10 January 2021, 01:20 WIB

Dedhy Bharoto Trunoyudho: Menghentikan Penyia-nyiaan Makanan


Bagus Pradana | Weekend

PERNAHKAH Anda melihat di pesta pernikahan terdapat banyaknya makanan yang tidak habis? Kondisi itu menjadi masalah pelik karena sering kali keluarga mempelai maupun perusahaan katering tidak mampu memanfaatkan. Akhirnya, makanan tersebut hanya berakhir di tempat sampah.

Kesedihan akan penyia-nyiaan makanan juga lama dirasakan pasangan pengusaha katering asal Surabaya, Dedhy Bharoto Trunoyudho dan Indah Audivtia. Mereka sadar masih ada sekitar 19,4 juta rakyat Indonesia yang kelaparan.

“Kalau dari sudut padang pelaku bisnis opsi membuang makanan itu merupakan opsi paling mudah untuk dilakukan. Kami dulu juga melakukannya, tak tanggung-tanggung kami sering membuang dalam jumlah banyak, enggak cuma sepiring dua piring saja. Tapi setiap kali saya melihat itu kok rasanya enggak pantes ya,” papar Dedhy yang menjadi salah satu bintang tamu Kick Andy episode Niat Jadi Aksi yang tayang hari ini (10/1/2021).

Tidak ingin terus membuang makanan, pasangan suami-istri itu pun mendirikan perusahaan rintisan berupa bank pangan pada 2017. Bernama Garda pangan, perusahaan itu menyalurkan kelebihan makanan dari industri hospitality di Kota Pahlawan itu.

Untuk menjamin kepatutan dan kesehatan, hanya makanan yang layak konsumsi yang disalurkan ke rumah singgah dan pati asuhan. Makanan itu pun mereka kemas ulang dengan layak dan baik.

Sementara itu, makanan yang sudah kedaluwarsa, mereka olah menjadi kompos dan biogas. Pengecekan kualitas ini dilakukan di semua makanan, baik kering maupun basah.

Dedhy mengungkapkan volume makanan yang mereka terima kian bertambah. Akibatnya, tim Garda Pangan harus terus mencari kelompok penerima baru, termasuk ke perumahan padat penduduk dan keluarga prasejahtera.

Merujuk laporan Oktober 2020, Garda Pangan telah menyalurkan sebanyak 151.550 porsi makanan dengan volume sekitar 23 ton kepada 106.073 penerima manfaat. Meski jumlah penerima donasi makanan kian bertambah, di sisi lain terus meningkatkan volume makanan juga membawa keprihatinan. Ini menunjukkan kita perlu lebih cermat dalam konsumsi dan pembelanjaan makanan. Jangan hanya menjadi penyia-nyiaan. (Bus/M-1)

BERITA TERKAIT