01 September 2021, 13:25 WIB

God Bless, Simbol Musik Keras Indonesia


Fathurrozak | Weekend

Semalam (Selasa 31/8), band legendaris God Bless melangsungkan konser sebagai perayaan usia ke-48. Kelompok musik yang kini digawangi Ahmad Albar, Donny Fattah, Ian Antono, Abadi Soesman, serta Fajar Satritama itu tampil dengan sejumlah musisi muda dan lintas generasi.

Usia God Bless yang nyaris lima dasawarsa itu juga menandai durasi kebersamaan yang terbilang cukup panjang, tidak hanya untuk ukuran kelompok musik di dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Jelang konser, mereka menerima penghargaan langsung dari Presiden Joko Widodo pada Jumat (28/8) di Istana Negara. Negarawan berusia 60 tahun itu memang dikenal sebagai sosok yang menggemari musik keras. Ia bahkan beberapa kali terlihat datang ke konser/festival musik keras. God Bless menjadi salah satu band yang turut didengarkannya semasa muda.

Arsiparis dan juga pengamat musik David Tarigan melihat wajar saja jika God Bless diberi penghargaan oleh Presiden. Menurutnya itu sebagai apresiasi dari pemerintah terhadap seni dan budaya. Terutama musik populer Indonesia, spesifiknya rock.

“Tidak bisa dimungkiri, presiden saat ini ialah penggemar musik rock. Dan ya ini juga waktu yang paling pas (memberi penghargaan) ketika mereka berulang tahun ke-48. Wujud eksistensi dan kiprahnya yang lama, dan bertahan sampai sekarang. Kemampuan yang tidak dimiliki banyak grup,” terang David saat dihubungi Media Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (31/8).

David tidak menampik, bahwa secara kritik, musik God Bless tidak begitu ‘genuine’ karena comot sana-sini. Namun, ia melihat sumbangsih besar mereka ialah meletakkan cetak biru musik keras Indonesia.

David mengungkapkan, banyak kelompok musik keras yang lahir sepantaran God Bress, era 1970-an. Tetapi, ketika masuk dapur rekaman dan menggarap album, banyak yang terdistraksi oleh kepentingan pemodal dan pemilik label demi ikuti selera pasar.

“Yang lain itu dulu begitu masuk dapur rekaman, dua lagu rock, 10-nya lagu cemen. Jadi album pertama God Bless itu bukti idealisme juga. Mereka berhasil rilis rock beneran.”

“God Bless itu bisa dibilang jadi epitome hard rock Indonesia. Yang bikin blue printnya, enggak hanya musik, tetapi juga citra,  gaya pakaian, penampilan di panggung, jadi satu paket besar. Ide hard rock Indonesia pada awal keberadaannya itu, mereka yang bikin,” terang David.

David juga menganalisis, persona God Bless juga mampu menyatukan berbagai kelas di Indonesia. Ketika pada masa itu banyak anak muda urban enggan mendengarkan musik Indonesia karena dianggap kampungan, God Bless mampu membalikkan anggapan itu dengan musik mereka.

“Sebelum akhirnya ada impak dari LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja oleh Radio Prambors), Chrisye, dan Fariz RM, God Bless menjadi salah satu yang pertama yang berhasil merajut/mempersatukan berbagai kelas. Anak muda mau mendengarkan musik Indonesia.” (M-2)

BERITA TERKAIT