30 August 2021, 15:10 WIB

Meteorit Jadi Material Alternatif untuk Cincin Kawin


Budi Ernanto | Weekend

SELAIN emas, banyak material yang bisa digunakan untuk membuat cincin. Menurut produsen perhiasan Nine Worlds, material alternatif cukup digandrungi saat ini.

Dengan berbagai alasan, mereka yang ingin memiliki cincin, khususnya cincin kawin, tidak lagi menginginkan emas sebagai material utamanya.

Nine Worlds pun mencoba mempelopori berbagai bahan yang tak umum dan sebelumnya tidak ada di Indonesia. Salah satunya Tungsten Carbide, yang berasal dari bahan baja terkeras untuk perhiasan.

Bahan tersebut memiliki keunggulan antilecet, antikarat, dananti korosi. Selain itu ada Zirconia, merupakan cincin yang dipadatkan dari jutaan kristal yang dilebur menjadi satu, menjadikan cincin sangat ringan, tidak akan berubah warna selamanya dan tidak bisa lecet. Contohnya bisa dilihat di akun @nineworlds.jewelry di Instagram atau di toko fisik yang ada di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur.

“Kami berupaya menyediakan cincin yang bisa dipakai semua kalangan, bersifat halal dan memiliki durabilitas yang sangat baik untuk dipakai seumur hidup,” Ujar owner Nine Worlds Jimmy Primadi dalam keterangan resminya, Senin (30/8).

Baca juga: Tara Basro Pamer Cincin Kawin

Semenjak meningkatnya angka pernikahan pada masa pandemi covid-19 di Tanah Air, Jimmy mengatakan pihaknya berinovasi dengan material cincin yang berasal dari luar angkasa. Cincin Meteorite (meteorit) asli, berasal dari pecahan meteor di luar angkasa yang berhasil menembus lapisan atmosfer dan jatuh ke Bumi sejak zaman purbalaka.

Obyek angkasa tersebut pertama kali ditemukan manusia keberadaannya pada 1838. Jenis meteorite yang digunakan adalah Gibeon Meteorite. Jenis meteorite tersebut hanya bisa ditemukan pada Namibia, Afrika.

Kandungan besi yang tinggi menjadi keunikan tersendiri dan juga sebagai faktor paling mudah untuk membedakan dengan meteorite palsu. Corak garis dari meteorite yang berasal dari kikisan saat masuk ke permukaan Bumi juga sangat unik dan menjadi indikator keaslian.

“Antusiasme konsumen sangat baik, kami berupaya mengejar waktu produksi yang lebih cepat agar bisa memenuhi seluruh pesanan. Kendalanya ada pada kelangkaan dan tingkat kesulitan produksi,” ungkap Jimmy. (R-3)

BERITA TERKAIT