09 August 2021, 15:25 WIB

Galnas Luncurkan Proyek Jangka Panjang Bersama Lembaga Internasional


Galih Agus Saputra | Weekend

GALERI Nasional Indonesia (Galnas) bersama Goethe-Institut, MAIIAM Contemporary Art Museum, Nationalgalerie – Staatliche Museen zu Berlin dan Singapore Art Museum meluncurkan proyek jangka panjang sebagai ruang pertukaran gagasan, wacana, dan karya. Proyek itu bertajuk 'Collecting Entanglements and Embodied Histories' yang mana dibagi empat babak di Chiang Mai, Singapura, Berlin dan Jakarta.

Pameran tersebut dikurasi sejumlah kurator kenamaan, seperti Anna-Catharina Gebbers, Grace Samboh, Gridthiya Gaweewong dan June Yap. Masing kurator juga akan mengangkat kekhasan kisah di balik koleksi maupun karya-karya dari keempat lembaga yang terlibat.

Rangkaian acara 'Collecting Entanglements and Embodied Histories' yang akan berlangsung hingga Maret 2022, sudah dapat disimak. Penikmat seni dapat mengikuti program publik bulanan yang diampu oleh para kurator dan disiarkan secara daring di Youtube dan Facebook Galnas, setiap Kamis terakhir dalam sebulan.

Adapun babak pertama pameran 'Collecting Entanglements and Embodied Histories' dimulai dengan tema Errata, di MAIIAM Contemporary Art Museum, Chiang Mai, mulai 30 Juli hingga 1 November mendatang. Pameran ini menyajikan hampir 100 karya dari 38 perupa dan 4 arsip.

Setelahnya, ada The Gift yang diadakan Singapore Art Museum mulai 20 Agustus hingga 7 November 2021. Adapun Nation, Narration, Narcosis, Hamburger Bahnhof yang diadakan Museum für Gegenwart, Berlin berlangsung 4 November 2021 hingga 3 Juli 2022. 

Sesi ini mencoba mengeksplorasi hubungan di antara bentuk-bentuk seni yang kritis, khususnya seni rupa pertunjukan, seni media berbasis waktu, dan instalasi protes politik, trauma sejarah, dan kisah-kisah sosial.

Galnas mendapat giliran menggelar babak keempat pameran 'Collecting Entanglements and Embodied Histories'. Pameran yang dimulai pada 28 Januari hingga 28 Februari 2022 itu, dikemas dengan tajuk 'Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak'.

Grace Samboh, dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Kamis (4/8), menjelaskan jika Galnas selama ini telah menjadi rumah bagi lebih dari 1898 karya seni modern dan kontemporer. Pada umumnya, Galnas mewadahi pameran eksternal dan menjalankan program yang diprakarsai oleh  Direktorat Seni dan Budaya.

"Baru dalam tujuh tahun terakhir Galnas mulai memasang koleksinya dalam galeri permanen. Minat saya sebagai kurator sederhana saja. Saya ingin memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada. Saya ingin melihat bagaimana negara menyapa masyarakat serta pekerja seni sembari menghidupkan koleksi mereka melalui ajang pameran, seminar dan peragaan koleksi," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT