10 June 2021, 22:03 WIB

Diet Nabati Diduga Perkecil Risiko Covid-19 Skala Parah


Nike Amelia Sari | Weekend

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan nabati punya risiko 73% lebih kecil untuk terkena virus dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi produk hewani seperti daging dan sejenisnya.

Sementara itu, pescatarian atau pola makan tanpa mengonsumsi daging namun masih mengonsumsi ikan dan jenis makan laut, dengan sumber protein utamanya adalah ikan, memiliki risiko 59% lebih rendah.

Studi baru yang telah diterbitkan dalam BMJ Nutrition, Prevention & Health, mendasarkan temuan ini pada kuesioner yang diajukan kepada 2.884 orang yang terdiri dari petugas kesehatan dari enam negara Eropa, 568 di antaranya telah mengonfirmasi kasus virus corona selama satu tahun sebelumnya.

Pada kasus-kasus tersebut, 138 orang mengatakan mereka menderita gejala sedang hingga berat, sementara 430 sisanya mengalami efek ringan dari penyakit pernapasan.

Rincian terkait kebiasaan makan peserta studi juga dimasukkan dalam survei, yang memiliki 10 kategori diet yaitu diet makanan utuh, diet keto, diet mediterania, diet paleolitik, diet rendah lemak, diet rendah karbohidrat dan diet tinggi protein, yang semuanya termasuk daging merah dan putih. 

Selain itu, ditambah pola makan nabati/vegan, pola makan vegetarian, dan pola makan pescatarian tanpa mengonsumsi daging merah dan putih dan diet kategori lainnya juga dijadikan pilihan.

Berdasarkan orang-orang yang melaporkan penyakit, hanya 41 yang mengaku menjalani pola makan nabati sementara 46 lainnya adalah pescatarian. Sisanya, 481 telah menjalani beberapa bentuk rejimen makan yang termasuk ternak dan unggas.

"Hasil kami menunjukkan bahwa diet sehat yang kaya akan makanan padat nutrisi dapat dipertimbangkan untuk perlindungan terhadap covid-19 yang parah," penulis studi mengemukakan dalam siaran pers, seperti dilansir dari foxnews.com, Kamis (10/6).

Namun, lantaran studi yang dilakukan terbatas, masih belum jelas mengapa makanan laut dan pengonsumsi nabati berpotensi kurangi risiko tertular selama pandemi karena studi ini hanya dapat menunjukkan hubungan antara kelompok dan penyakit covid-19 yang parah.

"Studi ini menyoroti perlunya studi prospektif yang dirancang lebih baik tentang hubungan antara diet, status gizi, dan hasil covid-19," kata Wakil Ketua NNedPro Nutrition and COVID-19 Taskforce Inggris, Shane McAuliffe. (M-2) 

BERITA TERKAIT