20 February 2021, 08:05 WIB

Senyawa Rilis Satu Album untuk 44 Label Global


Fathurrozak | Weekend

GRUP musik asal Yogyakarta, Senyawa sudah mencengkeramkan kuku mereka di kancah musik global setidaknya selama satu dekade terakhir. Mengusung musik eksperimental yang membaurkan antara genre arus utama berkelindan dengan unsur-unsur musik tradisi.

Seperti halnya musisi maupun kelompok musik lain di belahan dunia, pandemi covid-19 jadi tantangan untuk tetap memunculkan cara-cara baru yang adaptif. Begitu pula Senyawa, yang pada masa sebelum pandemi pendapatan mereka secara dominan ditopang dari tur internasional.

Senyawa, yang digawangi duo Rully Shabara dan Wukir Suryadi pun punya gagasan unik. September silam, keduanya merilis album Alkisah.Duo ini memutuskan karya mereka tidak lagi dirilis hanya melalui satu label. Mereka membuat tawaran terbuka bagi label manapun yang bersedia menjual edisi kecil dari tiap trek di Alkisah, untuk dibuat versi lokal dari rekaman yang sama.

Hingga pekan ini, setidaknya 44 label yang tersebar di empat benua akan menawarkan versi unik album Alkisah. Masing-masing dengan pendekatan yang berbeda. Dan dalam banyak contoh, label yang merilis Alkisah punya trek bonus. Ini adalah iterasi paling berani dari kredo baru Senyawa: “Desentralisasi adalah keniscayaan.”

“Ini bukan tentang Senyawa lagi. Ini bukan tentang album kami. Kami tidak ingin mendominasi siapa pun. Ini bisa menjadi musik  bagi siapa saja," kata Shabara, dikutip dari The New York Times, Jumat, (19/2).

Duo ini membagikan file grafik dan audio, mendorong label untuk membuat sampul yang mungkin menarik bagi audiens mereka dan membuat remix.

“Kami ingin label juga punya kepemilikan. Di Beirut boleh punya album Senyawa, tetapi dengan cita rasa seperti album dari Beirut, bukan Indonesia,” kata Shabara.

Sementara itu, musikus-produser asal AS dan pendiri label Southern Lord yang kini tinggal di Paris Stephen O'Malley mengutarakan pendapatnya mengenai tawaran ide Senyawa. Ia pernah berkolaborasi dengan Senyawa di festival seni dua tahunan Europalia. Menurutnya, gagasan itu tidak perlu dieskalasi menjadi strategi baru dalam penjualan karya.

“Jadi mengapa ide ini harus menjadi suatu yang berkelanjutan sebagai bisnis? Tentu musik itu berkelanjutan. Itu sudah ada sejak awal dan ditularkan sepanjang waktu."

Shabara pun mengatakan, sebagai musisi Senyawa tentu sama posisinya dengan musisi di belahan dunia lain.

“Kami adalah musisi seperti halnya mereka yang ada di belahan dunia, melakukan eksperimen. Kebetulan saja, kami dari Indonesia."

“Jika kami punya keinginan agar musisi Indonesia bisa berkembang dan akhirnya dihormati seperti musisi dari barat, tentu harus punya pola pikir, kami adalah musisi global, bukan musisi yang berasal dari 'dunia ketiga.'” (M-4)

BERITA TERKAIT