16 June 2021, 10:55 WIB

Ribuan Hama Tikus Bikin Repot Petani di Australia


Adiyanto | Weekend

Setelah selamat dari kekeringan yang melumpuhkan selama bertahun-tahun, para petani di Australia timur kini mesti berjuang menghalau gerombolan tikus yang berkeliaran di ladang dan melahap tanaman hasil jerih payah mereka.

Seorang petani menggunakan sapu untuk mendorong ratusan tikus itu menuju perangkap darurat berupa bak besar berisi air agar hama-hama tersebut tenggelam. Ini adalah upaya sederhana untuk memperlambat wabah yang melanda pertanian di dekat kota pedesaan Dubbo , Australia timur.

Namun, upaya itu nyaris tidak membuahkan hasil. Tikus terus mengunyah biji-bijian dan stok jerami serta apa pun yang dapat dimakan.

Video serangan massal hewan pengerat itu telah dibagikan di seluruh dunia, beserta laporan pasien rumah sakit yang digigit, mesin yang hancur, dan kawanan tikus yang berlari melintasi jalan secara massal.

Wabah ini adalah yang terbaru dalam serangkaian bencana yang menyerang petani di Australia. Kekeringan selama bertahun-tahun diikuti oleh kebakaran hutan yang menghancurkan selama berbulan-bulan sejak akhir 2019, serta hujan yang memicu banjir di beberapa daerah.

"Ayah saya masih hidup; dia berusia 93 tahun, dan ini adalah tiga tahun terburuk yang pernah dia lihat dalam hidupnya, dan saya pikir mungkin wabah tikus terburuk yang pernah dia lihat," kata Col Tink, demikian nama petani yang juga beternak sapi Brahma tersebut.

Ia khawatir wabah ini terus berlanjut selama musim dingin.

Menurut Steve Henry, petugas penelitian di badan sains nasional Australia, CSIRO, wabah hama tikus ini tidak seperti biasanya. "Ketika wabah tikus berakhir, mereka menghilang begitu saja dalam semalam, namun tidak saat ini" kata Henry, yang telah mempelajari hewan hama di Australia selama hampir tiga dekade.

Tikus adalah hama liar di Australia yang tiba bersama imigran Inggris pertama. Hewan pengerat kecil ini hampir beradaptasi dengan sempurna untuk mengeksploitasi ledakan alami dan kegagalan pertanian di iklim Australia.

Bill Bateman, seorang profesor dari Curtin University di Australia Barat, mengatakan wabah tikus raksasa tampaknya terjadi sekali dalam satu dekade, tetapi perubahan iklim dapat membuatnya kian sering dan rutin. (AFP/M-4)

 

 

BERITA TERKAIT