23 January 2021, 07:10 WIB

Barangsiapa Bisa Tangkap Karbon Dioksida, Siap-Siap Jadi Triliuner


Irana | Weekend

Miliuner Elon Musk telah menawarkan hadiah US$100 juta, atau setara Rp1,4 triliun lebih, sebagai hadiah untuk ide teknologi penangkapan karbon terbaik.

Teknologi penangkapan karbon adalah bidang penelitian yang berusaha ‘menangkap’ dan menyimpan karbon dioksida, gas rumah kaca utama, sebelum memasuki atmosfer. Teknologi ini telah secara aktif diselidiki selama beberapa tahun, tetapi baru sedikit kemajuan yang dihasilkan dalam menemukan metode yang layak.

Pengumuman dari Mr Musk datang beberapa hari setelah Presiden AS Joe Biden meneken perintah eksekutif yang mengumumkan AS akan bergabung kembali dengan Perjanjian Paris dan menjadikan krisis iklim yang sedang berlangsung dan penggunaan bahan bakar fosil sebagai prioritas pemerintahannya.

Upaya untuk mengekang perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir telah bergeser dari teknologi penangkapan karbon ke pengurangan emisi, dengan melihat kemajuan yang mandek.

Musk, yang juga bos Tesla dan SpaceX, berharap suntikan dana dari cadangan keuangannya yang cukup akan memulai kemajuan di sektor ini.

Awal bulan ini dia menggantikan Jeff Bezos sebagai orang terkaya di dunia selama empat hari, karena melonjaknya harga saham perusahaannya. Kekayaan bersihnya mencapai US$ 188,5 miliar dan sekarang sekitar US$176 miliar.

'Saya menyumbangkan $ 100 juta untuk hadiah untuk teknologi penangkapan karbon terbaik,' tulis Musk dalam akun Twitternya, diikuti dengan cuitan kedua yang menjanjikan 'Detail minggu depan.'

Musk, yang ikut mendirikan dan menjual perusahaan pembayaran Internet PayPal, kini memimpin beberapa perusahaan paling futuristik di dunia. Selain Tesla, dia mengepalai perusahaan roket SpaceX dan Neuralink, sebuah startup yang mengembangkan antarmuka mesin otak dengan bandwidth sangat tinggi untuk menghubungkan otak manusia ke komputer.

Dia sebelumnya telah menguraikan peta jalannya tentang bagaimana dunia akan membuang bahan bakar fosil dan merangkul sumber terbarukan, termasuk merevolusi teknologi baterai, memprioritaskan mobil listrik, dan mengembangkan energi surya dan angin.

Teknologi yang dikembangkan Tesla, misalnya, telah diadaptasi untuk melahirkan panel surya baru yang bisa menggantikan atap tradisional. Ubinnya terlihat sama dengan atap standar, dan Tesla mengklaim mereka bertahan tiga kali lebih lama dari panel surya biasa.

Musk juga memprioritaskan cara menyimpan energi setelah dibuat dari sumber yang bersih, dengan fokus pada baterai.

Di Australia, ia membangun baterai lithium-ion yang mencakup 10.000 meter persegi dan mengalirkan listrik yang dihasilkan angin ke jaringan listrik selama 24 jam sehari. Perkebunan baterai 100MW memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup untuk memberi daya pada 30.000 rumah. (DailyMail/M-2)

BERITA TERKAIT