13 June 2021, 05:30 WIB

Kecanggihan Kaca Paesan


Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend

SATU di antara isu politik hangat di negeri ini ialah sindiran pengurus teras sebuah parpol kepada petugas partainya yang menjadi pemimpin suatu daerah. Pemimpin, ujarnya, mesti di tengah-tengah masyarakat, bukan bermain medsos.

Pemimpin yang baik memang mesti turun ke lapangan bersama rakyat. Namun, bermain (memanfaatkan) medsos di era digital pada saat ini merupakan keniscayaan. Apalagi medsos kini telah menjangkau ke pelosok-pelosok.

Persoalannya, apakah ia menggunakannya hanya untuk ‘mbagusi’ (pencitraan diri) atau sebagai sarana bekerja. Dengan kata lain, guna menunjang dan mengakselerasi keberhasilan program pembangunan kesejahteraan rakyat.
 

 

Gemar berguru

Dalam cerita wayang, tokoh yang biasa menggunakan medsos ialah Sri Bathara Kresna. Ia satu-satunya titah yang memiliki perangkat medsos yang bernama Kaca Paesan. Pusaka ini bisa digunakan untuk melongok apa pun yang ada dan terjadi di jagat raya.

Kresna menggunakan Kaca Paesan bukan untuk bersenang-senang atau kepentingan diri pribadi, melainkan sebagai sarana memayuhayuning bawana. Itu terkait dengan kodratnya sebagai titisan Bathara Wisnu, dewa yang bertugas menenteramkan dan menciptakan keadilan dunia.

Kresna ialah putra kedua Raja Mandura Prabu Basudewa. Ia memiliki dua saudara kandung, yakni Kakrasana dan Sembadra. Sejak kecil hingga dewasa, mereka digulawentah Demang Antagopa-Ken Sagopi di Dusun Widarakandang.

Tidak seperti pangeran pada umumnya, Kresna yang memiliki nama kecil Narayana hidup sederhana seperti anak desa atau rakyat jelata lainnya. Ia gemar mblayang (meninggalkan rumah). Itu berbeda dengan kakaknya dan adiknya yang menjadi orang rumahan.

Belakangan Narayana diketahui suka merampok harta benda pejabat korup dan orang-orang kaya tapi lokek alias pelit bin kikir. Hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin dan anak yatim piatu.

Di balik kenakalannya, Narayana ternyata suka berguru kepada resi dan begawan. Ia haus ilmu, bukan hanya yang terkait dengan kanuragan (kesaktian), melainkan juga ilmu dan ngelmu kawaskitan serta kebatinan. Itulah yang membuatnya sering berhari-hari tidak pulang ke rumah.

Perilaku Narayana berubah saleh setelah kenal Begawan Padmanaba di Pertapaan Untarayana. Dari gurunya yang sejatinya ialah Bathara Wisnu itu ia mendapatkan berbagai ilmu dan pusaka, di antaranya Cakra Bhaskara dan Kembang Wijayakusuma.

Setelah menjadi raja di Negara Dwarawati, nama Narayana yang bergelar Prabu Sri Bathara Kresna semakin mendunia. Dia pun menjadi botoh dan penasihat Pandawa, lima kesatria mustikaning jagat, contoh titah mulia di seluruh dunia.

Selain dua pusaka kahyangan, Kresna memiliki mantra ajian Balasrewu yang membuatnya bisa bertiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Juga Aji Pameling, Sangkala Pancajahnya, Aji Kawrastawan, dan Kaca Paesan.
 

 

Istri-istri Arjuna

Dalam satu kisahnya, pada suatu hari Kresna kedatangan delapan perempuan yang mengadukan perilaku suaminya yang sudah sekian lama pergi tidak diketahui rimbanya. Bahkan anak-anak mereka pun bak hilang ditelan bumi.

Di antara kedelapan wanita itu ada Sembadra, adik kandung Kresna sendiri. Tujuh perempuan lainnya ialah Supraba, Manohara, Larasati, Jinambang, Antrawulan, Ulupi, dan Juwitaningrat. Mereka semua istri Arjuna.

Kresna bertanya kenapa istri sampai tidak tahu ke mana suami pergi. Namun, ia bisa memahami watak Arjuna yang memang kerap meninggalkan Kesatrian Madukara tanpa pamit dan kabar. Biasanya adik iparnya pergi menjalani laku prihatin.

Sembadra bermanja-manja kepada kakaknya agar mencari di mana keberadaan suaminya. Ketujuh wanita madunya pun menangis meminta bantuan Kresna, juga untuk mencari keberadaan putra-putri mereka. Mereka khawatir akan keselamatan anak-anak.

Karena terdorong oleh rasa terenyuh, Kresna mantak aji (membaca mantra) pusaka Kaca Paesan yang kemudian secara gaib muncul pada telapak tangannya. Ia mencari keberadaan Arjuna, tapi tidak ditemukan, sedangkan anak-anak Arjuna tampak begitu jelas.

Setelah di-zoom, diketahui, putra-putri Madukara itu berada di Pertapaan Sapta Arga, tempat tinggal eyang buyut mereka, Begawan Abiyasa. Mereka ialah Abimanyu, Prabakusuma, Pregiwa-Pregiwati, Bratalaras, Kumaladewa, Antakadewa, Bambang Irawan, dan Bambang Sumbada.

Sebenarnya Kresna tahu keberadaan Arjuna. Ia sengaja merahasiakan karena khawatir mengganggu laku adik iparnya itu. Pada dasarnya Arjuna tidak perlu dikhawatirkan. Dirinya dengan Arjuna bak api dan panasnya, tidak terpisahkan.

Kresna lalu mengajak kedelapan istri Arjuna ke Pertapaan Sapta Arga menemui anak-anak mereka. Tidak lama kemudian munculah Arjuna. Mereka bertemu dalam sukacita setelah sekian lama berpisah tanpa berita.

Arjuna memang sengaja menyingitkan (menyembunyikan) putra-putrinya itu demi keselamatan mereka. Konon, Prabu Jarasanda dari Negara Magada mengincar nyawa Abimanyu dan adik-adiknya sebagai syarat mendapatkan wahyu Mustakadewa yang diidam-idamkan.

Pada akhirnya Arjuna berperang melawan Jarasanda untuk melindungi anak-anaknya yang masih remaja belia. Panengah Pandawa itu sempat terdesak sebelum akhirnya lawan lari tunggang langgang setelah mengetahui ada Kresna di belakang Arjuna.
 

 

Mendukung kerja

Itulah sekilas kisah kecanggihan Kaca Paesan. Dengan pusaka itu, Kresna bisa mengetahui keberadaan seseorang dan apa yang terjadi di belahan dunia mana pun. Dalam ‘frekuensi’ tertentu, pusaka itu pun bisa memberikan info apa yang akan terjadi di suatu tempat.

Menurut ceritanya, tidak sekali pun Kresna memanfaatkan untuk kepentingan pribadi, misalnya pencitraan diri. Ia manfaatkan itu untuk hal-hal yang sangat penting dan mendesak demi kemanusiaan.

Singkatnya, pusaka itu digunakan untuk mendukung kinerjanya sebagai titisan Bathara Wisnu, penjaga ketenteraman dan keadilan jagat. Bukan untuk yang bukan-bukan, apalagi untuk dolanan tanpa guna bagi sesama. (M-2)
 

BERITA TERKAIT