23 February 2021, 18:45 WIB

Buluh, Bahan Atap Rumah Ramah Lingkungan yang Populer di Eropa


adiyanto | Weekend

DI tengah badai salju di laguna Sungai Vistula dekat pantai Baltik Polandia, seorang petani sedang menebang buluh, sejenis tanaman berumpun, berakar serabut, serta batangnya beruas dan berongga, mirip jerami. Tanaman itu akan diekspor ke seluruh Eropa untuk digunakan sebagai atap rumah yang ramah lingkungan.

"Kami telah membuat atap buluh sejak lama. Tanaman ini digunakan untuk menutupi atap karena menjadi penyekat yang sangat baik, berkualitas tinggi, dan murah,"  kata Ryszard Zagalski, pemilik pertanian buluh di desa utara Jagodno, dekat kota Elblag, Polandia, seperti dikutip AFP, Selasa (23/2)

Menurut dia saat ini buluh jarang lagi digunakan sebagai bahan atap, sehingga pekerjaan sebagai petani buluh praktis menghilang sejak 1950-an.

"Saya telah melihat tanaman ini berusia hampir berabad-abad digunakan untuk atap di Swedia. Jika Anda menggunakan alang-alang/buluh dengan cara yang benar, dalam keadaan normal, atap bisa bertahan lebih dari 50 tahun selama dirawat secara teratur," kata Zagalski.

Seperti sektor lainnya, industri pertanian buluh mendapat saingan dari produk Tiongkok.

"Tanaman buluh Tiongkok mengambil alih dan menghancurkan pasar Eropa. Beberapa kolega saya tidak mampu bertahan dalam persaingan ini," kata Zagalski.

Saat ini, kata dia, ada sekitar 10 lahan/industri pertanian buluh di Polandia. Sebagian besar produknya diekspor ke eropa. Zagalski sendiri mengekspor tanamannya ke Jerman, Belanda, Denmark, dan Swedia.

Selain tahan lama, tanaman buluh 100% ramah lingkungan dan dapat terurai secara alami.

"Ketika saatnya tiba untuk membuang buluh dari atap, yang harus Anda lakukan adalah membawanya ke ladang, menguburnya di tanah dan didaur ulang," kata Zagalski. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT