18 May 2021, 07:10 WIB

Ini Kiat Membuat Foto yang Bercerita


Galih Agus Saputra | Weekend

PENDIRI Leonardi Portraiture, Indra Leonardi, mengungkapkan jika kini semua orang dapat menjadi fotografer berkat alat yang kian canggih.

"Apakah hanya sebagai hobi atau profesional. Kalau hobi, ya semua orang yang memotret dengan kamera maupun gawai, misalnya, dalam suatu acara ataukah saat bepergian. Sementara fotografer profesional, ia adalah orang yang menggunakan fotografi ini sebagai mata pencaharian," katanya dalam acara 'Plaza Indonesia Masterclass' yang disiarkan secara daring melalui akun Instagram, @plazaindonesia, Minggu, (16/5), 

Fotografer lulusan Brooks Institute of Photography, Santa Barbara, Amerika Serikat tersebut menjelaskan cara mempelajari fotografi sendiri pada dasarnya mengenal dua jenis. Pertama ialah mereka yang belajar secara otodidak, maupun mereka yang belajar kepada seorang guru.

Indra, yang sempat meraih medali emas American Society of Photographers (ASP) pada 1997, mengaku kegemarannya sendiri sebenarnya lebih mengarah ke bidang arsitektur. Meski begitu, secara profesional, ia tertarik untuk mendalami dunia pemotretan, khususnya yang berkenaan dengan 'people fotografi atau portraiture'. 

Genre yang satu ini, lanjutnya, berfokus pada manusia. Salah satu bagian terpenting dalam portraiture adalah bagaimana seorang fotografer bisa mengangkap sukma (soul) dari orang yang ada di hadapannya. Selain itu, yang tidak kalah penting, seorang fotografer juga harus dapat membangun konten dan konteks dalam karyanya.

"Jadi karena fotografi itu sekarang sangat umum, semua orang bisa memotret, anytime, realtime, tapi foto yang memiliki konteks dan konten itu menjadi penting di masa ini. Sebelum melakukan pemotretan, saya sendiri pasti selalu bertanya kepada diri sendiri maupun tim. Sebenarnya pemotretan ini untuk apa? Apa yang kita pikir itu nantinya yang akan menjadi acuan untuk mendapatkan suatu foto yang baik," tuturnya.

Penerima beasiswa British Institute of Professional Photographers tersebut selanjutnya menjelaskan karya fotografi yang baik pada dasarnya ialah karya yang memiliki kekuatan bercerita (storytelling). Cerita di dalamnya bisa sangat beragam, apakah ia berhubungan dengan waktu, masyarakat, maupun budaya.

Dalam proses kerjanya, ia sendiri mengaku biasa mengawalinya dengan diskusi empat mata bersama orang yang akan difoto. Setelah itu ia akan menyusun moodboard (kumpulan atau komposisi gambar). Melalui moodboard itu pula ia mulai menentukan pencahayaan, gestur, dan baju, hingga akhirnya dilakukanlah sesi pemotretan.

"Dalam sebuah moodboard, saya biasanya juga memasukan contoh-contoh lukisan lama, dengan fotografi di jaman sekarang. Pada hari pemotretan yang kita lakukan, biasanya akan kita buat berdasarkan moodboard itu. Tapi justru, hal-hal yang sangat bagus sekali itu biasanya spontan terjadi pada saat pemotretan itu sendiri. Biasanya memang diawali dengan suatu konsep akan tetapi sesudah itu eksplorasinya impromptu pada saat pemotretan," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT