23 June 2021, 09:09 WIB

Pernikahan Tidak Bahagia, Pria Hadapi Risiko Kematian Lebih Dini


Nike Amelia Sari | Weekend

Pernikahan ialah ikatan sakral yang menghubungkan dua insan. Kerap kali momentum ini menjadi hal yang membahagiakan untuk setiap orang. Akan tetapi, bagaimana jika selama menjalani pernikahan tercipta hubungan yang tidak sebahagia yang dibayangkan? 

Jika itu terjadi, bisa menimbulkan perasaan sedih dan kecewa hingga patah hati. Ini juga didukung oleh para peneliti yang mengungkapkan bahwa dampak. hubungan pernikahan yang tidak memuaskan sama buruknya dengan merokok.

Studi baru yang telah diterbitkan dalam Journal of Clinical Medicine menemukan bahwa ada hubungan solid antara pernikahan yang tidak bahagia dan peningkatan risiko kematian. Ini terutama diterapkan dalam kasus stroke, tetapi ditemukan di semua kematian dini.

Para pria yang merasa pernikahan mereka tidak bahagia, 69,2 persen lebih mungkin meninggal karena stroke daripada mereka yang bahagia dalam pernikahan. 

Tidak bahagia dengan pernikahan atau bahkan menganggap pernikahan buruk, membuat para pria kemungkinan besar meninggal karena kondisi cerebrovaskular accident (CVA), seperti stroke, atau penyumbatan pembuluh darah pada tingkat yang sama dengan merokok dan kurangnya aktivitas fisik.

Dilansir dari dailymail.co.uk, Senin (21/6), para peneliti mempelajari data kesehatan dan kematian selama 30 tahun pada 10.000 pria di Israel. Para pria berusia 40-an ketika mereka pertama kali mulai mengumpulkan data pada 1960-an.

Para pria yang sudah menikah diminta untuk menilai pernikahan mereka dalam skala satu hingga empat. Skala satu sangat puas dengan pernikahan mereka dan empat tidak puas. 

Ketika mempertimbangkan semua kasus kematian dini di antara pria-pria responden, ditemukan fakta tingkat kematian 19 persen lebih tinggi pada pria yang mengatakan pernikahan mereka tidak memuaskan.

"Studi kami menunjukkan bahwa kualitas pernikahan dan kehidupan keluarga memiliki implikasi kesehatan untuk harapan hidup," kata penulis studi Dr Shahar Lev-Ari.

"Responden yang menganggap pernikahan mereka sebagai kegagalan, meninggal lebih muda daripada mereka yang menganggap pernikahan mereka sebagai sangat sukses." lanjutnya.

Penulis studi menyarankan otoritas kesehatan harus mempromosikan terapi pernikahan sebagai cara untuk meningkatkan kesehatan pria dan membantu mereka hidup lebih lama.

"Temuan ini konsisten dengan penelitian lain yang telah menunjukkan efektivitas program pendidikan membina kemitraan hidup yang baik sebagai bagian dari strategi nasional untuk mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas," kata Lev-Ari.

Dalam studi ini, tim melakukan analisis semua data secara longitudinal terhadap berbagai risikoe. Para peneliti lalu menganalisis statistik dari semua faktor risiko yang diketahui berkontribusi terhadap kematian akibat penyakit kardiovaskular, seperti diabetes, hipertensi, body mass index (BMI) berlebihan, dan status sosial ekonomi.

Mereka menemukan bahwa risiko relatif kematian karena alasan apa pun bagi yang tidak bahagia ialah 1,21 kali lebih tinggi daripada yang bahagia dengan pernikahan mereka. (M-2) 

BERITA TERKAIT