14 March 2021, 12:00 WIB

Patung-patung yang 'Berbicara'


Galih Agus Saputra | Weekend

JIKA hari ini, Anda berkunjung ke Plaza Indonesia, suasana di sejumlah sudut pusat perbelanjaan itu tampak tak seperti biasanya. Ada sejumlah patung dengan berbagai bentuk, seperti hewan, manusia, bahkan ada pula tak beraturan.

Patung-patung itu, sekalipun diam, tampak seperti menyuarakan pesan. Entah berbicara tentang rumah, ibu dan anak, atau berbagai macam hal tentang kehidupan. Patung-patung itu rupanya memang sengaja dipajang dalam rangka memperingati berdirinya pusat perbelanjaan tersebut 31 tahun silam.

Ulang tahun pusat perbelanjaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat itu, kali ini mengambil tema '31 Years & Fabulous'. Sementara pameran patung dikemas dengan judul 'Seni yang Tidak Pernah Pudar', dan dibuka untuk umum mulai 1 hingga 31 Maret.

Plaza Indonesia, dalam keterangan tertulisnya, menjelaskan seni patung sudah menjadi bagian dari sejarah panjang. Pusat perbelanjaan yang dibangun sejak 1990 itu bahkan punya 'Racana Rupa' yang merupakan salah satu karya Seniman, I Nyoman Nuarta.

"Terletak di lobi Selatan berseberangan dengan patung  selamat datang. Racana Rupa menggambarkan lima perempuan ayu berambut panjang tertiup angin dengan tangan-tangan terbuka, seolah menyambut setiap pengunjung dengan hangat," tulisnya.

Koordinator Pameran 'Seni yang Tidak Pernah Pudar', Poernomo menjelaskan patung yang disuguhkan dalam pameran ini sebenarnya tidak semuanya baru. Ada juga yang dibuat pada 2007, 2003, 2019, hingga 2020. Meski begitu, pesan di dalamnya selalu relevan dengan jaman dan oleh karena itu pula ia 'nyambung' dengan judul pameran.

Meski sebagian besar bergaya kontemporer,  jika dilihat lebih dalam, aliran patung yang dipamerkan bisa bemacam-macam. Ada yang bermain dengan 'kubisme', 'kinektika,' 'abstrak, dan lain sebagainya. Bahan yang digunakan pun tak kalah beragam, mulai dari batu, kayu, resin, hingga fiberglass.

Pameran kali ini, kata Poernomo, adalah momen yang cukup langka. Menurutnya, tak banyak pusat perbelanjaan yang memberikan ruang bagi seniman patung untuk memamerkan karyanya. Dari pemeran ini pula ia kemudian berharap semakin banyak orang mengapresiasi seni patung.

"Selain itu yang paling utama seniman di masa pandemi ini bisa menampilkan karyanya, tidak vakum. Mungkin kalau tidak pandemi, senimannya bisa kes ini untuk berinteraksi dengan pengunjung. Tapi berhubung pandemi, jadi yang didatangkan hanya karyanya saja. Kecuali ada satu yang kemarin ikut bantu display karya," tutur koordinator dari Talenta Organizer tersebut, saat ditemui di Plaza Indonesia, Selasa, (9/3).

Pameran ini menampilkan 43 karya. Adapun seniman yang terpilih untuk pameran terdiri dari 21 nama seperti Putu Sutawijaya, I Nyoman “Ateng” Adiana, Erica Hestu Wahyuni, Erianto, Tri Suharyanto, Syahrizal Zain Koto, Arlan Kamil, Sumbul Pranov, Komroden Haro, Akmal Jaya, Ari Sutaryo, Rudi Hendriatno, Didi Kasi, Beni Kampai, Rinaldi, Andrik Musfalri, Ahmad Santoso, Amboro Liring, Deddy PAW, Abdi Setiawan, dan Jhoni Waldi.

Acara besar

Bagi Penulis Pengantar 'Seni yang Tidak Pernah Pudar', Yuswantoro Adi, pameran kali ini boleh dibilang sebagai sebuah 'acara besar'. Sengaja ia menyebut kata 'besar' karena baginya, menyoal patung berlaku adagium 'size does matter'. Bahkan secara berkelakar ia menjelaskan, apa pun bentuk patungnya asal ia dibesarkan akan menjadi istimewa bahkan boleh berharap ketika diletakkan di tempat yang pas, ia segera menjadi ikon serta-merta sebuah landmark baru.

Dalam katalog pameran Adi juga menjelaskan, seniman yang tampil dalam pameran kali ini pada dasarnya dapat dilacak 'jejak artistik'-nya. Sutawijaya, misalnya, ia adalah salah satu pelukis terbaik Indonesia, yang juga banyak menciptakan karya tiga dimensi. Kali ini ia menampilkan serial “Garudea”, yang di mata Adi bisa disebut instalasi patung.

"Karena memang kumpulan banyak patung yang diatur penempatannya. Menariknya karya ini dapat berbeda tampilannya ketika ditempatkan dengan cara tidak sama  dengan atau tanpa penggantian/tambahan elemen lainnya. Sebuah karya yang luwes," katanya.

Tak kalah menariknya, lanjut Adi, adalah seekor rusa berwarna jingga karya Ateng, juga kerbau bertotol hijau karya Tri Suharyanto, serta kuda putih bertempelan batu karya Komroden Haro. Ketiga binatang berkaki empat itu pada mulanya biasa saja, akan tetapi telah digubah sedemikian rupa oleh para seniman sehingga menjadi 'spesies baru' yang membawa Adi dalam keadaan 'speechless'.

"Amboro Liring dengan Spiderman makan nasi bungkus. Kita tahu kostum superhero ini memang colourfull. Sebetulnya jika rusa jingga karya Ateng juga dihitung, setidaknya ada lima karya yang diwarnai ceria," imbuh Adi.

Patung yang dipajang dalam pameran kali ini, menurut Adi, juga menggambarkan kesetiaan pada bahan atau material. Waldi  dengan kayu jatinya, Kasi dan karya berbungkus kertas kardusnya, serta Jaya dengan pahatan batunya. Selain itu, ia juga memberi catatan, sesungguhnya bukan soalan besar atau tentang bahan apa, bagaimana bentuknya dan warna apa yang ditorehkan seniman dalam sebuah patung, karena yang terpenting adalah seberapa kuat nilai dan gagasan yang ditawarkan.

Menurut Adi, seni patung pada dasarnya masuk dalam ranah seni murni (Fine Art). Maka menjadi baik adalah yang utama. Kebaikan itu relatif, namun dalam kesenian ia dapat diukur. Dan hasil pengukurannya mengatakan, pilihan peserta pameran ini bagus. Terlebih dengan diajaknya pematung teruji dan  terpuji seperti Zain Koto, Setiawan, Hendriatno, Sutaryo, Rinaldi, Musfalri, dan Santoso.

“Nah sebagaimana disebut di muka, saya membayangkan seandainya karya-karya istimewa ini, jika salah satunya atau beberapa dipilih, kemudian dibuat ulang dengan skala besar jika perlu, untuk dijadikan landmark baru, ditempatkan di banyak titik, tidak harus di Jakarta, niscaya akan sangat menarik sekaligus penting. Demi sebuah “fabulousness”, betapa menakjubkannya kebudayaan Indonesia, menunjukkan kehebatan serta kekayaan Indonesia Maju," pungkas Adi. (M-4)

BERITA TERKAIT