01 August 2021, 05:20 WIB

Menghargai Persahabatan


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend

Dan Kematian makin Akrab. Itu judul puisi karya almarhum Subagio Sastrowardoyo. Frasa pada judul sajak yang pernah memenangi kusala sastra pada dekade 1960-an itu rasanya kini kian karib dalam kehidupan kita di masa pandemi. Berita inna lillahi (baca: kabar duka) hampir tiap hari bertebaran baik di grup perpesanan maupun medsos. Ia berkumandang dari toa masjid atau musala di kampung-kampung. Data yang tiap hari dipaparkan Satgas Covid-19 tentu juga bukan statistik belaka. Di situ mungkin di antaranya ada kolega, saudara, tetangga suami/istri, atau bahkan mungkin orangtua kita. Hitung punya hitung, di lingkaran pergaulan saya saja hampir 10 orang yang telah wafat lantaran virus tersebut, termasuk teman sekolah/kuliah ataupun rekan kerja. Bagaimana di lingkungan Anda?

Pada Mei tahun lalu, sampul depan New York Times memuat nama ribuan warga di Amerika Serikat yang meninggal akibat virus mematikan tersebut. Sang editor atau pengelola surat kabar tersebut tentu tidak mengenal satu per satu deretan nama itu. Namun, yang pasti, mereka juga manusia seperti kita yang memiliki rupa dan juga keluarga. Nama-nama yang tertera pada sampul itu dapat dibaca sebagai bentuk simpati untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan sekaligus menjadi pengingat bagi mereka yang sehat.

Pandemi, wabah, pagebluk, entah apa pun kita menyebutnya, memang merupakan tragedi kemanusiaan. Virus yang tak kasatmata itu tidak pandang bulu apakah kita itu dokter, pejabat, tentara, ustaz, pendeta, orang biasa, ataupun artis dan buzzer kelas teri. Bukan soal apakah pendukung atau pembenci Jokowi. Begitu terpapar, kemungkinan bisa megap-megap dan mati. Semua manusia, baik yang beragama maupun tidak, kini diam-diam berharap terhindar dari paparan virus tersebut.

Mereka yang masih dikaruniai sehat semestinya bersyukur sambil tak lupa memperkuat iman dan imun, serta menjaga silaturahim. Tidak ada salahnya saling menyapa melalui telepon, terutama kepada kawan atau saudara yang telah lama tiada berkabar. Memang terkesan seperti basa-basi. Namun, hal itu penting sebagai bentuk dukungan dan motivasi untuk saling menguatkan, terutama di masa sulit seperti ini.

Menurut ilmu psikologi, ada hubungan antara dukungan sosial dan kesehatan mental maupun fisik sepanjang hidup manusia. Salah satunya ialah dari teman atau sahabat. 'Kehadiran' mereka dapat mengurangi rasa sepi. Pentingnya sosok kawan ini digambarkan dengan apik di film Cast Away (2001). Di situ digambarkan bagaimana sang tokoh utama yang diperankan Tom Hanks terpaksa menciptakan kawan imajinatif sebuah bola voli untuk menemaninya selama terdampar di sebuah pulau kosong.

Harus diakui, pandemi yang membatasi mobilitas memang membuat manusia kini jadi berjarak, bukan secara raga, melainkan juga jiwa. Banyak dari kita yang merasa kesepian, baik terkurung di apartemen maupun rumah sendiri. Sayangnya, kecanggihan berbagai fitur yang dibenamkan dalam teknologi smartphone tidak serta-merta membuat penggunanya makin bijak dan cerdas. Alih-alih dimanfaatkan untuk meningkatkan komunikasi di masa pandemi, perangkat tersebut justru membuat relasi sosial semakin buruk. Kita sendiri mungkin mengalami atau melihat tidak sedikit yang bertengkar dalam grup perpesanan maupun media sosial lantaran masing-masing ngotot mempertahankan pendapat maupun keyakinan.

Dalam soal cara-cara penanganan melawan covid-19, misalnya. Boleh-boleh saja tidak percaya penyakit tersebut. Namun, janganlah keyakinan itu dipaksakan ke orang lain. Apalagi di grup percakapan/perpesanan itu barangkali ada salah satu anggota atau keluarganya yang terpapar bahkan wafat lantaran ganasnya virus tersebut. Mbok, ya, punya simpati dan empati sedikit terhadap orang lain. Jangan sok tahu dan egois, apalagi jika Anda bukan pakar medis. Toh, kita tidak hidup sendiri. Bahkan, kalau mati pun, kita tetap butuh orang lain untuk menyalatkan maupun ibadah penghiburan, serta mengantarkan jasad kita ke kuburan. Hidup bukan seperti gim Android yang bisa sesukanya di-restart dan shut down.

Wabah korona yang berjangkit ke sejumlah negara dan menewaskan jutaan orang ini tidak bisa dilawan sendirian. Makanya, PBB menyerukan agar vaksin tidak boleh dikuasai segelintir negara. Begitu pun di lingkungan tempat tinggal, warga tidak boleh membiarkan ada tetangganya yang isoman mati kelaparan. Untuk bertahan di masa pandemi ini, yang dibutuhkan ialah mempererat solidaritas dan persahabatan. Agar kematian, seperti penggalan judul sajak di atas, tidak lagi semakin akrab.

BERITA TERKAIT