10 January 2021, 00:10 WIB

Membedah Pertunjukan Tari Kembaran Jiwa


Galih Agus Saputra | Weekend

PEREMPUAN dan pria itu berdiri tegap di depan cermin. Setelah itu, mereka mengayunkan badan seperti gelombang ke kanan dan ke kiri. Adegan itu menjadi salah satu penggalan pertunjukan Kembaran Jiwa yang ditampilkan secara daring akhir tahun lalu.

Kembaran Jiwa ialah pertunjukan tari yang disuguhkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalui Jakarta Dance Extravaganza (JDE) Virtual 2020’. Pertujukan yang lahir dari salah satu program Komite Tari DKJ yakni Jakarta Dance Meet Up (JDMU) ini, beberapa waktu lalu dikupas tim koreografi dalam sesi Berbagi Proses Kreatif.

Sesi bincang berlangsung di kanal Youtube DKJ dengan koreografer JDE seperti Ufa Sofura, Michael Halim, Denny Howman, dan Cikal Mutiara, serta Ara Ajisiwi. Tiap koreografer membedah bagian masing-masing, mulai dari awal hingga akhir pertunjukan tari tersebut.

Adegan yang sempat dibahas di awal paragraf tadi ialah karya Ufa. Judulnya ialah The Awakening and Searching’. Kata Ufa, ia menggunakan cermin sebagai properti untuk menunjukkan personalitas masing-masing. Ini menjadi simbol pencarian jati diri, refleksi, dan percakapan yang ada di dalam diri sendiri.

“Untuk gerakan wave ke kanan dan ke kiri itu aku terinspirasi karena ini kan the searching, pencarian. Jadi wave itu seperti sneaky, seperti detektif yang sedang mencari sesuatu. Makanya dia body wave karena menunjukkan pencarian, mencari sesuatu, sama mengoreksi apa yang kita mau,” tutur Ufa.

Sementara itu, Michael dalam sesi bincangnya membahas ‘The Test’ yang juga menjadi bagian dari Kembaran Jiwa. Dalam koreografi nya, Michael mengawalinya dengan pertemuan perempuan dan laki-laki. Kibaran kain merah menghiasi pertemuan tersebut, menggambarkan cinta membara.

Pertemuan berlanjut dengan beberapa gerakan tarian hingga kemudian tangan sepasang kekasih tersebut dilepaskan sebagai pertanda adanya beda pendapat. Michael mengatakan perbedaan rasanya cukup wajar dalam sebuah hubungan, atau yang dalam koreografi ini ditandai dengan jatuhnya kain merah, sebagai isyarat hubungan mereka sedang tidak harmonis.

“Di sini kita menari sendiri-sendiri, seperti sedang membingungkan masalah masing-masing, bertemu lagi, tapi belum dalam keadaan harmonis. Di sini lalu mulai muncul seseorang yang ditafsirkan sebagai orang ketiga. Jadi kita benar-benar diuji hubungannya,” kata Michael.

Tahap ketiga pertunjukan tari Kembaran Jiwa pada gilirannya menampilkan The Crisis. Koreografi bagian ini selanjutnya dikerjakan Denny bersama Carolin Windy. The Crisis diawali gerakan Windy yang tampak pusing. Ia sedang galau dan tidak tahu arah, yang tak lama kemudian disusul Denny untuk memastikan hubungan.

Gerakan pelukan Denny dan Windy dalam The Crisis digunakan sebagai representasi sisi romantis dua insan. Mereka sebenarnya masih punya kehendak baik dan tak ingin mengakhiri hubungan. “Jadi kalau saya yang mengarahkan, dalam couple itu kan ada men
dan ladies. Dalam tari ballroom itu men adalah lead, dan ladies itu follow. Nah dalam tarian kali ini, meskipun ladies adalah follow, dia harus lebih aktif karena men itu adalah representasi untuk tari perempuannya,” kata Denny.

Tahapan terakhir JDE 2020 ditutup dengan koreografi Ara Ajisiwi yakni The Reunion and Joining. Dalam sesi bincang daringnya, Ara mengatakan bagian terakhir ini seharusnya berisi tarian kebahagiaan.

Ara sendiri berperan layaknya MC perayaan Sweet Seventeen dalam bagian tersebut. Setelahnya ada dua penari yang tampil yakni Nala Armytha dan Komang Aryawan. Mereka adalah Kembaran Jiwa nya, yang saling mencinta. Akan tetapi, cinta mereka terhalang oleh pergaulan masing-masing hingga pada akhirnya Komang depresi dan meninggal dunia.

“Komang akhirnya menjadi kupukupu. Ini terjadi di imajinasi kita, kalau misalnya endingnya film Lala Land, itu ada ending alternatif, nah itu seperti itu. Bagaimana seandainya mereka mengerti satu sama lain, mereka menjadi kupu-kupu, yang lebih berwarna, beragam, dan lebih indah,” tutur Ara.


Lintas genre

JDE kali ini menjadi program yang digelar komite tari DKJ yang menampilkan pertunjukan tari lintas genre. Ara ialah penari dengan gaya brodway, Denny dengan ballroom dance, Ufa lyrical dance, Michael dengan balet, dan tidak ketinggalan Chikal Mutiara Diar yang terkenal dengan tari tradisi.

JDE juga merupakan wadah kolaborasi seniman di berbagai bidang, atau tak hanya melibatkan pelaku seni tari. Menyaksikan JDE ibarat menonton film lantaran penyajian audio-visualnya digarap Sutradara Aji Rahmansyah, Director of Photography (DOP) Bella Panggabean, dan ada juga Sutradara Panggung Musikal Rusdy Rukmarata, serta Produser Bayu Pontiagust.

Menurut Ketua Komite Tari DKJ, Yola Yulfianti, JDE 2020 ialah harapan baru bagi seni pertunjukan Indonesia karena menghadirkan koreografer muda dengan format pementasan yang dibuat khusus.

“Karena saat ini penonton lebih banyak menyaksikan pertunjukan melalui gawai secara daring. Eksistensi panggung diperluas dan melibatkan kerja sama dengan seniman dari wilayah seni lain yang membuat setiap sajian koreografi lebih menarik,” katanya. (M-4)

BERITA TERKAIT