14 January 2021, 09:37 WIB

Akibat Deforestasi, Lebih dari 43 Juta Hektare Hutan Lenyap


adiyanto | Weekend

LEBIH  dari 43 juta hektare hutan, lebih luas dari Jerman, telah hilang dalam lebih dari satu dekade akibat deforestasi.

Lembaga konservasi WWF, Rabu, (13/1) mengungkapkan setiap tahun area hutan terus diratakan, untuk industri pertanian. Kawasan yang kaya keanekaragaman hayati itu ditebangi untuk menciptakan ruang bagi ternak dan tanaman.

Analisis WWF menemukan terdapat 29 lokasi di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara yang bertanggung jawab atas lebih dari separuh hilangnya hutan global.

“Amazon Brasil dan Cerrado, Amazon Bolivia, Paraguay, Argentina, Madagaskar, bersama dengan Sumatera dan Kalimantan di Indonesia dan Malaysia, termasuk di antara yang terkena dampak paling parah,” katanya.

Di wilayah Cerrado Brasil, habitat bagi 5% hewan dan tumbuhan di planet ini, hutan telah dibabat untuk produksi kedelai dan ternak, sehingga menyebabkan hilangnya 32,8% kawasan hutan antara 2004-2017.

Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim mengeluarkan laporan tentang penggunaan lahan pada 2019. Mereka mengungkapkan adanya perdagangan penggunaan lahan. Pada tahun yang sama, panel keanekaragaman hayati PBB mengatakan bahwa 75% dari seluruh daratan di bumi telah rusak parah oleh aktivitas manusia.

Hutan adalah penyerap karbon yang sangat besar, bersama dengan vegetasi lain dan tanah yang menyedot sekitar sepertiga dari semua polusi karbon yang dihasilkan manusia setiap tahun. Namun hutan terus menyusut, mengancam hilangnya keanekaragaman hayati penting Bumi yang tidak dapat diperbaiki.

Saat spesies liar menemukan ruang hidupnya semakin menyusut setiap tahun, risiko terulangnya penyakit zoonosis , seperti pandemi covid -19,  menular ke manusia semakin tinggi.

"Kita harus mengatasi konsumsi yang berlebihan dan memberikan perhatian lebih besar pada kesehatan dan alam, daripada penekanan pada pertumbuhan ekonomi dan keuntungan finansial dengan segala cara," kata Fran Raymond Price, kepala Praktek Hutan di WWF International.

"Ini demi kepentingan terbaik umat manusia, risiko munculnya penyakit baru lebih tinggi di kawasan hutan tropis yang mengalami perubahan tata guna lahan."

Price memperingatkan jika deforestasi tidak segera diatasi, manusia bisa kehilangan kesempatan untuk membantu mencegah pandemi berikutnya.

Selain itu, ada ancaman besar bagi masyarakat adat yang telah hidup dari apa yang disediakan hutan selama berabad-abad atau lebih. Ana Mota da Silva, anggota komunitas Suku Mumbuca di Cerrado,  di mana deforestasi meningkat 13% pada 2020,  mengatakan dia mengkhawatirkan masa depan.

"Mengetahui bahwa sungai-sungai kami mongering dan begitu banyak pohon yang mati, anak, sepupu, dan keturunan saya, tidak akan bisa melihat apa yang telah saya lihat," katanya.

Penelitian terbaru menunjukkan, di luar ambang batas tertentu, penggundulan hutan di lembah Amazon dapat mengubah hutan tropis itu menjadi sabana. (AFP/M-4)

 

BERITA TERKAIT