29 January 2021, 11:09 WIB

Petuah Pohon Palem Tua di Jantung Warsawa


Adiyanto | Weekend

POLANDIA bukanlah negara tropis. Namun, jika berkunjung ke Warsawa, Anda akan terpesona dengan sebuah pohon palem yang menjulang dan menjadi salah satu landmark ibu kota negara itu. Berdiri di atas bundaran yang sibuk, pohon buatan itu mulai ‘hidup’ 18 tahun yang lalu sebagai proyek seni dan sekarang menjadi titik pertemuan eksotis bagi banyak orang.

Sebastian Cichocki, kurator Museum of Modern Art yang merupakan penjaga pohon mengatakan pohon palem itu mungkin terlihat asing dan seperti sesuatu yang jatuh dari langit tetapi itulah yang menangkap imajinasi dan menginspirasi orang.

"Pohon adalah benda hidup. Bukan hanya karya seni estetika, tetapi penghasil energi sosial . Objek tempat Anda dapat memproyeksikan lamunan, keinginan, dan ketakutan Anda sendiri," katanya kepada AFP.

Pohon setinggi 15 meter (49 kaki) itu adalah benda palsu yang meyakinkan. Batangnya terbuat dari baja yang ditutupi kulit pohon kurma asli. Sedangkan daunnya terbuat dari logam dan plastik. Kendati demikian, itu tidak menghalangi burung untuk bersarang di ‘pohon’ tersebut.

Kisah kehilangan  

Proyek seni ini berasal dari perjalanan seniman Polandia, Joanna Rajkowska ke Israel. Ketika itu dia menyaksikan ketegangan dan ketakutan saat terjadi bentrok antara pasukan intifada Palestina melawan tentara pendudukan Israel yang dimulai pada akhir 2000.

"Ketika saya kembali, apa yang saya rasakan adalah perasaan luar biasa bahwa orang-orang Yahudi seharusnya berada di sini (di Polandia) dalam kemakmuran dan penuh kebahagiaan. Tanah ini (Polandia) harus benar-benar menjadi rumah mereka," katanya kepada AFP.

Sebelum Perang Dunia II, Polandia memiliki komunitas Yahudi terbesar di Eropa tetapi 90%-nya tewas saat tentara Nazi menduduki negara itu. "Pohon palem diciptakan dari kekosongan ini. Kesedihan yang sangat mendalam karena kami kehilangan sesuatu," kata Rajkowska, menyebut tanaman tropis yang dia lihat di sekitar Israel sebagai "tanda kehidupan".

Ditempatkan di atas salah satu jalan raya utama Warsawa - Jerusalem Avenue - pohon palsu itu juga menarik perhatian komunitas Yahudi lokal abad ke-18 yang memberinya nama.

Proyek seni yang disebut "Greetings From Jerusalem Avenue" ini juga merupakan eksperimen sosial untuk melihat bagaimana tanggapan orang Polandia. "Ada ketidaksukaan, mereka terkejut," kata Rajkowska, tentang para penentang pohon itu.

"Terutama para sopir taksi. Mereka sangat membenci pohon palem," tambahnya.

Pohon itu juga sering mendapat kritik. Seorang pejalan kaki menyebutnya sampah yang tidak berguna.

Tapi, itu lumrah di banyak kota. "Awalnya saya terkejut, tapi sekarang saya tidak bisa membayangkan bundaran tanpa pohon palem itu," kata pensiunan Malgorzata Blaszczyk kepada AFP.

Seorang sales Bartosz Macichowski mengenang musim panas yang terik ketika daun-daun palem diganti dengan daun-daun mati yang terkulai untuk mengingatkan masyarakat tentang dampak perubahan iklim.

"Sangat menyenangkan bahwa dengan mengubah penampilannya, pohon palem itu dapat menunjukkan kepada kami apakah segala sesuatunya sudah berjalan ke arah yang benar. Seperti barometer sosial," kata pria 44 tahun itu.

Salah satu daun yang layu sekarang menjadi bagian dari pajangan di dekat pohon tersebut bersama dengan sarang burung yang ditemukan di atasnya. Sebuah peringatan/pesan tentang lingkungan yang mencolok tertera di dekat pohon tersebut . Begini bunyinya..."Bayangkan, puluhan juta tahun yang lalu pohon palem tumbuh di Polandia. Mereka tumbuh subur saat kalian semua masih berjongkok di gua!. Apakah kalian berpikir bagaimana keturunan kalian akan bertahan dalam, katakanlah, beberapa ratus tahun? Di udara  atau air yang kondisinya seperti apa dan suhunya berapa? Singsingkan lengan baju Anda dan mulailah berbuat,  jika tidak, Anda akan kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup." (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT