20 February 2021, 19:30 WIB

AS Resmi Kembali ke Perjanjian Paris untuk Atasi Perubahan Iklim


Adiyanto | Weekend

AMERIKA Serikat, Jumat (19/2) atau Sabtu pagi WIB secara resmi kembali ke kesepakatan iklim Paris. Presiden Joe Biden pun bersumpah untuk menjadikan perang melawan pemanasan global sebagai prioritas utama.

Sebulan setelah Biden menjabat, negara dengan ekonomi terbesar di dunia dan penghasil karbon terbesar kedua itu, secara resmi kembali ke perjanjian Paris (2015) yang bertujuan mengantisipasi peningkatan suhu Bumi.

Masuknya kembali Amerika Serikat, berarti perjanjian Paris kembali mencakup hampir setiap negara. Sebelumnya, pendahulu Biden, Donald Trump menarik diri dari perjanjian itu.

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Muenchen, beberapa jam setelah AS secara resmi bergabung kembali dengan perjanjian itu, Biden meminta negara-negara Eropa untuk meningkatkan komitmen memerangi perubahan iklim.

"Kami tidak bisa lagi menunda atau melakukan yang minimal untuk mengatasi perubahan iklim. Ini adalah krisis eksistensial global. Kita semua akan menanggung akibatnya."

Menteri Luar Negeri Antony Blinken, dalam pernyataannya mengatakan perubahan iklim dan diplomasi sains tidak akan pernah lagi menjadi sekadar tambahan dalam diskusi kebijakan luar negeri AS.

"Mengatasi ancaman nyata dari perubahan iklim dan mendengarkan para ilmuwan adalah inti dari prioritas kebijakan domestik dan luar negeri kami,” Blinken menambahkan.

Sambil memuji kesepakatan Paris, yang dinegosiasikan oleh mantan Presiden Barack Obama, Blinken mengatakan diplomasi iklim yang akan datang akan sangat penting.

Biden merencanakan KTT iklim 22 April bertepatan dengan Hari Bumi dan John Kerry, mantan menteri luar negeri dan sekarang utusan iklim AS, telah meminta dunia untuk meningkatkan komitmen mereka selama pembicaraan iklim PBB, di Glasgow, Skotlandia pada November tahun lalu.

"Saya pikir kita harus mengakhiri kata perubahan iklim dan mengakui fakta bahwa sekarang itu adalah krisis iklim," kata Kerry, berbicara pada acara virtual PBB untuk merayakan kembalinya Amerika ke perjanjian Paris.

Kesepakatan Paris bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu global hingga dua derajat Celcius (3,6 Fahrenheit) di atas tingkat pra-industri. Sebuah studi baru-baru ini menemukan, sekitar 480.000 orang meninggal dunia pada abad ini akibat bencana alam yang terkait dengan cuaca ekstrem. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT