26 January 2021, 19:10 WIB

Kepala UE Ingatkan Pentingnya Melindungi Keanekaragaman Hayati


adiyanto |

PRESIDEN Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menyerukan perlunya kesepakatan global untuk melindungi keanekaragaman hayati dengan skala dan ambisi yang sama dengan pakta iklim Perjanjian Paris.

Berbicara melalui konferensi video di Forum Ekonomi Dunia, Selasa (26/1), von der Leyen mengatakan UE akan melobi untuk kesepakatan seperti itu pada KTT keanekaragaman hayati PBB COP-15 yang rencananya digelar di Kunming, Tiongkok pada akhir tahun ini.

"Ini harus seperti COP21 untuk iklim, karena kita membutuhkan kesepakatan gaya Paris untuk keanekaragaman hayati," katanya.

KTT Kunming ditunda tahun lalu karena pandemi virus korona, dan pemerintah dunia fokus untuk memerangi wabah tersebut serta memulai kembali menata ekonomi mereka.

Namun von der Leyen, yang juga seorang dokter sebelum menjadi politisi Jerman, mengatakan melindungi beragam spesies dan habitat bisa menjadi kunci untuk melindungi kesehatan manusia.

"Jika kita tidak segera bertindak untuk melindungi alam, pandemi berikutnya akan segera terjadi," katanya, mengutip anekdot yang menyarankan penggundulan hutan di Afrika telah menggusur kelelawar dan berkontribusi pada wabah Ebola.

"Bagi mereka yang lebih menyukai kasus bisnis, ini dia: Lebih dari setengah dari PDB global bergantung pada keanekaragaman hayati yang berfungsi tinggi dan berjasa bagi ekosistem, dari makanan hingga pariwisata," katanya.

Forum Ekonomi Dunia adalah pertemuan tahunan para pemimpin politik dan bisnis, yang biasanya diadakan di kawasan resor di Davos,  Swiss, tetapi tahun ini diadakan secara online lantaran adanya pandemi.

Von der Leyen memuji komitmen Presiden AS yang baru Joe Biden untuk kembali ke Perjanjian Iklim Paris 2016, yang telah ditinggalkan oleh pendahulunya Donald Trump. Dia mengatakan rencana pemulihan ekonomi Komisi Eropa, yang disebut Kesepakatan Hijau, akan meningkatkan pertumbuhan sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi keanekaragaman hayati. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT