06 June 2021, 06:45 WIB

Kriminalisasi Ulama


Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend

ADA ketua umum partai politik yang wira-wiri, ke sana-kemari, menggalang dan mencari dukungan guna mengegolkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Ulama. Ia berharap, dengan adanya UU tersebut, tidak ada lagi ulama yang, konon, dikriminalisasi.

Ironisnya, dua organisasi besar Islam di negeri ini yang merupakan gudangnya para ulama sejati tidak tertarik dengan RUU itu. Para ulama mereka pun tidak ada yang merasa khawatir dikriminalisasi karena memang itu tidak pernah ada.

Tuduhan ada ulama dikriminalisasi yang diteriakkan sebagian kelompok tertentu hanyalah asumsi. Negara ini berdasarkan hukum dan semua warga sama kedudukannya di depan hukum. Mereka yang diadili dan dihukum itu dinilai melanggar hukum.

 

Menjadi raja

Dalam jagat wayang, ada kisah ulama, bukan kaleng-kaleng, yang justru minta diadili dan dihukum karena menyadari telah berbuat salah. Ia tidak berlindung dengan statusnya itu agar kebal hukum dan sah berbuat sesukanya.

Bahkan, sejak melakukan kekeliruan, ia menanggalkan predikat ulama serta mencopoti segala lambang atau pakaian serta aksesori yang selama ini melekat. Ia menolak disebut ulama lagi karena merasa jiwa keulamaannya telah runtuh.

Ulama malang itu bernama Wisrawa. Sebelum terjerat kasus, ia ‘orang suci’ yang sangat disegani titah marcapada. Selain ia menguasai dan katam banyak ilmu, ucapan dan perilakunya menjadi contoh. Di sisi lain, ia sakti mandraguna.

Wisrawa lahir sebagai anak Resi Supadma di Pertapaan Girijembangan yang masih keturunan Bathara Sambodana, putra Bathara Sambu. Sedari kecil, Wisrawa kerap mengikuti jejak sang ayah, mendalami kitab suci dan menjalani ritual seperti berpuasa dan bersemedi.

Ketika beranjak dewasa, banyak wanita yang jatuh hati kepadanya. Itu disebabkan selain pintar dan ramah, Wisrawa berwajah tampan dengan badan bambang, semampai dengan kulit bersih. Lebih dari itu, ia memiliki aura asmara yang sangat kuat bagi lawan jenis.

Dikisahkan, wanita yang beruntung menjadi pendamping hidupnya ialah Dewi Lokawati, putri Raja Negara Lokapala Prabu Lokawana dengan permaisuri Dewi Lokati. Bagi Wisrawa, mungkin itu juga keberuntungannya karena anak kampung menjadi menantu raja yang terhormat dan kaya raya.

Keberuntungan kembali berpihak kepadanya ketika dinobatkan sebagai raja menggantikan Prabu Lokawana yang mangkat. Tidak pernah terlintas dalam benaknya menjadi penguasa tertinggi di sebuah negara.

Namun, kekuasaan ternyata bukan dunianya. Ia segera turun dari singgasana setelah anaknya, Wisrawana, dewasa. Ia serahkan kekuasaan Lokapala kepada putranya itu yang kemudian naik takhta bergelar Prabu Danaraja.

Wisrawa kemudian kembali ke Pertapaan Girijembangan menjadi resi meneruskan ‘profesi’ ayahnya yang sudah tiada. Namun, ia senantiasa memantau dan memberikan nasihat kepada Danaraja dalam menjalankan pemerintahan.

 

Melamar Sukesi

Suatu ketika, Danaraja terpikat Sukesi, putri kedhaton Negara Alengka, yang kondang kecantikannya. Ia ingin meminang putri Prabu Sumali itu sebagai permaisuri. Persoalannya, Danaraja tidak mampu memenuhi permintaan wanita yang mencuri hatinya itu.

Sukesi menggelar sayembara, siapa saja lelaki yang bisa medhar (mengajarkan) ilmu sastrajendra hayuningrat berhak meminangnya. Harapan Danaraja semakin berat karena Jambumangli, sentana dalem istana Alengka, bersumpah yang berhak memperistri Sukesi harus melangkahi bangkainya.

Setelah mendengar kegelisahan anaknya, Wisrawa datang ke istana Lokapala. Ia katakan akan melamarkannya. Persahabatannya dengan Sumali diharapkan mempermudah jalan Danaraja mempersunting Sukesi.

Sesampainya di Alengka, Wisrawa disambut hangat Sumali. Setelah saling bercerita kabar masing-masing, ia ungkapkan kedatangannya ke Alengka melamar Sukesi untuk dinikahkan dengan putranya.

Sumali menerima dengan gembira. Namun, Jambumangli yang ikut dalam pertemuan itu menyela. Wisrawa dipersilakan melamar Sukesi, tapi harus mampu mengalahkannya dalam perang tanding.

Wisrawa menyarankan Jambumangli membatalkan kehendaknya, tapi ditolak. Konon, keponakan Sumali itu nekad berbuat seperti itu karena juga jatuh cinta kepada Sukesi. Ia memilih mati bila tidak mendapatkan cinta adik sepupunya itu. Singkat cerita Jambumangli akhirnya tewas.

Wisrawa meminta Sukesi mengurungkan keinginannya diajarkan ilmu sastrajendra hayuningrat. Itu disebabkan ilmu yang mengungkap rahasia alam semesta tersebut tidak boleh diumbar. Sumali pun mendorong putrinya memahami pantangan tersebut. Namun, Sukesi kukuh pada pendiriannya.

Karena kuatnya dorongan sayangnya kepada sang anak, Wisrawa akhirnya berani melanggar walat (larangan). Sebagai syaratnya, Wisrawa meminta mengajar dalam ruangan tertutup agar tidak ada pihak lain yang mengetahuinya.

Dewa di Kahyangan geger mengetahui Wisrawa mengajarkan ilmu wingit tersebut. Penguasa Kahyangan Bathara Guru bersama istrinya, Dewi Uma, buru-buru turun ke marcapada. Guru manjing (masuk) ke raga Wisrawa, Uma menyatu dalam badan Sukesi.

Seusai mengajarkan ilmu, pengaruh Guru dengan Uma menggerakkan kedua insan terjebak dalam asmara terlarang. Wisrawa dan Sukesi berulang kali intim bergumul layaknya suami-istri yang sah.

 

 

Mengaku bersalah

Wisrawa baru sadar setelah semua telah terjadi. Ia mengaku bersalah atas perbuatannya yang nista. Ia malu dan merasa berdosa. Ia pasrah kepada putranya bahwa dirinya tidak pantas menjadi orangtua, apalagi ulama.

Danaraja bersiap menghukum bapaknya, tapi urung ketika Bathara Narada tiba-tiba mengejawantah dan memberikan pencerahan bahwa itu ialah kodrat. Ia jelaskan bahwa alam yang akan ‘mengkriminalisasi’ Wisrawa.

Kisah selanjutnya Wisrawa menikahi Sukesi dan melahirkan empat anak, tiga di antaranya berwujud raksasa. Sulungnya, Dasamuka, menjadi lambang nafsu keserakahan jagat. Itulah hukuman yang harus dipikul Wisrawa. (M-2)

BERITA TERKAIT