16 January 2021, 03:30 WIB

Menyelisik kembali Mutiara Hitam dari Lereng Muria


Bus/M-2 | Weekend

Bagi masyarakat yang mendiami kawasan lereng pegunungan Muria, Jawa Tengah, kopi tak hanya menjadi komoditas yang diperdagangkan semata. Kopi adalah sejarah yang hidup (dan menghidupi) dalam tradisi masyarakat Muria dari masa ke masa. Apalagi bagi para warga Desa Colo, salah satu desa di lereng Muria yang sebagian besar warganya masih menggarap kebun kopi.

Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Desa Colo dikenal sebagai salah satu penghasil komoditas kopi di Kudus. Pada era itu, produksi kopi di Colo melimpah dengan kualitas bagus hingga muncul sebuah rumor yang dipercayai oleh banyak warga di sana bahwa kopi yang tumbuh di tanah desa telah dikirim sampai ke negeri Belanda.

Namun, di masa ini, kopi khas Muria telah kehilangan pamor. Ia tenggelam dalam kubangan sejarah dan tak pernah disinggung oleh generasi kiwari. Namanya kalah tenar jika disandingkan dengan kopi-kopi dari daerah lain, misalnya kopi Priangan, kopi Gayo, kopi Kintamani, dan kopi Toraja. Upaya untuk memperkenalkan kembali kopi Muria inilah yang kemudian menggerakkan Afthonul Afif (dkk) untuk menulis buku bertajuk Kopi Muria: Memotret Perjalanan Mutiara Hitam dari Pegunungan Muria.

Buku setebal 164 halaman ini hadir dalam format reportase investigatif yang ditulis dengan gaya semi-feature sehingga pembaca mampu mendapatkan gambaran utuh tentang perjalanan panjang yang telah ditapaki oleh kopi Muria dalam sejarah industri kopi Indonesia. Pembaca pun bisa memperoleh gambaran informasi visual dari ilustrasi foto yang disajikan secara khusus di tiap-tiap bagian buku.

Pada bagian pertama terdapat enam tulisan yang membahas perihal sejarah asal usul kopi Muria, bagaimana komoditas tersebut melembaga dalam kehidupan masyarakat di lereng Muria. Kemudian pada bagian selanjutnya, ada lima ulasan yang lebih fokus membahas geliat ekonomi yang tercipta dari komoditas kopi ini. Bagian ketiga atau terakhir merupakan halaman-halaman persembahan yang dikhususkan untuk mengulas empat sosok yang telah bekerja keras mengangkat derajat kopi Muria di masa kini.
 
Asal-usul kopi Muria

Pelacakan sejarah tentang kopi Muria yang tersaji pada bagian pertama buku ini mampu memotret secara utuh kisah tentang bibit kopi yang didatangkan secara besar-besaran oleh Veree­nigde Oost-Indische (VOC) ke Jawa pada 1696-1699. Kebijakan tersebut menuai hasil yang cukup menggembirakan, kopi yang ditanam di beberapa daerah di Jawa ternyata memiliki kualitas yang baik. Hingga puncaknya pada 1711 untuk pertama kalinya ‘kopi Jawa’ dilelang di Eropa, yang menjadi cikal bakal awal hadirnya perkebunan kopi di seantero Jawa, termasuk di lereng Muria saat perkebunan Jollong didirikan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 1895.

Lebih dari satu abad kopi hadir di lereng Muria, dan sadar atau tidak ia telah memengaruhi tatanan kehidupan masyarakat Muria, bahkan telah menyatu dengan tradisi masyarakatnya yang termanifestasi dalam upacara adat wiwit kopi yang hingga hari ini masih rutin digelar, salah satunya di Desa Colo.

‘Wiwit kopi adalah upacara yang menandai dimulainya panan kopi. Tradisi yang sudah berjalan turun-temurun ini diselenggarakan setahun sekali, biasanya antara Juli hingga September. Selain dilakukan secara kolosal, upacara ini juga dilakukan secara mandiri oleh masing-masing petani’ (halaman 58).

Sayangnya, hingga beberapa waktu belakangan, pengolahan komoditas kopi yang dilakukan masyarakat lokal masih identik dengan cara tradisional, yakni mencampurkan kopi dengan jagung dan beras. Mereka baru mengenal mekanisme pengolah­an dan pengemasan kopi yang lebih modern pada 2013. Meskipun terhitung telat merespons perkembangan pasar kopi di Indonesia, upaya yang dilakukan untuk mengatasi ketertinggalan itu terhitung cukup cepat. Hal ini terkonfirmasi dengan mulai menjamurnya jenama kopi baru yang mengangkat kopi Muria sebagai komoditas unggulan.

‘Hingga tahun 2020, sudah lebih dari 30 merek produk kopi kemasan yang lahir di Colo dan sekitarnya.... Lahirnya produk-produk kopi kemasan ini setidaknya menambah daya serap kopi mentah yang dihasilkan oleh para petani Colo dan sekitarnya sehingga dapat mengurangi ketergantungan kepada tengkulak, selain juga mampu menyerap tenaga kerja lokal’ (halaman 74).

Secara keseluruhan, buku ini berhasil menguraikan pertaut­an antara komoditas kopi dan masyarakat lereng Gunung Muria dari masa ke masa dalam kerangka reportase investigatif. Sejumlah detail informasi yang disajikan dalam buku ini pun cukup membantu pembaca untuk mengenal kembali kopi Muria yang dulu sempat tenar, selain juga menjadi ajakan kepada pembaca untuk ngopi di lereng Muria. (Bus/M-2)

BERITA TERKAIT