10 January 2021, 00:25 WIB

Membincangkan Medium dan Praktik Seni


MI | Weekend

SEBAGAIMANA diketahui, perkembangan medium seni hari ini sudah semakin beragam. Seni telah mengalami transformasi medium dari material ke imaterial, dari objek ke relasi sosial, atau yang dari pasif menjadi peformatif.

Berbicara tentang medium seni, Ruang Mes 56 dan Bakudapan barang kali ialah kelompok yang bisa dijadikan contoh untuk mengetahui bagaimana relasi antara seni, medium, praktik, dan dialog hingga estetika kritis.

Ruang Mes 56 sendiri merupakan kolektif seniman yang fokus pada fotografi kontemporer. Mereka melakukan pendekatan eksploratif atas teori dan praktik fotografi populer. Adapun Bakudapan merupakan kelompok belajar yang membahas gagasan tentang makanan, melalui penelitian, eksplorasi, hingga eksperimen terhadap metode dan bentuk dari seni. Mulai dari pertunjukan, seting, artistik, pameran, hingga praktik keseharian dalam kehidupan seperti memasak, berkebun, dan membaca.

Dua kelompok asal Yogyakarta itu memaparkan pandangannya tentang praktik dan medium seni lebih lanjut di acara Public Lecture: Medium Artistik Kolektif Seni, yang diadakan secara daring oleh Gudskul, Jumat, (8/1).

Menurut Perwakilan Ruang Mes 56, Akiq AW medium seni hari ini sudah lebih dari sekadar lembaran kertas cetak (print).

Praktik dan Medium seni Ruang Mes 56 hingga hari ini, lanjutnya, dapat dibagi menjadi tiga pola yakni produksi karya seni kolektif, produksi pameran atau kuratorial kolektif, dan kehidupan kolektif. Produksi karya seni kolektif dapat dilihat ketika Ruang Mes 56 diundang dalam sebuah pameran bersama (group exhibition).

Sementara itu, produksi pameran atau kuratorial kolektif dapat dilihat ketika Ruang Mes 56 diundang atau menggagas pameran tunggal. “Kehidupan kolektif yang saya lihat itu ya mengelola aspek hidup bersama, mengelola ruang, studio, fasilitias, dan membikin acara-acara yang merespons isu dan peristiwa di sekitar,” katanya.

Bagi Perwakilan Bakudapan, Gatari Surya Kusuma, medium dan praktik seni dimaknai sebagai ruang atau kelompok belajar. Pendekatan belajar bersama diposisikan sebagai akar, yang ketika hendak memulai sebuah proyek, salah satu semangat yang diusung ialah preservasi pengetahuan dari pangan lokal.

“Entah ini menjadi keunikan atau justru kelemahan, semua di antara kami tidak memiliki pengetahuan atau ahli tanaman. Akhirnya kami menghitung praktik riset itu sebagai aktivitas belajar bersama. Jadi kami melakukan ngeramban ilmu, mencoba mencari tahu siapa yang kiranya ahli lalu mengunjungi mereka untuk berdiskusi,” tutur Gatari.

Menariknya, Bakudapan juga tidak menempatkan pengalaman sebagai hierarki pengetahuan dalam praktik artistik atau kolektif. Anggota yang sering pameran atau penelitian maupun sebaliknya selalu punya cara untuk menentukan metode kerja bersama.

Akhirnya, ketika berbicara dinamika seperti itu, lanjut Gatari, Bakudapan selalu mencoba memberikan ruang dan jeda bagi anggota untuk menyampaikan pikiran, misalnya, yang berkenaan dengan proposal hingga karya. Ketika hendak memulai proyek, apa yang diinvestasikan tidak hanya pikiran, tetapi juga energi, kerja peralatan, atau kerja satu sama lain.

“Kami tahu dan tidak mengelak bahwa pengalaman akan selalu menjadi takaran untuk menentukan spektrum pengetahuan dan wawasan. Tapi, juga bagaimana caranya agar bisa sedikit demi sedikit meredupkan hierarki pengetahuan berbasis pengalaman tersebut dengan menciptakan jeda-jeda atau situasi bagi temanteman yang tidak tahu atau merasa tidak cocok,” imbuh Gatari. (Gas/M-4)

BERITA TERKAIT