25 February 2021, 06:35 WIB

Melawan Tradisi Patriaki dengan Menjadi Sopir Taksi


Adiyanto | Weekend

SELAMA setahun terakhir, perempuan muda berhijab itu menyusuri jalan-jalan di Mogadishu, ibu Kota Somalia, dengan taksi yang dikemudikannya. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Asha Mohamed, demikian nama perempuan itu, mesti menghidupi kedua anak serta ibunya di rumah. Pilihan kariernya sebagai sopir taksi didorong oleh hasrat dan juga kebutuhan setelah bercerai dari suaminya tiga tahun silam.

Menjadi pengemudi taksi di salah satu negara paling konservatif dan berbahaya di dunia ini, tidaklah mudah. Mengemudi taksi di Mogadishu tidak hanya biasanya diperuntukkan bagi pria, tetapi juga berbahaya di kota di mana kelompok radikal Al-Shabaab yang terkait Al Qaeda, kerap meledakkan bom mobil di persimpangan dan pos pemeriksaan keamanan.Dalam ledakan baru-baru ini pada 13 Februari lalu, tiga orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.

Tapi, Asha yang mencintai mobil dan suka bermain video game balapan di ponselnya, tidak khawatir. "Di masa kecil, saya bercita-cita ingin menjadi seorang pengemudi, tapi saya tidak berpikirakan bekerja sebagai sopir taksi," katanya kepada AFP.

Dia mengatakan dia telah diberi kesempatan oleh perusahaan yang relatif baru bernama Rikaab Taxi dan tidak ingin menyia-nyiakannya.

"Jumlah perempuan yang bekerja sebagai sopir taksi sedikit karena alasan keamanan, tapi secara bertahap meningkat," kata Ilham Abdullahi Ali, kepala keuangan di Rikaab Taxi.

Penghasilan Asha bisa mencapai hingga US$40 atau sekitar Rp560 ribu sehari. Jumlah itu lumayan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Asha berharap dengan menentang tradisi patriaki, dia dapat berkontribusi untuk mengubah pikiran orang-orang sebangsanya tentang peran perempuan.

Sadiq Dahir, mahasiswi Universitas Salaam, mengaku terkejut saat pertama kali melihat pengemudi taksi perempuan, namun pandangannya kini sudah berubah.

"Belakangan ini saya menggunakan jasa Taksi Rikaab ini. Walaupun didominasi laki-laki, saya lebih memilih sopir taksi perempuan karena mereka mengemudi dengan aman dan tiba tepat waktu."

Ketidaksetaraan gender

Mogadishu, Ibu kota Somalia, yang terletak di garis pantai putih bersih dengan perairan biru kehijauan, kerap dirundung kekerasan satu dekade ini setelah pasukan Al-Qaeda yang terkait dengan Al –Shabaab, diusir dari kota oleh pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika yang bertempur bersama pasukan pemerintah.

Penggulingan rezim militer Presiden Siad Barre pada 1991 menyebabkan kekacauan dan perang saudara selama beberapa dekade. Tiga puluh tahun kemudian, pemerintah federal yang didukung internasional belum mendapatkan kendali penuh atas negara atau mengadakan pemungutan suara (one man, one vote) sejak pemilu terakhir kali digelar pada 1969, yang telah dijanjikan tahun ini.

Bahkan, penyelenggaraan pemungutan suara tidak langsung telah ditunda lantaran pertikaian politik, yang baru-baru ini menyebabkan baku tembak antara kubu yang berlawanan di ibu kota.

Hak-hak perempuan berada di urutan paling bawah dalam daftar prioritas, dan data terbaru, pada tahun 2012, menunjukkan negara itu berada di antara empat terbawah dalam indeks kesetaraan gender Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Perempuan menderita eksklusi dan ketidaksetaraan yang parah di semua dimensi indeks - kesehatan, lapangan kerja, dan partisipasi pasar tenaga kerja. Gadis-gadis Somalia dikawinkan pada usia yang sangat muda, dan kekerasan terhadap mereka terus meningkat. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT