17 January 2021, 04:45 WIB

Mengenal Sejarah dan Teknologi Black Box Pesawat


Sumber: Boeing/National Geographic/Gulfnews/Graphic News/Tim Riset MI-NRC | Weekend

SEKITAR seminggu lalu, tepatnya Sabtu (9/1), pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 tujuan Pontianak jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Pencarian oleh tim gabungan pun masih terus dilakukan hingga kini, termasuk pencarian black box atau kotak hitam.

Black box merupakan komponen pesawat yang paling dicari jika terjadi kecelakaan. Dengan alat ini para ahli dapat meneliti penyebab terjadinya kecelakaan pesawat.

Black box merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut electronic flight data recorder atau perekam data penerbangan elektronik. Alat ini kali pertama ditemukan ahli kimia asal Australia, David Warren, pada 1953. Pada dekade selanjutnya, black box menjadi hal wajib di maskapai penerbangan di seluruh dunia dan Australia menjadi negara pertama yang mewajibkannya.

 Black box pesawat meliputi CVR dan FDR ataupun kombinasikeduanya yang terdapat pada pesawat modern. CVR (cockpit voicerecorder) merupakan alat yang merekam percakapan pilot dankopilot, diskusi awak, pengumuman kepada penumpang, sertasuara mesin. Sementara itu, FDR (flight data recorder) ialah alatyang merekam data penerbangan, semisal ketinggian pesawat,kecepatan, putaran mesin, autopilot, dan radar.

Sebelum dapat digunakan, black box (baik CVR maupun FDR) telah menjalani serangkaian tes, semisal dibakar dalam suhu 1.100 derajat celsius selama 1 jam, dijatuhi pemberat 227 kg dari ketinggian 3 meter, dan dilontarkan dari meriam udara ke honeycomb aluminium, demi menguji ketahanannya.

BERITA TERKAIT