06 June 2021, 06:20 WIB

Melantamkan Bisik dari Balik Rutan


Fathurrozak | Weekend

INVISIBLE Hopes menjadi film dokumenter terbaru yang masuk jaringan bioskop Indonesia. Sutradara Lamtiar Simorangkir mengetengahkan tema tahanan perempuan yang hamil dan anak mereka yang tumbuh di dalam sel.

Dibagi dalam dua pembabakan; Invisible Victims dan Where’s Home? Tiar mengikuti subjek tahanan perempuan yang terkena kasus narkoba, di Rumah Tahanan (rutan) Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Suasana sumpek sel di rutan diwakilkan dengan suara riuh yang selalu mengisi latar sepanjang babak awal. Menemani penonton mengikuti perjalanan Hamidah atau Midun saat ia melahirkan hingga anaknya tumbuh balita.

Midun adalah ibu rumah tangga yang membantu suaminya berjualan narkoba. Tapi, suaminya berhasil kabur, sedangkan Midun bersama anak di dalam kandungannya harus mendekam di balik jeruji.

Cerita-cerita lain dari para perempuan tahanan kemudian mengalir. Berkelindan tanpa Tiar harus mendudukkan subjek untuk sesi wawancara khusus ala dokumenter tradisional. Penonton hanya akan mendengar suara dan cerita tanpa kita tahu siapa yang bersuara, selain dari beberapa bagian tubuh yang ditampilkan.

Merekam realitas di dalam rutan tentu jadi kekuatan utama dokumenter ini, dengan memperlihatkan apa yang terjadi dengan dinamikanya. Komposisi extreme close up kerap menjadi pilihan demi melindungi identitas si subjek.

Menonton Invisible Hopes membuat teringat pada dokumenter Filipina, Aswang (2019). Dokumenter itu tidak secara eksplisit membahas mutlak tentang kehidupan penjara, tapi punya tema yang bersinggungan. Aswang mengetengahkan perang terhadap narkoba di rezim Duterte yang akhirnya lebih banyak berdampak pada kaum marginal dan miskin. Di situ, sutradara Alyx Ayn Arumpac mengikuti seorang bocah yang terlantar akibat orangtuanya harus dibui akibat kasus narkoba.

 

 

Beban berlipat anak

Narasi-narasi itu yang juga kemudian muncul dalam Invisible Hopes. Ada ketidak idealan institusi dalam memfasilitasi tahanan mereka. Dalam satu sel, misalnya, ada beberapa ibu hamil, juga anak-anak yang sudah lahir dari perempuan tahanan di dalam rutan. Tentu situasi tersebut juga berimpak pada si anak, yang Tiar sebut dalam babak Invisible Victims. Di Aswang, bahkan ada salah satu adegan yang memperlihatkan para tahanan disekap dalam penjara rahasia, di belakang lemari, yang secara ukuran tidaklah manusiawi.

Para perempuan tahanan seperti tidak punya pilihan. Mereka sadar rutan bukan tempat ideal untuk tumbuh kembang anak-anak. Tapi, dalam banyak pengakuan subjek di Invisible Hopes, tidak ada keluarga yang mengurus jika mereka mengirim sang anak keluar dari rutan. Ini lagi-lagi saya membayangkan situasinya juga bakal seperti si anak yang menjadi subjek di Aswang tadi.

Sementara itu, pihak rutan, institusi yang menaungi para tahanan, juga tampaknya tidak bisa memberikan fasilitas yang lebih menjamin hak anak, atau tahanan perempuan hamil. Dalam kasus Fifi, misalnya, ia ‘dipaksa’ bebas di tengah kondisi hamil besar dan mengharuskan operasi caesar. Situasi itu agar rutan tidak menanggung biaya persalinan Fifi .

Atau seperti saat sejumlah bayi yang sakit di dalam rutan juga lambat mendapat penanganan. Invisible Hopes memperlihatkan lubang-lubang besar itu pada kita. Memperlihatkan persoalan tentang keterbatasan pemenuhan hak anak, baik yang sudah lahir maupun yang masih dalam rahim. Meski datang dengan gagasan

dan tema yang sensitif, sayangnya desain produksi film ini punya catatan. Misalnya soal konsistensi grading warna film yang kerap kali tak senada.

Pengemasan creative documentary-nya untuk menjadi bentuk yang lebih naratif, juga belum begitu mulus. Namun, kekuatan isu dan visual yang ditunjukkan Invisible Hopes sedikit banyak bisa mengompensasi kekurangan-kekurangan tersebut.

Salah satu nilai plus lain, film ini juga memperlihatkan perubahanperubahan para napi, maupun pertumbuhan bayi mereka hingga balita. Dokumenter yang baik memang kerap kali juga merekam perubahan seiring perjalanan waktu. Tidak harus besar. Sepersonal dan sekecil apa pun perubahan yang tampak, itu bisa menjadikan film dokumentar berbicara lantam (lantang). Invisible Hopes punya poin itu. (M-2)

BERITA TERKAIT