, meski si abang ojol memakan makanan pesanan Siti, Siti justru tidak marah dan malah memberinya bintang lima, rating sempurna untuk si pengendara. Dalam menulis sajak itu, Jokpin seperti menemukan pembelokan narasi seperti ketika ia menulis sajak Penumpang Terakhir (2002), yang menceritakan penumpang berganti posisi dengan tukang becak untuk mengayuh pedal.

“(Saya) menemukan tikungan narasinya itu ketika makanan dipesan oleh orang yang lapar, dimakan oleh orang yang lapar, Jadi ada dua orang lapar. Satu, laparnya lebih fundamental dibanding yang memesan. Sementara satunya masih punya daya modal uang untuk mengatasi kelaparan, sementara si ojol gak punya daya kalau tidak dibantu oleh orang baik,” kata Jokpin.

Sebagai penyusun cerita, tentu Jokpin punya berbagai kemungkinan pilihan cerita lain. Bisa saja si pemesan makanan marah dan mengumpat si tukang ojol. Tapi, dalam puisi tersebut, Jokpin malah membuat Siti mengucapkan terima kasih ke si tukang ojol dan memberikan rating sempurna atas pelayanannya.

“Si ojol tadi jujur karena dia kelaparan. Sangat susah, orang yang menderita itu belum tentu jujur. Si pemesan makanan bersolidaritas pada si ojol dalam kondisi yang tidak ideal. Orang lapar menolong orang yang lebih lapar,” kata penulis buku Perjamuan Khong Guan tersebut.

Bagi Jokpin, dalam bersolidaritas tidak harus menunggu untuk berkecukupan. Menurutnya, indahnya bersolidaritas dalam kondisi yang sama berat, pada satu titik mana ada situasi yang lebih kritis.

“Puisi  ini (Siti Rejeki) ingin bicara solidaritas tanpa ada jargon atau petuah pesan solidaritas.” (M-2) 

BERITA TERKAIT