29 March 2021, 10:10 WIB

Membangun Ekosistem Seni Mainan di Tanah Air


Galih Agus Saputra | Weekend

Malam itu, Michael Jackson tampak tidak seperti biasanya. Di dekat eskalator lantai UG Ashta District 8, Jakarta, ia menggunakan kaca mata hitam, akan tetapi terlihat absurd karena di kepalanya terdapat kulit pisang. Di sebelahnya juga ada prajurit Stromtrooper. Namun, bentuknya juga tidak seperti di film Star Wars, melainkan lebih menyerupai sosok Mickey Mouse berbaju prajurit.

Sosok di atas sebenarnya bukanlah mahluk nyata melainkan karya seni koleksi Museum of Toys (MOT). Didirikan Win Satrya sejak 2019 lalu, kolektor art toys ini mencoba membangun ruang dan ekosistem seni mainan di Tanah Air.

"Jadi MOT ini awalnya karena saya kolektor, kurang lebih ada 15.000 art toys yang saya miliki, jadi saya bersama dua rekan saya mencoba membuat museum art toys agar menjadi ruang dan inspirasi bagi kreator tanah air," kata Satrya, saat ditemui Media Indonesia, Jumat, (26/3).

Art Toys, menurut Satrya, berbeda dengan mainan atau action figure pada umumnya. Ia lebih terbuka dengan ide dan inspirasi seniman, yang oleh karena itu terkadang terkandung pesan di dalamya.

Karya seni ini, lanjutnya, sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan seni patung. Bahan yang digunakan biasa dibuat dari misalnya, resin atau vinyl, akan tetapi ukurannya lebih kecil. "Kalau patung biasanya berukuran besar, ini ukurannya lebih kecil. Kalau patung gede, biasanya bisa dibeli oleh kolektor dengan harga misalnya ratusan juta, nah ini satu atau dua juta sudah bisa dibawa pulang," imbuhnya.

Tak hanya berhenti di museum, Satrya menjelaskan MOT kini juga merambah ke dunia merek (brand) mainan. Mereka mencoba mewadahi hasil karya anak negeri mulai dari sisi produksi hingga promosi ke luar negeri.

Meski sempat meredup pada 2013, menurut Satrya, animo kreator dan pecinta art toys sebenarnya sudah terlihat sejak 2008. Kala itu, ia membangun sebuah ruang bernama Plastic Culture di Grand Indonesia dan tidak pernah sepi pengunjung.

"Jadi esensinya, dengan kita punya platform seperti ini, kreator Indonesia bisa showcase dan dikenal oleh pecinta art toys dimana pun mereka berada. Memang PR yang harus dikerjakan banyak. Tapi sesuatu yang baru ini kalau diperkenalkan terus menerus melalui pameran dan segala macam, semuanya akan terbentuk," imbuhnya.

Satrya menjelaskan MOT sebenarnya terletak di Greenlake City, Tangerang. Namun, di bulan ini mereka tengah memboyong museum ke District 8 agar lebih dikenal masyarakat umum. Lebih dari itu, mereka kini juga tengah mempersiapkan dua pameran besar bersama kurang lebih 50 seniman lokal dan 2 seniman dari Spanyol.

Proyek kolaborasi dengan 50 seniman, kata Satrya, akan mengangkat salah satu ikon yang menjadi ciri khas Tanah Air yakni orangutan. Selain terkenal, ikon ini katanya juga menjadi ruang eksplorasi yang sangat luas untuk seorang seniman.

"Di sini sampai tanggal 30 bulan depan. Dalam proyek kolaborasi tanggal 15, para seniman akan berkolektif dan kita kasih tema orangutan untuk dieksplorasi," terangnya.

Menurut Satrya, dibawanya karya seniman asal Spanyol kali ini ialah untuk menyikapi kondisi masyarakat yang tengah dilanda pandemi Covid-19. Dengan adanya karya seniman bernama Judas Arrieta dan Dhani Barragan itu, diharapkan masyarakat dapat menemukan kegembiraanya lagi, selain diharap pula para seniman Tanah Air ikut terinspirasi.

Satrya menjelaskan karya dari dua seniman ini sangat kontras. Arrieta yang kini berusia 45 tahun lebih banyak bermain dengan karakter 'pop culture terdahulu', sementara Barragan yang kini berusia 20-an lebih identik dengan semangat milenial.

"Art Toys ini meskipun basisnya mainan, tetapi sebenarnya konsumsinya untuk orang dewasa. Mengapa, karena di situ si seniman terkadang membawa pesan yang lebih umum jadi memang harus, istilahnya, ada filter kalau untuk anak-anak. Meski begitu kita sendiri juga tidak memberikan batasan untuk usia, karena siapa saja bisa membuat atau mengoleksi karya maupun bahasa yang disampaikan melalui art toys ini," pungkas Satrya. (M-4)

BERITA TERKAIT