13 January 2021, 13:56 WIB

Dampak dari Jaring Hiu bagi Satwa Lain di Pantai Afrika


Adiyanto | Weekend

"JARING ini pada dasarnya adalah tirai kematian," kata penyelam Walter Bernardis, saat dia mencapai sisi perahu karetnya untuk menarik jaring yang terayun di perairan subtropis Afrika Selatan bagian timur. Bentangan jaring sepanjang 200 meter itu dimaksudkan untuk melindungi wisatawan yang sedang berjemur di pantai timur dari serangan hiu.

Namun, para konservasionis mengatakan, jaring tersebut telah menjebak sejumlah hewan besar. Tidak hanya hiu, lumba-lumba, duyung, penyu, dan paus juga terjerat alat pengaman tersebut. “Jaring itu adalah sistem pasif yang telah dimasukkan ke dalam air. Segala sesuatu yang menempatkan kepalanya di jaring itu, mati," kata Bernardis, yang berhenti dari pekerjaannya sebagai guru untuk membawa turis bertatap muka dengan hiu, seperti dikutip AFP, Rabu (13/1).

Hiu, predator itu selalu dicap buruk pada 1950-an, ketika serangkaian serangan mematikan membuat orang menjauhi pantai pasir putih yang populer di Provinsi KwaZulu-Natal, yang sekarang menarik lebih dari enam juta pengunjung setiap tahun.

Thriller karya Steven Spielberg pada 1975, "Jaws", menambah ketakutan orang terhadap hewan tersebut dan mencengkeram imajinasi publik dengan representasi yang salah tentang hiu sebagai pemakan daging manusia.

Karena khawatir, industri pariwisata di provinsi itu pun berupaya menjauhkan hiu dari pengunjung pantai yang ketakutan.

Saat ini, ada sekitar  37 pantai dilapisi dengan jaring dan tali drum, tersebar di lebih dari 300 kilometer (190 mil) utara dan selatan ibu kota Provinsi Durban.

Penghalang itu berhasil meyakinkan wisatawan. Kerumunan orang menghabiskan musim panas di belahan bumi selatan di KwaZulu-Natal, memenuhi pantai dengan tenda dan paying,  meskipun akses ke tempat itu dibatasi tahun ini karena wabah korona.

Namun, menurut dewan hiu KwaZulu-Natal (KZN), hiu sebenarnya tidak menakutkan bagi manusia. Kata mereka, tidak ada satu pun kasus serangan hewan tersebut yang dilaporkan di kawasan itu selama lebih dari 67 tahun. Data juga menunjukkan bahwa predator itu jarang menyerang manusia, terlepas dari apakah mereka dipisahkan oleh jaring atau tidak.

Hanya sekitar 100 serangan hiu yang dilaporkan secara global pada 2019, menurut catatan yang dikumpulkan oleh University of Florida. Daging manusia biasanya bukan bagian dari makanan hiu. Mangsa dari predator tersebut biasanya ikan yang lebih kecil dan hewan lain seperti anjing laut dan cumi-cumi.

Hanya lima dari ratusan spesies hiu yang dianggap mengancam manusia, termasuk hiu banteng dan hiu macan yang agresif.

Oleh karena itu, menjauhkannya dari manusia memiliki konsekuensi lain. Setidaknya 400 hiu mati lemas setiap tahun setelah terjebak terlalu lama di jaring dan kail berumpan, kata dewan hiu KZN.

Sekitar 50 di antaranya adalah spesies yang dilindungi oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), seperti hiu putih besar dan kepala martil.

Penyelam dan pemandu wisata hiu, Gary Snodgrass terpaksa mengganti nama salah satu turnya beberapa tahun yang lalu karena penampakan spesies tertentu menjadi langka.

"Kami biasa menyebutnya penyelaman hiu macan. Kini kami tidak bisa menyebutnya hiu macan lagi karena kami jarang melihat mereka ... jumlahnya menurun drastic," kata Snodgrass menjelaskan.

Populasi hiu global terancam oleh perusakan habitat, penangkapan ikan berlebihan, dan perdagangan sirip hiu.

Manusia membunuh sekitar 100 juta hiu setiap tahun, menurut temuan ilmiah yang diterbitkan pada 2013, dan delapan spesies sekarang dilindungi oleh CITES. Padahal, menurut  para ilmuwan dan konservasionis, hewan itu penting bagi ekosistem dan kunci untuk mengatur populasi di laut.

Mereka juga mencatat bahwa jarring penghalang hiu itu hampir tidak efektif, terutama terhadap spesies besar.

Faktanya, para penyelam telah menemukan kebanyakan hewan dapat berenang di bawah jaring, yang hanya sedalam enam meter, dan sering terjebak dalam perjalanan kembali dari garis pantai, daripada saat masuk.

“Jaring pengaman itu memberi sinyal dan rasa aman yang palsu kepada para perenang, bahwa hewan-hewan itu berbahaya , kata Jean Harris, kepala kelompok konservasi Laut Afrika. Yang perlu diubah, kata dia, adalah mindset orang terhadap hewan tersebut. (M-4)

BERITA TERKAIT