26 January 2021, 09:19 WIB

Facebook News Bantu Media di Inggris yang Kesulitan Keuangan


Adiyanto | Weekend

FACEBOOK News diluncurkan di Inggris pada Selasa (26/1). Dengan platform ini, para pengguna jaringan sosial terkemuka di dunia itu dapat menikmati konten berita yang dikuratori dan dibeli dari penerbit konvensional yang kini sedang berjuang di tengah kesulitan finansial.

Sebelumnya, platform ini telah diluncurkan di Amerika Serikat pada akhir 2019. Pihak Facebook berencana memperluasnya ke seluruh dunia.

Facebook akan membayar sejumlah konten milik media konvensional seperti Channel 4 News, Daily Mail Group, DC Thomson, Financial Times, Sky News, dan Telegraph Media Group. Raksasa teknologi itu telah menyetujui kesepakatan dengan The Economist, The Guardian, The Independent, dan The Mirror.

Saat ini, sejumlah perusahaan media, khususnya cetak, sedang berjuang dengan berkurangnya pendapatan iklan serta kebiasaan pembaca yang beralih ke media online yang tersedia secara gratis. Hal ini memaksa sejumlah koran tutup.

"Tujuan kami adalah membantu mempertahankan jurnalisme nasional dan lokal yang hebat dan menciptakan nilai lebih bagi penerbit," tulis Jesper Doub, direktur kemitraan berita di Eropa untuk Facebook, dalam sebuah blog.

"Produk ini merupakan investasi multiyears yang menempatkan jurnalisme orisinal di depan audiens baru serta memberi penerbit lebih banyak peluang iklan dan pelanggan," tambahnya.

Sekretaris Digital Oliver Dowden menyambut baik langkah tersebut. Dia menyebut jurnalisme sebagai landasan demokrasi dan penangkal kesalahan informasi yang berbahaya.

"Penerbit media di Inggris mencari hubungan bisnis yang adil dengan platform online, jadi ada baiknya melihat Facebook bekerja untuk mempromosikan hasil kinerja mereka," tambahnya.

Pada April tahun lalu, Persatuan Jurnalis Nasional (NUJ) mengatakan pandemi virus corona telah memperburuk situasi yang dihadapi sejumlah surat kabar. Mereka meminta pemerintah Inggris untuk mengenakan pajak pada raksasa teknologi global guna membantu menopang penerbit yang kesulitan. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT