01 August 2021, 08:45 WIB

Tanpa


Meirisa Isnaeni Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend

BOROS tak hanya tentang perilaku belanja, penggunaan barang, atau menghambur-hamburkan uang. Para pewarta atau penulis juga sering melakukan pemborosan. Tentunya boros dalam menggunakan kata-kata. Kita sering kali menggunakan kata-kata yang sifatnya mubazir atau berlebihan. Padahal, tanpa menggunakan katakata tersebut pun makna yang disampaikan sudah sesuai dan tidak berubah.

Pemborosan bahasa ini tanpa disadari sering terjadi dan sering kita gunakan dalam komunikasi seharihari. Pengulangan pemboros an bahasa yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan itu secara tidak sadar telah membuat penutur bahasa Indonesia terperangkap pada ketidakefektifan dalam berbahasa. Padahal, penuturan yang luas karena banyak kata yang mubazir biasanya lemah dan kabur. Pada akhirnya kalimat yang digunakan menjadi sangat tidak efektif dan boros makna.

Coba kita perhatikan kata atau frasa berikut ini. Jika pakai kata seperti, harusnya tanpa dan lain-lain, pakai jika tanpa maka, pakai merupakan tanpa adalah, pakai hanya tanpa saja, pakai walaupun tanpa namun, pakai masuk tanpa ke dalam, pakai naik tanpa ke atas, pakai turun tanpa ke bawah, pakai agar tanpa supaya, pakai mulai atau sejak tanpa dari, pakai misalnya atau contoh tanpa seperti, pakai maju tanpa ke depan, pakai mundur tanpa ke belakang, pakai dan tanpa juga, pakai antara lain tanpa dan seterusnya, pakai sangat atau amat tanpa sekali, dan pakai saling tanpa satu sama lain.

Berikut ini contoh kalimat tidak efektif. ‘Masyarakat harus tetap menerapkan dan menjalankan protokol kesehatan agar supaya penyebaran dan penularan covid-19 dapat diatasi’. Kata agar dan supaya tidak dapat digunakan bersamaan karena keduanya bersinonim atau mengandung makna yang sama, yakni kata peng hubung untuk menandai tujuan atau harapan.

Contoh lainnya pada kalimat, ‘Mereka diminta guru maju ke depan kelas’. Pemborosan kata pada kalimat tersebut ialah penggunaan dua kata yang bersinonim sekaligus. Maju berarti mendesak ke depan; berjalan/bergerak ke muka. Kalimat tersebut dapat diubah menjadi ‘Mereka diminta guru ke depan kelas’ karena maju otomatis mengarah ke depan.

Selain itu pada kalimat, ‘Kobe Bryant Mendua, Cinta AC Milan dan juga Barcelona’, dan dan juga dalam konteks kalimat itu bermakna sama, yakni sama-sama kata penghubung. Jadi, sebaiknya hapus dan atau juga. Gunakan salah satu saja.

Ada juga kalimat tidak efektif seperti ‘Para mahasiswa-mahasisiwi sedang melakukan aksi mogok di depan Gedung DPR’. Pada kalimat itu ditemukan penjamakan kata mahasiswa-mahasiswi di samping kata para yang juga berarti jamak. Kalimat dapat diubah menjadi ‘Para mahasiswa sedang melakukan aksi mogok di depan Gedung DPR’ atau ‘Mahasiswa-mahasiswi sedang melakukan aksi mogok di depan Gedung DPR’. Penjamakan tidak efektif juga terdapat pada kata semua teman-teman, banyak anak-anak, berbagai faktor-faktor, dan daftar nama-nama. Itu bisa diganti dengan semua teman atau teman-teman, banyak anak atau anak-anak, berbagai faktor atau faktor-faktor, dan daftar nama atau nama-nama.

Insan pers mesti berhati-hati dalam menulis atau menyampaikan informasi, termasuk cermat dalam memilih kata. Ingat, salah satu prinsip bahasa jurnalistik ialah hemat kata (economy of word). Tanpa kata-kata boros, bahasamu bagus.

BERITA TERKAIT