04 April 2021, 15:42 WIB

Menilik Perbedaan Plagiarisme dan Apropriasi dalam Dunia Seni


Ghani Nurcahyadi | Weekend

ISU mengenai penjiplakan dalam dunia seni masih menjadi perdebatan. Setidaknya ada 2 terminologi yang punya konotasi berbeda dalam isu penjiplakan, yaitu plagiarisme dan apropriasi.

E Putra dari Komunitas Crypto Art menjelaskan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, plagiarisme (pla•gi•a•ris•me) adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta.

"Pertanyaannya: apa yang dimaksud 'melanggar hak cipta?' Apakah bentuk, teknik, atau ide karya seorang seniman yang terinspirasi karya seorang seniman lainnya termasuk 'melanggar hak cipta?'," tulis E Putra dalam keterangannya.

Kurator seni rupa dari Yogyakarta, Wahyudin menambahkan, perkara hak cipta di dunia seni rupa kontemporer adalah perkara yang kompleks dan lebih banyak berpusat pada aspek hukum ketimbang estetika.

“Plagiarisme adalah praktik pengatasnamaan, dengan tanda tangan, karya seorang seniman. Misalnya lukisan pemandangan S Sudjojono, padahal S Sudjojono tak pernah membuat lukisan itu," ujaernya. 

Wahyudin menilai, untuk membuktikan perkara "plagiarisme" jika dipandang dalam perspektif "asli-palsu" adalah hal yang terbilang sulit.

Dalam seni rupa kontemporer, lanjut dia, ada sebuah metode artistik yang memungkinkan seorang seniman memakai bentuk, teknik, dan ide karya seniman lainnya, hal itu disebut apropriasi.

Baca juga : Menanti Revitalisasi Wayang Golek Sukabumian

Dengan kata lain, apropriasi adalah plagiarisme yang sah. Misalnya, lukisan Mona Lisa oleh Leonardo da Vinci dari abad ke-16, kini sudah banyak seniman yang mengapropriasinya. Salah satu yang paling terkenal adalah Marcel Duchamp, yang pada 1919 mengapropriasi lukisan Mona Lisa dengan menambahkan kumis dan jenggot tipis sebagai elemen parodi.

Hal yang mencengangkan, lukisan berjudul "L.H.O.O.Q Mona Lisa with Moustache" itu justru terjual di Paris dengan harga fantastis, Rp10 miliar, dan Duchamp tidak dituding melakukan plagiarisme atas karya Da Vinci.

Oleh karena itu, tidak sedikit pula seniman di Indonesia yang mempraktikkan apropriasi dalam proses kreatif mereka. Salah satu yang dikenal luas adalah perupa dari Yogyakarta, Agus Suwage. Pada 2006, Agus Suwage mengapropriasi Mona Lisa Leonardo da Vinci dengan menambahkan gestur merokok.

Wahyudin kemudian menanggapi masalah lain, yakni antara Twisted Vacancy dan Ardneks. “Berdasar pengalaman di dunia seni rupa kontemporer, apa yang dilakukan oleh Twisted Vacancy bukanlah plagiarisme, melainkan apropriasi."

"Medium yang dihadirkan Twisted Vacancy pun dalam bentuk bergerak, berbeda dengan Ardneks. Yang saya lihat, Twisted Vacancy memiliki kecenderungan artistik yang sama dengan Ardneks. Akan tetapi, tak ada seorang pun yang bisa melarang itu," kata Wahyudin.

Wahyudin menyimpulkan bahwa apropriasi lazim dan legal dalam dunia seni rupa kontemporer, sebab karya seni tercipta berdasarkan hal yang dilihat, didengar, dan kebiasaan sehari-hari. (Ant/OL-7)

BERITA TERKAIT