01 August 2021, 04:25 WIB

Eko Yuli Irawan Daerah Harus Lebih Berperan


Putri Rosmalia | Weekend

RAIHAN perak di cabor angkat besi kelas 61 kg putra Olimpiade Tokyo 2020 membuat Eko Yuli Irawan mencetak sejarah baru bagi Indonesia. Dengan total empat medali, ia menjadi atlet Indonesia peraih medali terbanyak di Olimpiade.

Prestasi pria berusia 32 tahun itu juga semakin mengibarkan taring cabor angkat besi kita di ajang Olimpiade. Kali pertama masuk kontingen Indonesia pada Olimpiade Sydney 2000 hingga kini cabor angkat besi tidak pernah absen menyumbangkan medali meski belum pernah pula meraih emas di ajang olahraga tertinggi itu.
Sebagai salah satu atlet Indonesia terbaik, bagaimana Eko memandang hal itu? Bagaimana pula semestinya perbaikan sistem pembinaan atlet dari cabor yang, sayangnya, hingga kini masih kurang populer di masyarakat itu? Berikut jawabannya dalam wawancara Media Indonesia, melalui sambungan telepon, Selasa, (27/7).

Bagaimana rasanya menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih empat medali di Olimpiade?


Tentu saja bersyukur, tetapi saya belum puas. Mungkin bagi yang lain dapat medali di Olimpiade sudah luar biasa. Namun, kalau saya karena mungkin cita-cita sejak dulu juga dapat medali emas di Olimpiade, jadi tetap ada sedikit masih kurang puas meski tetap sangat bersyukur. Sekarang kalau mau kejar emas lagi di Olimpiade berikutnya juga masih harus tunggu empat tahun lagi. Jadi lebih berat karena usia juga.

Apa rencana selanjutnya setelah dari Olimpiade Tokyo dan mengingat usia tadi, apa ada rencana menjadi pelatih?


Selanjutnya, akan kembali fokus berlatih mempersiapkan kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Tahun depan kan juga kemungkinan sudah akan mulai Asian Games dan SEA Games dan juga kualifikasi Olimpiade 2024 sudah akan dimulai tahun depan. Jadi akan fokus ke situ sambil juga membantu membimbing junior-junior di angkat besi yang juga saat ini sudah mulai terlihat prestasinya.
Soal jadi pelatih, iya pasti ada rencana itu karena setidaknya mau bantu menciptakan dan mencari bibit-bibit baru. Meski sekarang sudah berjalan regerasinya, kan semakin banyak yang membimbing tentu semakin baik juga ke depannya. Sekarang juga saya sudah mulai membimbing rekan-rekan junior di angkat besi juga. Sudah mulai banyak yang berprestasi, seperti Windy Cantika dan Rizky Juliansyah.

Angkat besi selalu sumbang medali, tapi belum pernah emas di Olimpiade, bagaimana agar bisa naik level?


Kalau membicarakan prestasi, sebenarnya tidak bisa hanya dilihat dari peraihan medali dari Olimpiade saja. Karena kejuaraan yang berupa single event sebenarnya lebih banyak, tapi memang exposure-nya tak seperti Olimpiade. Sebenarnya kami lebih banyak bertanding di sing­le event seperti kejuaraan dunia.
Soal Olimpiade sebenarnya persiapannya sudah baik dan semakin lancar, khususnya sejak tahun 2018 sampai sekarang. Semua persiapannya sudah baik, lancar, dan matang. Baik sejak persiapan hingga pascakegiatan.
Mungkin yang harus ditingkatkan ialah sistem seleksi atletnya. Selama ini seleksinya masih belum rutin. Padahal, itu harusnya bisa dilakukan sistem degradasi berkala. Misalnya, setiap empat bulan seleksi degradasi. Jadi, setiap daerah bisa mengirim wakilnya untuk mencoba di waktu-waktu yang telah disediakan itu. Jadi benar-benar atlet yang lolos itu yang sudah tersaring dengan ketat.
Kadang terlalu terpaku dengan yang ada di Pelatnas, kalau tiba-tiba ada rising star baru dari daerah jadi tak terlacak. Padahal, siapa tahu dia lebih baik atau setidaknya bisa diberi kesempatan dulu gabung dan dipantau di Pelatnas. Maka mau tak mau, atlet yang sudah ada terus bersaing dengan ketat, tak kendur latihan dan persiapannya.
Lalu untuk meningkatkan juara tentu harus dimulai dari sistem perek­rutan dan pembinaan di tingkat daerah hingga pusat. Kalau tidak ada pembinaan yang maksimal dan berkelanjutan, akan sulit menciptakan sosok atlet baru yang bisa bersaing di skala internasional.

Memang bagaimana sistem perek­rutan atlet selama ini?


Masih terpusat pada beberapa daerah saja. Memang setidaknya sejak 2016 sudah mulai ada kemajuan, tidak hanya di Lampung, tapi juga Jawa Barat dan Banten. Cabor yang kurang populer itu tidak bisa dimungkiri lebih banyak yang muncul dari sistem perekrutan pihak swasta. Pemerintah daerahnya tidak tahu apa-apa tahu-tahu ada nama atlet dari daerahnya yang berhasil meraih prestasi. Jadi belum berperan maksimal pemerintah di perekrutan ini.
Daerah harusnya bisa lebih berperan dalam mencari bibit baru atlet-atlet. Mungkin mereka bisa melibatkan para atlet senior yang berasal dari daerah asalnya untuk mencari dengan lebih detail dan mendalam.

