08 April 2021, 09:56 WIB

Analis Genom Ungkap Percampuran Manusia dan Neanderthal di Eropa


Adiyanto | Weekend

Urutan genetik dari sisa-sisa manusia yang berusia 45.000 tahun telah mengungkapkan migrasi yang sebelumnya tidak diketahui ke Eropa. Penemuan itu menjadi bukti bahwa manusia hidup berdampingan dan bercampur dengan Neanderthal di Eropa secara signifikan lebih awal dari yang diperkirakan.

Penelitian ini didasarkan pada analisis beberapa sisa-sisa manusia purba, termasuk seluruh potongan gigi dan tulang, yang ditemukan di sebuah gua di Bulgaria tahun lalu. Pengurutan genetik sisa-sisa manusia purba itu berasal dari individu yang lebih dekat hubungannya dengan populasi saat ini di Asia Timur dan Amerika daripada populasi di Eropa.

"Ini menunjukkan bahwa mereka termasuk migrasi manusia modern ke Eropa yang sebelumnya tidak diketahui dari catatan genetik," kata penelitian yang diterbitkan Rabu (7/4) di jurnal Nature.

“Ini juga memberikan bukti bahwa setidaknya ada beberapa kesinambungan antara manusia modern paling awal di Eropa dan kemudian orang di Eurasia,”  studi tersebut menambahkan.

Mateja Hajdinjak, peneliti asosiasi di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology Jerman yang membantu memimpin penelitian mengatakan penemuan ini menggeser pemahaman kita sebelumnya tentang migrasi manusia purba ke Eropa.

"Itu menunjukkan bagaimana sejarah paling awal orang Eropa modern yang mungkin penuh gejolak dan melibatkan penggantian populasi," katanya kepada AFP.

Dia mengatakan salah satu kemungkinan yang dikemukakan oleh temuan ini adalah penyebaran kelompok manusia yang kemudian digantikan (oleh kelompok lain) di kemudian hari di Eurasia Barat, tetapi terus hidup dan menyumbangkan keturunan kepada orang-orang di Eurasia Timur.

“Semua individu di gua Bacho Kiro memiliki nenek moyang Neanderthal lima-tujuh generasi sebelumnya, menunjukkan bahwa pencampuran antara manusia pertama di Eropa dan Neanderthal adalah hal biasa," kata Hajdinjak.

Untyk diketahui Neanderthal adalah anggota genus Homo yang telah punah dan berasal dari zaman Pleistosen. Spesimennya ditemukan di Eurasia, dari Eropa Barat hingga Asia Tengah dan Utara. Spesies ini dinamakan Neandertal sesuai dengan lokasi tempat pertama kali ditemukan di Jerman, Neandertal atau Lembah Neander. Sedangkan manusia modern masuk kategori Homo Sapiens.

Bukti sebelumnya untuk pencampuran manusia-Neanderthal purba di Eropa berasal dari satu individu yang disebut Oase 1, berusia 40.000 tahun dan ditemukan di Rumania. "Sampai sekarang, kami tidak bisa mengecualikannya sebagai penemuan kebetulan. Studi kami menunjukkan ... (itu) pasti umum dan lumrah di masa itu."

Temuan itu disertai dengan penelitian terpisah yang diterbitkan Rabu di jurnal Nature Ecology and Evolution yang melibatkan sekuensing genom sampel dari tengkorak yang ditemukan di Republik Ceko.

Tengkorak itu ditemukan di daerah Zlaty kun pada tahun 1950, tetapi usianya telah menjadi bahan perdebatan dan temuan yang kontradiktif selama beberapa dekade sejak itu.

Analisis awal menunjukkan usianya lebih dari 30.000 tahun, tetapi penanggalan radiokarbon memberi usia mendekati 15.000 tahun.

“Analisis genetik (genom) sekarang tampaknya telah menyelesaikan masalah tersebut, menunjukkan usia tengkorak itu setidaknya 45.000 tahun,” kata Kay Prufer dari departemen arkeogenetika Institut Max Planck, yang memimpin penelitian.

"Kami memanfaatkan fakta bahwa setiap orang yang menelusuri nenek moyang mereka kembali ke individu yang meninggalkan Afrika lebih dari 50.000 tahun lalu membawa sedikit keturunan Neanderthal dalam genom mereka," katanya. (AFP/M-4)

 

 

BERITA TERKAIT