15 September 2021, 06:10 WIB

Ilmuwan Berencana Hidupkan Kembali Gajah Purba


Galih Agus Saputra | Weekend

Sejumlah ilmuwan dari perusahaan biosains dan genetika asal Amerika Serikat (AS), Colossal, saat ini dikabarkan telah berhasil mengumpulkan dana sebesar US$15 juta (sekitar Rp 214 miliar). Dana tersebut rencananya digunakan untuk menghidupkan kembali gajah purba atau mamut.

Sebagaimana dilansir dari Dailymail, Selasa, (14/9), Colossal mengklaim spesies dari zaman Pleistosen itu dapat bangkit dari kepunahan dalam enam tahun ke depan. Caranya ialah dengan menyilangkan DNA purba mamut dengan gajah Asia.

George Church, ilmuwan dari Harvard Medical School yang merintis Colossal bersama Pengusaha Teknologi, Ben Lamm mengatakan proyeknya bertujuan untuk membuat gajah tahan dingin dan berperilaku seperti mamut.

"Bukannya kami mencoba menipu siapa pun, tetapi kami menginginkan sesuatu yang secara fungsional setara dengan mamut," tuturnya.

Spesies hibrida yang dikembangkan, lanjut Chruch, diperkirakan dapat bertahan hingga suhu -40 °C. Dalam suhu tersebut, mereka dapat menjalankan segala aktivitas yang biasa dilakukan gajah dan mamut di Arktik.

"Tujuan kami bukan hanya untuk membawa kembali mamut, tetapi untuk membawa kembali kawanan kawin silang yang berhasil dilepasliarkan kembali ke wilayah Arktik," imbuh Lamm.

Menurut Chruch dan Lamm, mamut sendiri dulunya pernah hidup di sebagian besar wilayah Eropa, Amerika Utara, dan Asia Utara. Mamalia ikonik ini diperkirakan jumlahnya menyusut drastis sekitar 10.000 tahun silam. Mahluk yang dapat dapat tumbuh hingga 6 ton itu kemudian diperkirakan punah akibat pemanasan iklim dan perburuan nenek moyang manusia.
 
Sementara kali ini, Chruch dan Lamm mula-mula akan mengurutkan genom mamut yang sebelumnya telah terawetkan dengan baik dalam tanah beku (ibun) abadi. Salah satu contoh mamut yang terawetkan secara alami dalam tanah jenis ini ialah Yuka, mamut berusia enam hingga delapan tahun yang ditemukan di Siberia pada 2010 silam.

Materi genetik mamut kemudian dimasukan dalam sel induk Gajah Asia, menggunakan alat rekayasa genetik CRISPR-Cas9. Materi itu dirangsang menjadi embrio hingga akhirnya dibawa ke dalam rahim ibu gajah pengganti.

Meski begitu, langkah ini juga mengundang skeptisisme dari sejumlah ilmuwan, salah satunya, Pakar Biologi Evolusi, Victoria Herridge. Menurutnya, skala eksperimen kali ini terlampau luas.

"Anda berbicara tentang mamut yang membutuhkan waktu 22 bulan untuk hamil dan 30 tahun untuk tumbuh hingga dewasa. Menambahkan hibrida gajah-mamut ini ke dalam suatu persamaan juga dapat membawa konsekuensi yang tidak terduga," tegasnya. 9(M-4)

BERITA TERKAIT