08 April 2021, 11:30 WIB

Kedap Suara, Lagu Keroyokan jelang Ramadan


Fathurrozak | Weekend

Lagu Kedap Suara menjadi proyek keroyokan banyak pihak. Selain vokalis Barasuara Iga Massardi dan .Feast, juga melibatkan rapper Laze, Kamga, Natasha Udu (Lomba Sihir) dan duo produser dari Martials/ (Rayhan Noor dan Enrico Octaviano), dan Tristan Julio (Mantra Vutura).

Digarap selama kurun tiga pekan, Kedap Suara ditujukan sebagai lagu tematik ramadan, atau yang kerap kali identik dengan lagu religi. Namun, saat mendengar Kedap Suara, lagu tersebut cukup ‘advance’ jika sekadar disebut sebagai lagu ramadan.

Sebab, baik secara tema, lirik, dan instrumen, terdengar berbeda dengan lazimnya lagu religi ala ramadan. Enrico Octaviano, Rayhan Noor, dan Tristan Juliano menjadi trio yang memproduseri proyek lagu yang disokong platform streaming Joox ini.

Untuk lirik, ditulis Baskara (vokalis .Feast, Hindia, Lomba Sihir). Sementara Kamga didapuk sebagai pengarah vokal dan arranger. Pengisi vokal di lagu ini, selain Baskara dan juga Kamga, tentunya ada Iga Massardi, Natasha Udu (Lomba Sihir), dan Laze mengisi bagian rap.

“Dikasih referensi lagu dari Tristan, gue mencari nadanya memang agak enggak biasa. Ini seperti kontemporer dan middle east dicampurin. Lalu materi itu dilempar ke yang lain,” kata Enrico, yang memproduseri Kedap Suara, saat konferensi pers virtual, Rabu, (7/4).

“Gue iseng-iseng isi gitarnya, spontan. Dan merasa energi lagunya itu, kalau biasanya lagu yang bunyinya ada pesan baiknya itu kan mendayu-dayu ya. Tapi ini semangat, plus ramean pula,” tambah Iga Massardi.

Meski merilis lagu yang bertepatan dengan momentum, bagi Iga jelas. Kedap Suara diharapkan juga bukan sekadar lagu yang cuma didengarkan saat ramadan dan serta-merta dikategorikan sebagai lagu religi.

“Kalau didengarkan pada waktu lain, akan jadi punya makna yang juga universal. Harapannya sih seperti itu ya,” kata Iga.

Sementara itu, Baskara mengatakan, lagu yang juga serupa mantra, diharapnya bisa menjadi pesan yang terinternalisasi di kepala pendengarnya. “Lagu kan kadang kayak mantra, kalau diulangi liriknya tiap hari, dan terinternalisasi, lalu suka dengan pesannya itu akan ada terus di kepala,” kata Baskara.

Senada dengan Iga, Baskara menilai meski lagu yang dirilis pada momentum tertentu seperti jelang ramadan, baginya yang lebih relevan adalah ketika lagu itu juga punya umur yang tidak hidup saat masih ada momentum. Sang produser, Enrico pun menggarap bentuk lagu ini juga tidak ingin sekadar disematkan sebagai lagu religi ramadan.

“Bikin lagu enggak harus spesifik untuk satu occasion tertentu. Biar lagunya tuh bisa diputar kapan pun,” kata Enrico. (M-2) 

BERITA TERKAIT