19 April 2021, 07:10 WIB

Melihat Jejak Warisan Kesatria Templar di Siprus


Adiyanto | Weekend

 

Kisah tentang para Kesatria Templar seperti legenda, bercampur antara fakta dan mitos. Tetapi jauh di bawah sebuah kastil di Siprus, pulau yang pernah dimiliki oleh persaudaraan Tentara Salib,  terletak sebuah warisan yang menurut sejarawan masih bergaung hingga saat ini.

Menuruni tangga batu yang curam, sempit, dan tidak rata di Benteng Limassol, ada sebuah ruangan berkubah rendah yang dilapisi batu nisan para kesatria abad pertengahan. Ruangan itu diyakini adalah kapel tempat Raja Inggris Richard ‘the Lion Heart’  menikah, dalam perjalanannya ke  Yerusalem pada 1192.

"Arsitektur dan artefak di sini mencerminkan sejarah Siprus," kata Elena Stylianou, seorang arkeolog setempat, sembari memperlihatkan sebuah pedang  berkarat sisa peninggalan Tentara Salib, seperti dilansir AFP, Sabtu (17/4).

"Siprus adalah tempat yang ingin direbut dan dimiliki banyak orang," imbuhnya.

Richard dan pasukannya merupakan orang Inggris pertama yang menginjak kaki di pulau yang indah itu, untuk merayakan malam pernikahannya. Setelah itu, dia dan tentaranya mengunjungi pedesaan, membakar, dan menjarah harta milik  penduduk.  

Setelah penguasa Siprus yang kalah menyerah, Raja Inggris itu menjual wilayah tersebut kepada para Ksatria Templar, pasukan elite internasional (gabungan dari beberapa wilayah di Eropa) yang dibentuk untuk melindungi para peziarah yang hendak pergi  ke Yerusalem.

Orientasi Eropa

Museum abad pertengahan itu sekarang bertempat di benteng kota pelabuhan Mediterania. Meskipun tembok kastil utama berasal dari periode Kekaisaran Ottoman (Turki) di abad ke-16, tempat itu diyakini dibangun di atas fondasi yang jauh lebih tua. Kubah itu mungkin adalah kapel dari benteng utama Ksatria Templar di Siprus.

Sejarawan abad pertengahan Siprus, Nicholas Coureas mengatakan Perang Salib adalah langkah kunci dalam membentuk karakter nasional pulau itu.

"Konsekuensi paling abadi dari penaklukan Richard adalah bahwa meskipun Siprus berpindah tangan beberapa kali, ia masih memiliki orientasi Eropa dan kebanyakan orang Siprus lebih mengidentifikasi diri sebagai orang Eropa daripada Asia atau Afrika," kata Coureas.

"Secara geografis Siprus berada di ujung Eropa, tetapi mereka memilliki  hubungan yang kuat dengan Timur Tengah," tambahnya.

Coureas bekerja di pusat penelitian yang berfokus pada sejarah dan sosiologi nasional Siprus. Dia berpendapat sejarah bukan hanya tentang buku berdebu di sekolah  tetapi tentang bagaimana warga melihat diri mereka hari ini jauh ke masa lalu.

Basis operasi

Sewaktu Perang Salib, Siprus merupakan basis pasukan Barat yang beroperasi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Setelah pasukan Templar kalah dan terusir dari Yerussalem, mereka menjadikan Siprus sebagai markas besar mereka pada 1291. Mitos menceritakan bagaimana para kesatria itu menyembunyikan kekayaan mereka - termasuk, menurut novel dan film, Holy Grail, ketika perintah tersebut dikutuk sebagai bidah pada 1307 dan para kesatria dibakar di tiang pancang.

Kekayaan para Kesatria Templar mungkin sudah lama hilang, tetapi Stylianou berharap situs-situs kuno itu dapat membantu menarik pengunjung kembali ke Siprus, yang industri pariwisatanya babak belur selama pandemi covid-19.

Siprus dipenuhi dengan kastil dan reruntuhan yang ditinggalkan oleh Tentara Salib, termasuk kastil Kolossi dan benteng terkenal Saint Hilarion. Stylianou berharap pandemi segera berlalu sehingga orang dapat lagi berwisata ke pulau itu.

Sejak 1974, Siprus terbelah ketika tentara Turki menyerbu dan menduduki sepertiga utara Siprus sebagai tanggapan atas ekspansi Athena yang berusaha mencaplok pulau itu ke Yunani.

Sebuah zona penyangga yang diawasi pasukan PBB membentang antara wilayah selatan yang berbahasa Yunani dan mayoritas kristen ortodok. Sedangkan di utara diklaim masuk wilayah Turki yang mayoritas muslim. (AFP/M-4)

 

 

BERITA TERKAIT