22 August 2021, 05:00 WIB

Mengenal Jalur Rempah


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend

BEBERAPA hari lalu, kita baru saja memperingati Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selama ini, masyarakat biasanya antusias merayakan momen ini dengan berbagai lomba, seperti balap karung, tarik tambang, atau makan kerupuk. Jarang, misalnya, yang menggelar lomba membuat mpon-mpon, salah satu jenis minuman yang terbuat dari rempah-rempah, seperti jahe, kunyit, dan temulawak. Apalagi, di masa pandemi ini, minuman tersebut sedang tren di masyarakat.

Dari lomba semacam inilah (meracik mpon-mpon, tentunya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan), saya kira, kita sekaligus juga bisa mengenalkan sejarah perjalanan bangsa kepada masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Bukankah dulu gara-gara komoditas ini para tuan besar Eropa dari Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda berdatangan sepanjang abad ke-15 dan 17 ke Nusantara. Dari yang semula niatnya berdagang, mereka lantas tergiur mengeksploitasi negeri ini hingga melahirkan kolonialisme dan sejumlah wilayah jajahan.

Dulu, nenek moyang kita tidak tahu komoditas ini harganya bisa berkali-kali lipat di Eropa. Willard A Hanna, peneliti yang juga pernah bekerja di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, dalam bukunya tentang Kepulauan Banda, Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala (diterbitkan Gramedia untuk Yayasan Obor, 1983), menyebut komoditas rempah, seperti pala, funi, cengkeh, yang diangkut dari pulau itu, harganya bisa melonjak 100 kali lipat tiap kali mereka singgah di pelabuhan-pelabuhan Eropa hingga Romawi. Portugis dan Belanda bahkan sampai harus mendirikan benteng dan loji di wilayah yang kini kita kenal sebagai Maluku tersebut.

Selain sisi negatif yang eksploitatif di bidang ekonomi, jejak jalur perdagangan ini turut membentuk peradaban di Nusantara, mulai dari busana, kesenian, kuliner, hingga arsitektur. Kesenian Keroncong Tugu di pesisir utara Jakarta, kue klapertaart di Sulawesi Utara, Benteng de Victoria di Ambon, misalnya, merupakan sebagian contoh dari artefak sejarah yang bertebaran di sepanjang jalur perdagangan rempah ini. Artinya, asimilasi budaya di Indonesia tidak terjadi begitu saja. Kehadiran para saudagar mancanegara itu juga berperan terhadap perkembangan budaya yang masih bisa kita lihat dan rasakan jejaknya hingga hari ini dari Malaka hingga Tidore.

Bayangkan, dari komoditas yang terlihat sepele dan sering menghuni sudut dapur dan pasar-pasar tradisional yang kumuh dan becek, sebuah peradaban tercipta dan mengubah peta geopolitik dunia. Sadarkah generasi muda kita tentang hal ini? Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, kini tengah giat menyosialisasikan tentang jalur rempah ini kepada kalangan milenial, lewat berbagai diskusi, seminar, dan ekspedisi penelusuran .

Upaya itu memang perlu agar mereka tidak buta asal-usul sejarah bangsanya, agar mereka memiliki sense of belonging dan kebanggaan akan kekayaan negerinya. Jika Tiongkok punya proyek ambisius bernilai ratusan triliun bernama One Belt Initiative untuk menghidupkan lagi kejayaan perdagangan mereka di masa lampau melalui ‘jalur sutra’, kita cukuplah mengenalkan lagi rute ‘jalur rempah’ ini, terutama ke kalangan muda. Kalau perlu, sejak dini. Jangan mereka disuruh lomba makan kerupuk melulu sehingga tidak bisa membedakan mana jahe, mana lengkuas. Merdeka!

BERITA TERKAIT