Bagaimana soal pembinaan?


Ini paling krusial, tapi banyak sekali diabaikan. Ibaratnya bagaimana bisa menciptakan atlet yang berprestasi internasional kalau dari pembinaannya saja tidak maksimal dukungannya. Tidak semua daerah punya komitmen yang sama, apalagi untuk jenis olahraga yang kurang populer seperti angkat besi. Pembinaan itu harus dilakukan konsisten dan juga merata di seluruh Indonesia. Seperti olahraga angkat besi ini untuk pembinaan selain latihan juga harus diperhatikan stamina dan power-nya, jadi asupan nutrisinya juga harus diurusi. Selama ini, hal itu belum berjalan maksimal.
Malah tak jarang pelatih di daerah-daerah yang belum cukup dukungan pendanaan, harus pakai dana pribadi untuk support para atletnya agar tidak kendur latihan dan semangatnya. Jadi mau tidak mau untuk bersaing ke tingkat nasional apalagi internasional tentu sangat berat. Kalau pembinaan terus seperti itu, belum maksimal didukung daerah, akan mentok di level nasional saja atau SEA Games.

Bagaimana Anda melihat perkembangan olahraga angkat besi di Indonesia?


Memang untuk cabang olahraga (cabor) yang kurang populer seperti angkat besi ini butuh usaha lebih keras untuk bisa lebih maju dan teperhatikan. Untuk di tingkatan pusat memang sudah ada perbaikan secara umum setidaknya sejak 2018. Hanya untuk di tingkatan daerah rasanya masih berat karena memang mayoritas daerah di Indonesia belum terlalu memperhatikan.

Menurut Anda, apa kendala terbesar perkembangan cabor ini di masyarakat?


Yang paling besar, salah satunya soal tempat latihan atau gymnya. Bahkan di DKI Jakarta saja tempat gor angkat besi hanya ada di Ragunan. Itu kan sulit jadinya kalau mau latihan. Apalagi di daerah lain yang tak semaju DKI pasti lebih sulit. Memang ada beberapa daerah yang sudah tersedia di hampir semua kabupaten dan kotanya, seperti Jawa Barat, tapi rasanya yang lain belum ada yang seperti Jawa Barat.

Bagaimana dari minat kalangan anak muda?


Seiring perkembangan sistem informasi, masyarakat sudah mulai lebih mengapresiasi. Ibaratnya kalau dulu orang sama sekali tak peduli, sekarang tiap pertandingan sudah mulai ada yang nonton kami bertanding. Hanya untuk meningkatkan minat untuk bibit baru harus dilakukan secara komprehesif. Misalnya dengan pengenalan olahraga ini di sekolah-sekolah. Mungkin bisa lewat ekstrakurikuler. Pemerintah daerah juga bisa mendukung dengan membuat klub supaya anak-anak bisa mencoba dan berlatih langsung.
Sebenarnya banyak juga atlet senior di daerah ingin bisa berkontribusi membuat klub, tapi kan mereka butuh dukungan fasilitas, minimal tempat berlatih. Ini harus ada campur tangan pemerintah kalau mau ada regenerasi. Karena untuk angkat besi ini orang disuruh nonton atau latihan gratis saja belum tentu mau, apalagi diminta bayar.
Lalu agar profesi atlet tidak dipandang dengan sebelah mata, salah satunya ialah dengan menjamin kesejahteraan atlet. Jangan lagi ada berita mantan atlet berprestasi tapi hidup dalam kesusahan. Kalau di tingkat pusat, atlet bisa diangkat jadi ASN, di daerah juga mungkin bisa dirangkul untuk membantu sistem regenerasi.

Anda sendiri apakah melihat atlet bisa sejahtera tanpa bonus-bonus?


Kalau mau bisa sejahtera dari bonus juga harus menunggu ajang empat tahunan. Kalau menang bonusnya juga biasanya habis buat kebutuhan mempersiapkan diri untuk bertanding lagi. Karena dengan mengandalkan anggaran dari pemerintah juga sulit. Apalagi, misalnya di awal tahun ketika skema anggaran belum jelas, kadang kami pakai uang sendiri dulu.
Apalagi untuk kejuaraan yang hanya setingkat daerah dan nasional seperti PON. Itu lebih tidak jelas lagi anggarannya. Biasanya daerah hanya memperhatikan dalam waktu singkat menjelang kejuaraan. Mereka berbondong-bondong beri dukungan fasilitas dan lain-lain. Namun, selepas itu sudah saja hilang lagi tidak ada perhatian. Nanti beberapa bulan mau PON baru mulai lagi. Bagaimana mau bisa punya atlet profesional yang berprestasi kalau dukungan dan penyejahteraannya hanya diberikan dalam waktu yang singkat dan tidak berkesinambungan?
Pemerintah daerah juga harusnya ikut cari solusi, termasuk dalam hal kesejahteraan atlet, apalagi yang pernah mewakili daerahnya, misalnya di PON. Daerah bisa koordinasi dengan federasi daerah atau KONI daerah untuk membahas itu. Dari situ daerah bisa bergerak memutuskan bagaimana langkah selanjutnya, kalau memang tidak punya anggaran, bisa direncanakan misalnya minta anggaran ke pusat atau bagaimana. Intinya diperhatikan dan seriusi dulu. (M-1)

BERITA TERKAIT