08 March 2021, 08:05 WIB

Warga New York Menikmati Keheningan Kota


Adiyanto | Weekend

PADA 2019, sekitar 67 juta turis mengunjungi Kota New York. Tahun berikutnya, jumlah wisatawan hanya sepertiganya dari jumlah tersebut, itu pun sebagian besar datang sebelum pandemi mulai melanda kota itu pada Maret.

Kini, warga lokal memanfaatkan minimnya turis selama pandemi untuk mengunjungi situs ikonik di kota Big Apple itu.  Pada pukul 10:00 (1500 GMT) pada Jumat (5/3) lalu, hanya ada sekitar 10 orang berada di kawasan pejalan kaki sekitar 200 meter (650 kaki) di Pulau Liberty, menatap patung yang menjadi ikon di daerah itu. Padahal, di waktu normal, meski bukan musim liburan, ratusan turis biasanya akan berswafoto di depan patung tersebut.

Alexander Lumbres, seorang mahasiswa di City University of New York, telah mengunjungi pulau itu 20 kali sebelumnya, tetapi tidak pernah dapat menikmati pemandangan patung itu secara sempurna karena banyaknya orang berkerumun.

“Sangat sulit bagi saya untuk memotret. Biasanya, kami akan berputar-putar di bagian belakang, hanya untuk mendapatkan foto yang layak dengan keluarga dan semuanya,” katanya.

NYC & amp, perusahaan agensi, yang memasarkan kota itu di seluruh dunia dan yang memangkas tenaga kerjanya hampir setengahnya karena virus korona, meluncurkan kampanye "All in NYC" untuk mendorong warga New York mengunjungi kota mereka sendiri.

“Membuat New York kembali berdiri (hidup) akan dimulai dari wargamya,” kata wakil presiden eksekutif Christopher Heywood.

"Ketika tinggal di sini, Anda menerima begitu saja," kata Darlene Vann, seorang tentara yang ditempatkan di New York selama setahun. Dia mengunjungi Patung Liberty untuk pertama kalinya.

Jerry Willis, dari National Park Service, badan pemerintah yang mengelola taman dan situs nasional, mengatakan penduduk New York terkenal, karena tidak pernah mengunjungi tempat-tempat terkenal di kotanya sendiri.

Pada kuartal keempat tahun 2020,  lembaga observasi Empire State Building mencatat penurunan pengunjung 94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski buka selama tiga bulan penuh.

Banyak warga New York menghindari tugu peringatan 9/11 (serangan 11 September 2001) selama beberapa tahun pertama, baik karena trauma atau karena terlalu ramai, hingga pengelola meluncurkan kampanye pemasaran khusus di 2016 bertajuk "Kota Kita. Kisah Kita".

Janice Ryan kehilangan seorang teman dalam serangan Al-Qaeda pada 11 September 2001. Dia baru-baru ini mengunjungi untuk menemukan nama temannya di daftar korban yang diukir di situ.  “Lebih mudah bagi saya untuk datang hari ini karena biasanya ramai sekali,” ujarnya.

Mark Robinson, seorang sutradara teater, sering mengunjungi "Ground Zero" untuk merenungi peristiwa tersebut,

"(Biasanya) saya tidak akan datang ke sini pada hari Jumat. Tapi jalan-jalan di sini di kawasan Wall Street di pusat kota cukup sepi. Jadi sepertinya hal yang tepat untuk dilakukan di hari yang begitu indah," katanya..

Meskipun menikmati ketenangan New York, penduduk setempat mulai merindukan hikuk-pikuk kotanya seperti dulu. "Sudah waktunya kita kembali ke keramaian dan hiruk pikuk kota yang normal," kata Jay Vann. (AFP/M-4)

.

BERITA TERKAIT