19 July 2021, 16:35 WIB

Ini Keunggulan Besek Bambu untuk Bungkus Daging Kurban


Nike Amelia Sari | Weekend

PREDIKAT Indonesia sebagai salah satu produsen sampah plastik besar dunia sudah mencuat sejak beberapa tahun lalu berdasarkan data peneliti Amerika Serikat, Jenna Jambeck. Meski data tersebut bisa diperdebatkan namun potret pencemaran sampah plastik di berbagai perairan Indonesia, bahkan yang terpencil, sudah banyak terdokumentasi.

Dalam wawancara Media Indonesia dengan peneliti Pusat Penelitian Oseanografi–Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI), Muhammad Reza Cordova pada 2019 juga terungkap jika pencemaran mikroplastik sudah terdeteksi di sedimen Teluk Jakarta. Segala kondisi itu menunjukkan jika pengurangan sampah plastik menjadi hal yang genting, tidak terkecuali di momen Idul Adha.

Pembagian daging kurban kerap menjadi kegiatan yang menimbulkan sampah plastik karena penggunaan kantong plastik. Memang, beberapa tahun belakangan, sejumlah komunitas mulai menghindari pengemasan daging kurban dengan kantong plastik. 

Mereka beralih ke berbagai bahan lain yang lebih ramah lingkungan. Nyatanya, bahan-bahan itu tidak sulit juga ditemukan karena memang sesungguhnya sudah lama menjadi kearifan lokal Indonesia, diantaranya adalah besek bambu, daun jati, dan daun lontar. 

Bahan-bahan itu pula yang disarankan oleh pegiat lingkungan, Britania Sari. "Kalau untuk Idul Adha, bisa digunakan besek yang dialasi daun pisang. Selain itu, juga bisa dengan daun jati," ujar Britania Sari, Pegiat Lingkungan kepada Media Indonesia via telepon,  Senin (19/7).

Pengrajin besek bambu masih bisa dijumpai di beberapa desa di Indonesia, salah satunya Dusun Patuk, Desa Kertorejo, Kematan Ngoro, Kabupaten Jombang. Selain lebih ramah lingkungan, besek bambu juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri anaerob. Hal itu karena adanya pori-pori anyaman bambu yang membuat sirkulasi udara lebih baik. 

Pada tahun lalu, ratusan komunitas di Indonesia Timur dari 42 kota, para komunitas tersebut mengurangi penggunaan plastik sebagai wadah daging kurban. Komunitas lintas profesi dan hobi tersebut menggunakan medium lain diantaranya besek, pelepah pisang dan daun jati sebagai tempat penyimpanan daging pada hari kurban.

Selain itu, sejak dua tahun lalu di Jawa dan Sulawesi juga sudah menggunakan wadah besek dan tas purun. Tas purun adalah tas khas dari Kalimantan yang terbuat dari rumput yang sudah dikeringkan. 

Dilansir dari timur.jakarta.go.id, situs resmi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, tahun ini, Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas (Baziz) Jakarta Timur juga turut serta mengurangi penggunaan plastik untuk daging qurban dengan mendistribusikan sebanyak 101.000 bongsang atau keranjang dari anyaman bambu khas tradisi Betawi ke 10 kecamatan di Jakarta Timur untuk medium tempat daging kurban bagi masyarakat pada Idul Adha 1442 Hijriah besok. 

Sari juga menjelaskan bahwa besek bambu yang sudah didapat bisa dimanfaatkan kembali sebagai wadah bumbu dapur dan lainnya. 

"Akan tetapi, perlu diedukasi juga bahwa besek yang masyarakat terima itu jangan dibuang. Besek tersebut bisa dicuci hingga bau amisnya hilang kemudian dijemur lalu bisa dimanfaatkan kembali untuk wadah bumbu dapur, bawang, atau cabe," lanjutnya. 

Dari pengalamannya, dia mengutarakan, meskipun kita mendapatkan kantong plastik daging kurban sebaiknya tidak langsung dibuang, kita bisa mencuci kantong plastik tersebut hingga bersih dan bau amisnya hilang lalu dikeringan, kemudian kantong plastik tersebut bisa digunakan kembali. (M-1)

BERITA TERKAIT