01 August 2021, 15:30 WIB

Mengapa Suara Orang Mengunyah Terdengar Menyebalkan?


Galih Agus Saputra | Weekend

PERNAHKAH Anda merasa sebal ketika mendengar suara orang mengunyah saat makanan atau merasa tidak nyaman mendengar suara kapur bergesekan dengan permukaan papan tulis?

Kondisi demikian seklias memang terdengar seperti reaksi berlebihan. Akan tetapi, hal seperti itu ternyata juga dialami banyak orang seperti yang terlihat dalam sebuah survei, yang dilakukan perusahaan elektronik, Curry's PC World awal tahun ini.

Perusahaan tersebut menyurvei kurang lebih 3.001 responden di Inggris. Hasil yang diperoleh menunjukan, suara orang mengunyah ternyata dibenci oleh 55% responden perempuan, dan dianggap menjengkelkan oleh 43% responden laki-laki.

Lantas, bagaimana kondisi itu bisa dialami seseorang? Lembaga Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menyebut kondisi tersebut sebagai Misophonia. Kondisi itu berbeda dengan fonofobia, atau gejala gangguan suara lain, yang sama halnya dapat membuat seseorang menjadi cemas.

“Individu dengan Misophonia mengalami reaksi emosional dan perilaku yang intens terhadap suara-suara tertentu yang berhubungan dengan makan, mengendus, bernapas, menyeruput, bersendawa, dan beberapa suara buatan manusia yang berulang, yang dikenal sebagai suara pemicu (trigger sounds),” tutur Pakar Rehabilitasi Misophonia, Hashir Aazh, seperti dilansir The Independent, Minggu, (1/8).

Sekelompok ilmuwan dari Universitas Newcastle pernah mencoba membandingkan hasil pemindaian otak orang normal dengan mereka yang menderita Misophonia. Orang yang mengalami Misophonia ternyata memiliki hubungan 'superpeka' di beberapa bagian otaknya, khususnya pada korteks pendengaran dan area kontrol motorik yang berhubungan dengan wajah, mulut, dan tenggorokan.

Ilmuwan yang memimpin penelitian tersebut, Sukhbinder Kumar mengatakan hubungan 'superpeka' turut mengaktifkan komponen yang kemudian disebut 'sistem cermin'. Sistem itu membantu seseorang memproses gerakan yang dibuat oleh orang lain, dan kemudian mengaktifkan otaknya sendiri dengan cara yang sama.

“Kami sempat berpikir aktivasi berlebihan pada orang Misophonia itu tidak disengaja atau di luar kendali mereka yang mengalaminya. Tapi, menariknya, beberapa orang ternyata juga dapat mengurangi gejalanya dengan meniru tindakan orang yang menghasilkan suara pemicu," terangnya.

Terapi khusus

Upaya meniru tindakan yang menghasilkan suara pemicu, lanjut Kumar, lantas disebut sebagai cara pemulihan atau kontrol. Pengetahuan ini sangat berguna dalam sesi terapi, yang baru-baru ini khusus dikembangkan untuk pengidap Misophonia.

Meski hingga saat ini belum ada obat untuk mengatasi Misophonia, Aazh mengatakan para spesialis biasa mengatasinya dengan terapi khusus yang dikenal dengan terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioural therapy (CBT). Terapi itu diyakini dapat membantu individu meminimalkan stres yang disebabkan reaksi awal terhadap suara pemicu.

Olana Tansley-Hancock dari Ashford, Kent, Inggris mengaku mendapat sedikit kelegaan dari CBT. Terapi itu juga dirasa membawa sedikit perubahan pada gaya hidup. Bermeditasi, mengurangi asupan kafein, maupun alkohol adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari terapi tersebut.

"Dan saya selalu siap, jadi saya selalu membawa penutup telinga dalam perjalanan sehingga saya dapat menonton film. Atau meminta headphone ketika di bioskop sehingga menghalau suara orang berdesir dan makan. Langkah-langkah ini telah membantu saya mengelola dan memahami kondisi saya dengan lebih baik,” pungkasnya. (M-4)

BERITA TERKAIT